Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN: Efektivitas Operasi Modifikasi Cuaca Masih Harus Dikaji

Kompas.com, 4 Februari 2026, 20:12 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dinilai harus dikaji lebih dalam. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eddy Hermawan menyebut OMC banyak dilakukan untuk mengendalikan curah hujan agar tidak turun di wilayah daratan yang rawan banjir.

Awan-awan disemai agar hujan turun di laut guna mengurangi potensi banjir. Namun ia mengatakan cara tersebut bukanlah solusi utama.

"(Misalnya) saya pengin awan itu jatuh hujan di Waduk Jati Luhur supaya ditampung dulu. Siapa yang bisa menjamin kalau awannya setelah itu jatuh di Jati Luhur? Teknologi apa, AI mana misalnya, tidak ada kepastian apapun," ungkap Eddy dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (4/2/2026).

Baca juga: Cuaca Ekstrem Diprediksi Masih Berlanjut, Pemprov DKI Gelar Modifikasi Cuaca

Penyemaian awan, khususnya di wilayah dengan kondisi cuaca ekstrem dan siklon juga memiliki risiko tinggi.

"Oleh karena itu saran saya coba dikaji ulang, deep analysis, deep science, deep, deep, deep, betul enggak (bermanfaat)?" imbuh dia.

Tak hanya mengantisipasi dampak cuaca ekstrem, OMC juga kerap dilakukan untuk membuat hujan buatan saat kemarau. Eddy mengatakan, proses ini dilakukan dengan menyemai bahan tertentu seperti garam (NaCl) ke dalam awan.

Akan tetapi, tanpa perhitungan matang, upaya tersebut kemungkinan besar tidak efektif dan hanya sekadar membuang-buang anggaran.

"Konsep dasar hujan buatan itu adalah dikaji lebih mendalam, supaya tepat waktu, kapan, dan di mana," tutur Eddy.

Baca juga: Hujan Ekstrem Bikin Jakarta Dikepung Banjir, Pakar Ingatkan RTH Perlu Dikaji Ulang

Sebagai informasi, Jakarta menjadi salah satu wilayah digelarnya OMC untuk mengantisipasi banjir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta menerbangkan pesawat CASA 212-200 TNI Angkatan Udara A-2105 yang berpangkalan di Lanud Halim Perdanakusuma untuk membawa bahan semai, Selasa (3/2/2026).

“Penyemaian awan dilakukan berdasarkan analisis kondisi atmosfer dan pemantauan cuaca secara intensif. Sehingga potensi hujan dapat diarahkan ke wilayah yang lebih aman dan tidak membebani DKI Jakarta,” kata Isnawa dalam keterangannya.

Pada penerbangan pertama penyemaian awan dilakukan di Kabupaten Bogor dengan target awan stratocumulus (Sc), stratus (St), dan cumulus humilis dengan ketinggian 7.000-8.000 kaki. Petugas menebar bahan semai kalsium oksida (CaO) sebanyak 800 kilogram.

Sorti kedua pada ketinggian 9.100–9.400 kaki digunakan bahan semai NaCl sebanyak 800 kilogram. Kemudian, sorti ketiga dilaksanakan sore hari dengan menyemai awan di Lebak, Banten dengan bahan semai CaO sebanyak 800 kilogram.

Jakarta Langganan Banjir

Sementara itu, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santosa menyatakan hampir seluruh wilayah Jakarta berpotensi banjir akibat penurunan muka tanah dan perubahan tata guna lahan.

Dia mencatat, penurunan muka tanah di Jakarta berkisar antara 1 hingga belasan sentimeter per tahun. Dalam jangka panjang, kondisi ini menyebabkan daratan lebih rendah dibandingkan permukaan laut saat pasang.

Penurunan muka tanah terjadi karena dua faktor yakni alamiah dan aktivitas manusia.

"Lapisan tanah Jakarta adalah aluvial, endapan-endapan yang datang ke Jakarta, kemudian tertimbun dan mengeras, sehingga kita hidup di lapisan aluvial. Ketika lapisan aluvial tersebut dibebani dengan bangunan 22 lantai bisa dibayangkan bebannya, maka terjadi kompaksi di sana pelan-pelan menurun," beber Budi.

Baca juga: Banjir dan Longsor: Bangkit dari Dua Lapis Kelemahan

Kondisi ini diperparah dengan masifnya pengambilan air tanah sehingga menurunkan tanah di Jakarta.

"Pembuat kebijakan di level pemerintah daerah, bisa saja mereka menetapkan kalau di wilayah yang sudah jelas-jelas tanahnya aluvial berpotensi terjadi penurunan muka tanah, jangan ambil air tanah," tutur dia.

Karenanya, pemerintah harus mengantisipasi dengan menyediakan air perpipaan yang layak untuk masyarakat. Di samping itu, alih fungsi lahan juga memperparah risiko banjir.

Kawasan hijau yang berubah menjadi permukiman dan beton mengurangi daya serap tanah, menyebabkan air hujan langsung mengalir ke sungai lalu melimpas ke daratan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau