Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Batalnya Pensiun Dini PLTU Cirebon-1: Transisi Energi Layu Sebelum Berkembang

Kompas.com, 6 Februari 2026, 10:09 WIB
Danur Lambang Pristiandaru,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

CIREBON, KOMPAS.com – Perahu 2 gross ton bermesin diesel berlayar pelan di melawan muara Kali Citemu, Sabtu (10/1/2025) siang. Dengan tiga nelayan di atas dek, salah satunya menakhodai kemudi itu melewati seratusan kapal yang terparkir di sepanjang muara sungai di Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, tersebut.

Melihat perahu itu menepi, Sutirno (52) bergegas menghampiri. Dahinya mengernyit, rajungan yang terjerat jaring hanya 15 ekor. “Paling dapat berapa kilogram ini. Perbekalan saja berapa, habis ini,” celetuknya.

Pikirannya melayang, dia mengkalkulasi pendapatan dari hasil perahunya itu. Dengan harga rajungan sekitar Rp 300.000 per kilogram, uang yang didapatkan harus dibagi dengan tiga nelayan yang melaut, solar, dan perbekalan.

Sekitar 2 kilometer dari muara Sungai Citemu, cerobong Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon-1 memuntahkan asapnya. PLTU yang berdiri sejak 2012 tersebut memiliki peran penting bagi 56,8 juta pelanggan listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Jawa, Madura, dan Bali menurut Statistik PLN 2024.

Bersama PLTU Cirebon-2, listrik yang dibangkitkan dari kedua pembangkit milik Cirebon Power itu dinikmati oleh industri, bisnis, dan rumah tangga yang tersambung jaringan interkoneksi Jawa-Bali milik PLN.

Dari pembangkit PLTU Cirebon-1 yang berkapasitas 660 megawatt (MW) itu terhampar fasilitas jetty atau dermaga pengangkutan batubara dengan panjang sekitar 2 kilometer dari bibir pantai. 

Sebelum kehadiran PLTU tersebut, Sutirno dan nelayan lainnya hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke area tangkap rajungan. Namun sejak PLTU dibangun dan beroperasi hingga kini, waktu tempuhnya bisa bertambah sekitar 2 jam karena harus memutari jetty untuk sampai ke area tangkap.

Tak jarang mereka harus berangkat lebih awal agar bisa mencapai area tangkap rajungan tepat waktu. Sebab bila telat, bisa dipastikan jumlah rajungan yang mereka dapatkan tidaklah banyak. 

“Solarnya nambah antara satu sampai dua liter setiap melaut karena (harus) memutar,” kata Sutirno kepada Kompas.com.

Di samping itu, tangkapan rajungan juga mengalami ketidakpastian karena mereka harus melaut lebih jauh. Terkadang dalam satu hari, hanya segelintir saja rajungan yang mereka dapatkan.

Di Desa Waruduwur, permasalahan serupa dialami Warcita. Sebelum PLTU hadir, Warcita bisa melaut dekat dari bibir pantai, bahkan dalam satu hari mampu mencari rajungan hingga dua kali ketika musim sedang bagus.

Kini, dia harus melaut lebih jauh. Kondisi itu mau tak mau membuat kebutuhan solar meningkat. Menurut Warcita, konsumsi solar per sekali melaut kini menjadi sekitar 15 liter, meningkat 5 liter dibanding sebelumnya ketika area tangkap masih dekat bibir pantai.

Perubahan jarak juga memaksa nelayan beradaptasi dengan kondisi laut yang lebih berat, terutama gelombang yang lebih besar. Perahu kecil sepanjang dua meter yang dulu lazim digunakan nelayan Waruduwur kini tidak lagi aman.

“Takut ombaknya besar. Kalau perahu kecil ya enggak bisa. Carinya (rajungan semakin) jauh,” kata Warcita.

Ukuran perahu yang membesar juga membawa konsekuensi lanjutan. Jika dahulu satu nelayan bisa mengoperasikan satu perahu secara mandiri, kini satu perahu harus diisi dua hingga tiga orang. Bertambahnya jumlah nelayan dalam satu perahu otomatis membuat hasil tangkapan harus dibagi lebih banyak.

Tekanan ekonomi akibat perubahan ini tidak hanya dirasakan oleh nelayan rajungan, tetapi juga nelayan yang mendapatkan penghasilan tambahan di pesisir.

Sarina, nelayan Waruduwur lainnya, menggantungkan hidup dari rajungan sekaligus budidaya kerang hijau sebagai penghasilan sampingan. Usaha tambak kerang hijau yang pernah menjadi penopang ekonomi keluarganya kini tinggal cerita.

Sejak PLTU beroperasi, Sarina beberapa kali mengalami gagal panen karena lokasi keramba kerang hijau berada dekat dengan jetty PLTU. Dalam satu karamba, dia membutuhkan modal minimal Rp 12 juta, dengan biaya terbesar berasal dari bambu dan tambang sebagai penyangga.

Masa panen kerang hijau mencapai lima bulan. Pernah suatu ketika, dia memasang keramba kerang hijau. Namun setelah menunggu lima bulan, panenannya gagal, uang Rp 12 juta menguap begitu saja.

“Pada mati semua itu (kerang hijaunya). Tinggal cangkangnya saja,” tutur Sarina.

Kegagalan itu membuat Sarina terpaksa menghentikan usaha kerang hijau dan kini hanya bergantung pada hasil rajungan yang juga semakin tidak menentu.

Sejak PLTU Cirebon-1 dibangun pada 2007, baik Sutirno, Warcita, dan Sarina mengaku hanya diberikan sosialisasi singkat. Mereka sempat menolak, dengan alasan bakal mengganggu mata pencaharian. 

Namun, mereka langsung tersadar bahwa percuma saja menentang proyek sebesar itu. Sampai akhirnya, PLTU tersebut dibangun dan beroperasi hingga kini. 

Beban ganda

Deretan kapal nelayan yang bersandar di Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Minggu (11/1/2026).KOMPAS.com/DANUR LAMBANG PRISTIANDARU Deretan kapal nelayan yang bersandar di Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Minggu (11/1/2026).

Ketua Yayasan Santri Alam Progresif (Salam) Siti Latifah mengatakan, nelayan menjadi kelompok yang paling terdampak kehadiran PLTU. Setidaknya ada nelayan dari empat desa terdekat pembangkit yang terkena dampaknya yakni Desa Waruduwur, Desa Kanci Kulon, Desa Citemu, dan Desa Mundu.

Berdasarkan working paper dari Sajogyo Institute dan Salam Institute berjudul Transisi Energi Berkeadilan di Jawa Barat: Studi Kasus PLTU Cirebon I, ada lima perubahan terhadap nelayan dan warga di sekitar permbangkit.

Kelima perubahan tersebut yakni menyusutnya budidaya kerang hijau, menurunnya hasil tangkapan nelayan, hilangnya jenis tangkapan tertentu seperti kerang dara, pencemaran debu terhadap tambak garam, dan meningkatnya biaya melaut.

Warga Desa Waruduwur misalnya, keberadaan jetty PLTU berdampak terhadap keramba kerang hijau yang selama ini menjadi salah satu sumber penghidupan utama nelayan, di samping hasil tangkap rajungan.

“Kerang hijau itu seperti mesin ATM bagi mereka, bisa dipanen terus-menerus, tapi diganti dengan kompensasi yang tidak sebanding,” kata Siti kepada Kompas.com.

Di samping itu, Siti mencatat adanya perubahan ekologis signifikan, mulai dari hilangnya biota laut, hilangnya habitat kerang pasir seperti imser dan ukon, hingga lenyapnya mata pencaharian petani garam dan nelayan kecil.

Dampak ekonomi juga dirasakan kuat oleh perempuan nelayan. Biasanya, perempuan di desa-desa pesisir seperti Waruduwur dan Citemu mengupas rajungan hasil tangkapan suami atau anggota keluarga laki-laki agar nilai jualnya lebih tinggi.

Aktivitas mengupas rajungan pada masa itu hanya memakan waktu satu hingga dua jam per hari dan mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp 50.000 dalam sekali kerja.

Kini, hasil tangkapan laut semakin menurun. Penghasilan nelayan laki-laki pun tidak lagi mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Dalam situasi itu, perempuan berubah menjadi tumpuan utama ekonomi keluarga nelayan. Mereka kini memikul beban ganda sebagai sebagai ibu rumah tangga sekaligus penopang pendapatan keluarga akibat menurunnya hasil tangkapan laut.

Perempuan kini harus mengupas rajungan dari pagi hingga sore di perusahaan pengolahan rajungan dengan penghasilan sekitar Rp 100.000 per hari.

“Kalau tidak ada penghasilan dari ibu, rumah tangga itu tidak bisa jalan,” ujar Siti.

Di satu sisi, PLTU Cirebon-1 dianggap menjadi salah satu pembangkit dari 20 PLTU paling beremisi berdasarkan kajian berjudul Toxic 20 yang digarap oleh sejumlah organisasi masyarakat sipil seperti Celios, CREA, dan Trend Asia. Publikasi tersebut menyatakan PLTU Cirebon-1 dan PLTU Cirebon-2 menghasilkan emisi tahunan sekitar 2,87 juta ton karbon dioksida.

Berdasarkan data dari pemodelan atmosfer, konsentrasi PM2,5 dari PLTU juga tersebar ke daerah-daerah lain seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?
Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?
LSM/Figur
Banyak Negara Gagal Penuhi Target Pengurangan Risiko Pestisida PBB
Banyak Negara Gagal Penuhi Target Pengurangan Risiko Pestisida PBB
LSM/Figur
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
LSM/Figur
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
Swasta
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
LSM/Figur
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
LSM/Figur
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
Swasta
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
Pemerintah
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Pemerintah
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Pemerintah
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
Swasta
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Swasta
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
LSM/Figur
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
LSM/Figur
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau