Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jejak Muhsin, Kembangkan Peternakan Ramah Lingkungan

Kompas.com, 3 Februari 2026, 18:25 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

Untuk menjawab celah tersebut, Muhsin mengembangkan chamber system berbasis Internet of Things (IoT) untuk mengukur emisi gas rumah kaca pada ternak ruminansia.

“Alat ini digunakan untuk membandingkan emisi metana dari berbagai jenis pakan. Dari situ, kita bisa merancang suplemen yang menurunkan emisi. Alat ini sudah dipatenkan,” ujarnya.

Melalui risetnya, Muhsin mengembangkan formulasi pakan ayam yang mampu menjaga kualitas daging, meningkatkan kesehatan ternak, sekaligus menurunkan kadar nitrogen dan amonia. Salah satu inovasi terbarunya adalah kombinasi pakan ayam rendah protein dengan black soldier fly oil (BSFO) atau minyak maggot untuk ayam broiler.

Hasilnya, kadar lemak dan kolesterol daging ayam menurun, sementara kandungan proteinnya meningkat. Formulasi ini juga menurunkan emisi amonia, sehingga lingkungan kandang lebih sehat.

“Penelitian yang masih dalam proses paten ini sejalan dengan prinsip peternakan unggas ramah lingkungan,” tandas Muhsin yang melakukan riset ini melalui program pascadoktoral di University of Arkansas, Amerika Serikat.

Dari Laboratorium untuk Masyarakat

Riset peternakan berkelanjutan yang dikembangkan Muhsin tidak berhenti di laboratorium. Inovasi tersebut diterapkan melalui kemitraan dengan masyarakat dan industri, serta telah diserap pasar.

Implementasi dilakukan di berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Salah satunya melalui kerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Putro Manggolo di Desa Kadilanggon, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten.

BUMDes ini memproduksi pakan ternak berbasis teknologi rumen undegradable nutrients (RUNs) yang dikembangkan Fakultas Peternakan UGM. Kapasitas produksinya mencapai 50–75 ton per bulan dan mendukung program “Kampung Domba” dengan populasi sekitar 100 ekor.

Melalui skema inti-plasma, BUMDes berperan sebagai penyedia pakan sekaligus offtaker hasil ternak. Pusat Pengembangan Ternak UGM menyediakan bibit tanaman pakan, sementara peternak menjalankan pemeliharaan sesuai standar. Selain membuka lapangan kerja, inisiatif ini turut meningkatkan pendapatan asli desa.

"Di Klaten ini yang paling sustain. Kerja samanya dimulai dari nol, bahkan sejak masa pandemi. Kami dampingi pabrik pakan hingga bisa produksi sampai 50 ton. Kini omzetnya mencapai Rp100 juta hingga Rp200 juta per bulan,” kata Muhsin.

Berawal dari Sebuah Tas

Muhsin tak serta merta mencintai peternakan karena hidup di kawasan perdesaan sejak kecil. Lahir di sebuah desa di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, ia sempat bercita-cita sebagai guru, profesi paling bergengsi di desanya.

Baca juga: Krisis Iklim, Peternakan Sapi Perah Harus Modifikasi Suhu Kandang

Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah di kampung halamannya, ia nyaris mengambil studi di kampus pendidikan guru sebelum akhirnya mendaftar ke Fakultas Peternakan di UGM.

Pada 2015, ia menjadi sarjana. Karena prestasinya, ia memperoleh beasiswa untuk program doktoral secara langsung tanpa harus mengikuti studi S2.

Pada 2020 di usia 28 tahun, gelar doktor diraihnya dari UGM lewat riset "Study Aflatoxin Research Trends in Indonesia and Reduction of AflatoxinB1 Toxicity in Broiler".

Muhsin mengenang, salah satu momen paling berkesan saat menjadi mahasiswa baru S1 adalah ketika ia melihat seorang kakak angkatan, dalam sebuah kegiatan kampus, mengenakan tas dengan logo yang menarik, Tanoto Foundation.

Rasa ingin tahu membawanya mencari informasi tentang lembaga filantropi tersebut, hingga akhirnya ia mendaftar beasiswa Tanoto Foundation untuk mendukung studinya.

Muhsin mengaku sempat tak percaya diri dan grogi saat mengikuti seleksi. Sebab, banyak peserta yang menurutnya lebih pintar, dan seleksinya amat ketat. Bermodal prestasi di semester 1 dan keaktifannya berorganisasi, ia akhirnya diterima dan memperoleh beasiswa sejak semester 2 di UGM.

"Tanoto Foundation memberikan saya banyak warna. Saya mendapatkan pelatihan public speaking dan leadership, bahkan sempat terpilih jadi ketua project teknologi waktu itu,” tuturnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
Pemerintah
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Pemerintah
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Pemerintah
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
LSM/Figur
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
BUMN
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
Swasta
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
Swasta
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pemerintah
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Pemerintah
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
Pemerintah
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Pemerintah
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Pemerintah
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
Pemerintah
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pemerintah
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau