Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hari Ini Ada Hari Lahan Basah Sedunia, PBB Ajak Masyarakat Bergerak

Kompas.com, 2 Februari 2026, 11:15 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hari ini memperingati Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day), yang jatuh setiap 2 Februari.

Tahun ini, badan PBB mengusung tema Lahan basah dan Pengetahuan Tradisional: Merayakan Warisan Budaya untuk menyoroti pentingnya lahan basah secara global serta nilai pengetahuan tradisional.

Baca juga: 

Sebagai informasi, lahan basah atau wetlands adalah area yang tertutupi air secara permanen atau selama beberapa waktu dalam setahun, atau area yang tergenang air atau terendam banjir, dikutip dari World Economic Forum

Lahan basah ini berperan penting dalam tingkat keanekaragaman hayati, serta menjadi area beristirahat banyak spesies burung migran. 

Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day) 2026

Masyarakat diajak berbagi kisah tentang perlindungan lahan basah

Hari ini merupakan peringatan Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day) untuk menekaankan pentingnya perlindungan ekosistem ini. Dok. Wikimedia Commons/DebMurphy Hari ini merupakan peringatan Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day) untuk menekaankan pentingnya perlindungan ekosistem ini.

Hari Lahan Basah Sedunia 2026 mengangkat keterkaitan mendalam antara lahan basah dengan praktik budaya, tradisi, dan sistem pengetahuan masyarakat di dunia.

Kampanye global menyoroti peran abadi pengetahuan tradisional dalam menjaga keberlanjutan ekosistem lahan basah sekaligus melestarikan identitas budaya, dikutip dari laman resmi World Wetlands Day, Senin (2/2/2026).

Sekretaris Jenderal Konvensi Lahan Basah, Musonda Mumba menyatakan bahwa Hari Lahan Basah Sedunia menjadi momentum penting untuk menyatukan masyarakat global dalam memahami nilai krusial lahan basah sebagai penopang kehidupan di bumi.

"Tema tahun ini adalah tanah dan pengetahuan tradisional, merayakan warisan budaya yang menunjukkan peran tanah tradisional dalam menahan ekosistem tanah dan mengekalkan identitas budaya," kata Mumba.

Melalui peringatan Hari Lahan Basah Sedunia 2026, masyarakat di seluruh dunia diajak untuk berbagi kisah nyata tentang bagaimana pengetahuan tradisional telah membantu melindungi dan merawat lahan basah.

PBB, lanjut Mumba, mendorong berbagi contoh praktik terbaik dalam pengelolaan lahan basah yang mengintegrasikan sistem pengetahuan masyarakat adat dan lokal.

Upaya tersebut mencakup berbagai tindakan, mulai dari pilihan individu, kegiatan komunitas, hingga program edukasi dan advokasi.

Setiap orang, dengan caranya masing-masing, dinilai dapat memberikan dampak positif bagi masa depan lahan basah dunia.

Baca juga: Burung Rusia dan China Migrasi ke Jawa Timur, Alih Fungsi Lahan Basah Ancam Habitatnya

Hari ini merupakan peringatan Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day) untuk menekaankan pentingnya perlindungan ekosistem ini. Dok. Wikimedia Commons/Raslan Hussein Hari ini merupakan peringatan Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day) untuk menekaankan pentingnya perlindungan ekosistem ini.

Menurut Mumba, dengan menghormati dan belajar dari pengetahuan tradisional, dunia tidak hanya berupaya menyelamatkan lahan basah, tetapi juga memperkuat budaya dan sistem pengetahuan yang menopang keberlanjutan ekosistem.

"Setelah kita merayakan Hari Lahan Basah Sedunia 2026, biarkan kami mengakui sistem pengetahuan yang diperlukan untuk membentuk lahan basah yang beresiliensi, dan komunitas yang berkembang hari ini dan untuk generasi yang akan datang," tutur Mumba.

Baca juga:

Hampir 90 persen lahan basah di dunia alami penurunan

Hari Lahan Basah Sedunia turut menandai peringatan diadopsinya Konvensi tentang Lahan Basah yang disepakati sebagai perjanjian internasional pada 1971.

Majelis Umum PBB mengadopsi Resolusi 75/317 yang menetapkan 2 Februari sebagai Hari Lahan Basah Sedunia pada 30 Agustus 2021.

Konvensi mencatat, hampir 90 persen lahan basah di dunia telah mengalami degradasi sejak tahun 1700-an, dan saat ini manusia sudah kehilangan lahan basah dengan laju tiga kali lebih cepat dibandingkan hutan.

Padahal, lahan basah merupakan ekosistem yang sangat penting lantaran berkontribusi terhadap keanekaragaman hayati, mitigasi, adaptasi perubahan iklim, ketersediaan air tawar, dan perekonomian global.

Maka dari itu, peningkatan kesadaran di tingkat nasional dan global tentang lahan basah untuk membalikkan laju kehilangan yang cepat serta mendorong upaya konservasi dan restorasi harus dilakukan.

PBB menilai, Hari Lahan Basah Sedunia menjadi momentum yang ideal meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai ekosistem yang sangat penting ini.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau