KOMPAS.com - Pakar permodelan polusi udara–iklim dari Institut Teknologi Nasional Bandung (ITENAS) Didin Agustian Permadi menilai pengoperasian fasilitas refuse derived fuel (RDF) di Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, berpotensi meningkatkan persentase sampah terolah di Jakarta sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.
Menurut Didin, pemanfaatan RDF sebagai bahan bakar alternatif di industri semen, dengan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk sebagai off-taker, dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, terutama pada proses produksi semen yang membutuhkan suhu tinggi.
“RDF itu digunakan untuk mengurangi emisi, terutama pada proses klinker dan tahapan produksi yang memerlukan temperatur tinggi,” ujar Didin.
Baca juga: Bau RDF Rorotan Dikeluhkan, Warga Minta Dilibatkan Jadi Pengawas
Namun, ia menekankan fasilitas RDF perlu dirancang secara komprehensif agar kinerjanya optimal sekaligus meminimalkan dampak lingkungan.
Aspek teknis seperti pengurangan kadar air sampah, pemanfaatan mikroba, hingga sistem pengendalian bau perlu menjadi bagian dari desain fasilitas.
Didin menyebutkan, fasilitas RDF pada prinsipnya dapat dirancang untuk mencegah bau menyebar ke lingkungan sekitar. Penggunaan alat pengendali kebauan (*deodorizer*) yang bekerja dengan menyedot bau menyengat, bukan sekadar menutupi dengan aroma lain, dinilai penting.
“Mungkin untuk jangka pendek alat itu bisa menjawab keluhan masyarakat. Tetapi efektivitasnya perlu diaudit. Idealnya, setelah sampah melalui proses destabilisasi dalam RDF, bau tidak lagi muncul,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan fasilitas RDF Rorotan dibangun untuk mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap TPST Bantargebang.
RDF Plant Rorotan mulai beroperasi sejak akhir Desember 2025 dengan kapasitas terbatas dan dilakukan secara bertahap.
Pada tahap awal, fasilitas tersebut mengolah sekitar 200 ton sampah per hari, kemudian ditingkatkan menjadi 400–600 ton per hari. Kapasitas pengolahan direncanakan naik secara bertahap hingga mencapai 1.000 ton per hari.
Menurut Asep, dari sisi keekonomian, fasilitas RDF dinilai lebih layak dibandingkan proyek pengolahan sampah menjadi energi (PSEL).
RDF Plant Rorotan berdiri di atas lahan seluas 7,87 hektare, memiliki kapasitas pengolahan hingga 2.500 ton sampah per hari, dan ditargetkan menghasilkan RDF minimum 875 ton per hari.
Fasilitas RDF Rorotan melayani 16 kecamatan di Jakarta, meliputi wilayah Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat.
Sementara itu, TPST Bantargebang disebut berada pada kondisi kritis. Berdasarkan kajian Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2025, daya tampung fisik Bantargebang akan habis dalam waktu dekat jika pengelolaan sampah masih mengandalkan penimbunan konvensional.
Secara administratif, operasional TPST Bantargebang tersisa hingga 2026, bergantung pada evaluasi kerja sama antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Bekasi. Saat ini, Bantargebang menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari dari seluruh wilayah Jakarta.
“Usia Bantargebang sudah 40 tahun melayani Jakarta. Dulu rata-rata menerima 2.000–2.500 ton per hari, sekarang hampir 7.500 ton, bahkan pernah mencapai 7.900 ton per hari,” ujar Asep.
Ketinggian timbunan sampah di TPST Bantargebang telah melebihi 50 meter atau setara gedung 16 lantai. Kondisi tersebut dinilai memerlukan pengurangan beban secara signifikan atau upaya lain untuk memperpanjang usia operasionalnya.
Ke depan, fasilitas RDF di Bantargebang direncanakan mengolah 1.000 ton sampah per hari. Selain itu, fasilitas RDF Rorotan ditargetkan mengelola 2.500 ton sampah per hari, serta 17 lokasi tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R) yang diproyeksikan mengolah 427 ton per hari.
Meski demikian, setelah memperhitungkan seluruh fasilitas pengolahan yang direncanakan berjalan optimal, Jakarta masih diperkirakan memiliki sekitar 3.500 ton sampah per hari yang perlu diolah lebih lanjut atau tetap ditimbun di TPST Bantargebang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya