Penulis
KOMPAS.com - Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, dataran tinggi sebaiknya dipertahankan sebagai hutan. Menurut dia, pilihan ini jauh lebih aman dibandingkan menanam palawija atau tanaman hortikultura guna menghindari bencana longsor.
"Bagian yang tinggi selalu lebih baik menjadi hutan daripada menjadi tanaman palawija karena bahayanya lebih tinggi," kata Hanif, dilansir dari Antara, Senin (2/2/2026).
Baca juga:
Kawasan dengan ketinggian tertentu, menurut Hanif, memiliki risiko bencana yang lebih besar. Oleh karena itu, penggunaan lahannya harus lebih hati-hati.
Ia menilai hutan memiliki fungsi perlindungan alami yang tidak bisa digantikan oleh tanaman semusim.
Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq menilai dataran tinggi lebih aman dijadikan hutan daripada palawija untuk mencegah risiko longsor.Menurut Hanif, kecenderungan pemanfaatan dataran tinggi saat ini justru mengarah pada penanaman tanaman subtropis. Beberapa contohnya adalah kentang, kol, dan paprika.
Tanaman tersebut umumnya membutuhkan lahan di ketinggian antara 800 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut.
Ia menyampaikan bahwa perluasan tanaman hortikultura di dataran tinggi terjadi karena tingginya kebutuhan pangan masyarakat.
Permintaan terhadap jenis pangan tersebut mendorong alih fungsi lahan yang seharusnya dilindungi. Kondisi ini, menurut dia, perlu menjadi bahan evaluasi bersama.
Hanif pun mengajak masyarakat untuk memikirkan ulang pola konsumsi.
"Ini imbauan saya tentu mau enggak mau juga kita harus memikirkan ulang pola makan kita, mengurangi, mohon maaf ya, mengurangi tanaman-tanaman subtropis semisal kentang, kol, paprika," ucap dia.
Baca juga:
Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq menilai dataran tinggi lebih aman dijadikan hutan daripada palawija untuk mencegah risiko longsor.Hanif menambahkan bahwa tanaman hortikultura tersebut sejatinya bukan tanaman endemi Indonesia. Tanaman itu tidak berasal dari kondisi alam tropis yang menjadi ciri utama wilayah Indonesia.
Maka dari itu, penanamannya di dataran tinggi membutuhkan pengelolaan intensif dan berisiko terhadap stabilitas lahan.
Sebagai alternatif, Hanif mendorong penggunaan tanaman khas Indonesia. Menurut dia, tanaman lokal dinilai lebih selaras dengan kondisi tanah dan iklim setempat.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya