Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

RDF Rorotan Dinilai Efektif Kurangi Beban Sampah Jakarta

Kompas.com, 6 Februari 2026, 10:29 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pakar permodelan polusi udara–iklim dari Institut Teknologi Nasional Bandung (ITENAS) Didin Agustian Permadi menilai pengoperasian fasilitas refuse derived fuel (RDF) di Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, berpotensi meningkatkan persentase sampah terolah di Jakarta sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.

Menurut Didin, pemanfaatan RDF sebagai bahan bakar alternatif di industri semen, dengan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk sebagai off-taker, dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, terutama pada proses produksi semen yang membutuhkan suhu tinggi.

“RDF itu digunakan untuk mengurangi emisi, terutama pada proses klinker dan tahapan produksi yang memerlukan temperatur tinggi,” ujar Didin.

Baca juga: Bau RDF Rorotan Dikeluhkan, Warga Minta Dilibatkan Jadi Pengawas

Namun, ia menekankan fasilitas RDF perlu dirancang secara komprehensif agar kinerjanya optimal sekaligus meminimalkan dampak lingkungan.

Aspek teknis seperti pengurangan kadar air sampah, pemanfaatan mikroba, hingga sistem pengendalian bau perlu menjadi bagian dari desain fasilitas.

Didin menyebutkan, fasilitas RDF pada prinsipnya dapat dirancang untuk mencegah bau menyebar ke lingkungan sekitar. Penggunaan alat pengendali kebauan (*deodorizer*) yang bekerja dengan menyedot bau menyengat, bukan sekadar menutupi dengan aroma lain, dinilai penting.

“Mungkin untuk jangka pendek alat itu bisa menjawab keluhan masyarakat. Tetapi efektivitasnya perlu diaudit. Idealnya, setelah sampah melalui proses destabilisasi dalam RDF, bau tidak lagi muncul,” katanya.

Kurangi Ketergantungan ke TPS

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan fasilitas RDF Rorotan dibangun untuk mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap TPST Bantargebang.

RDF Plant Rorotan mulai beroperasi sejak akhir Desember 2025 dengan kapasitas terbatas dan dilakukan secara bertahap.

Pada tahap awal, fasilitas tersebut mengolah sekitar 200 ton sampah per hari, kemudian ditingkatkan menjadi 400–600 ton per hari. Kapasitas pengolahan direncanakan naik secara bertahap hingga mencapai 1.000 ton per hari.

Menurut Asep, dari sisi keekonomian, fasilitas RDF dinilai lebih layak dibandingkan proyek pengolahan sampah menjadi energi (PSEL).

RDF Plant Rorotan berdiri di atas lahan seluas 7,87 hektare, memiliki kapasitas pengolahan hingga 2.500 ton sampah per hari, dan ditargetkan menghasilkan RDF minimum 875 ton per hari.

Fasilitas RDF Rorotan melayani 16 kecamatan di Jakarta, meliputi wilayah Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat.

Sementara itu, TPST Bantargebang disebut berada pada kondisi kritis. Berdasarkan kajian Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2025, daya tampung fisik Bantargebang akan habis dalam waktu dekat jika pengelolaan sampah masih mengandalkan penimbunan konvensional.

Secara administratif, operasional TPST Bantargebang tersisa hingga 2026, bergantung pada evaluasi kerja sama antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Bekasi. Saat ini, Bantargebang menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari dari seluruh wilayah Jakarta.

“Usia Bantargebang sudah 40 tahun melayani Jakarta. Dulu rata-rata menerima 2.000–2.500 ton per hari, sekarang hampir 7.500 ton, bahkan pernah mencapai 7.900 ton per hari,” ujar Asep.

Ketinggian timbunan sampah di TPST Bantargebang telah melebihi 50 meter atau setara gedung 16 lantai. Kondisi tersebut dinilai memerlukan pengurangan beban secara signifikan atau upaya lain untuk memperpanjang usia operasionalnya.

Ke depan, fasilitas RDF di Bantargebang direncanakan mengolah 1.000 ton sampah per hari. Selain itu, fasilitas RDF Rorotan ditargetkan mengelola 2.500 ton sampah per hari, serta 17 lokasi tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R) yang diproyeksikan mengolah 427 ton per hari.

Meski demikian, setelah memperhitungkan seluruh fasilitas pengolahan yang direncanakan berjalan optimal, Jakarta masih diperkirakan memiliki sekitar 3.500 ton sampah per hari yang perlu diolah lebih lanjut atau tetap ditimbun di TPST Bantargebang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
LSM/Figur
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
Pemerintah
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Pemerintah
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Swasta
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau