Editor
KOMPAS.com - Kondisi green house sekolah yang sudah lama terbengkalai mendorong Sri Windi Akuba, guru di MAN 1 Kabupaten Gorontalo, untuk memulai perubahan.
Sri Windi melibatkan para siswa dalam mengolah limbah bonggol pisang yang melimpah di Gorontalo untuk diolah menjadi pupuk organik cair.
Inovasi proyek Pupuk Organik Cair (POC) bonggol pisang ini berhasil mengantarkannya meraih posisi runner-up pada kategori Waste Management Project dalam kompetisi ASRI 2025.
Baca juga:
Green house tersebut sebenarnya sudah lama berdiri, tapi fungsinya perlahan hilang. Tanaman mati, media tanam menumpuk, dan ruang yang seharusnya menjadi pusat pembelajaran lingkungan itu dibiarkan tidak terurus.
Kondisi tersebut sudah disadari banyak orang, tapi hanya dianggap sebagai hal yang biasa.
Kegelisahan Sri Windi akhirnya muncul ketika nilai-nilai kepedulian lingkungan diajarkan di kelas, sedangkan fasilitas lingkungan di sekolah terbengkalai.
Dari situlah muncul dorongan untuk menghidupkan kembali ruang yang terlupakan itu, bukan sebagai proyek sesaat, tapi sebagai bagian dari proses belajar.
Apakah perubahan harus selalu datang dari kebijakan besar atau bantuan dari luar? Bagi Sri Windi, jawabannya justru ada di hal yang paling dekat.
Pembersihan green house yang selama ini terabaikan menjadi langkah awal yang sederhana, tapi bermakna.
Ia mengajak siswa tidak sekadar membersihkan ruang tersebut, tapi memahami alasan di baliknya. Mengapa green house ini penting? Apa perannya dalam proses belajar?
Dari proses inilah, siswa mulai melihat bahwa ruang belajar tidak hanya berada di dalam kelas, tapi juga bisa tumbuh dari lingkungan yang dirawat bersama.
Baca juga:
Lalu, bagaimana jika sebenarnya solusi itu sudah ada di sekitar kita, tapi selama ini luput dari penglihatan? Pertanyaan itu membawa Sri Windi pada satu kesadaran penting.
Limbah bonggol pisang yang selama ini menumpuk dan terbuang ternyata menyimpan potensi besar karena diolah menjadi pupuk.
Pupuk organik cair berbahan bonggol pisang termasuk pengolahan limbah yang mudah diproduksi, praktis, dan dapat langsung dimanfaatkan. Melalui proses ini, siswa belajar membangun siklus yang berkelanjutan.
Limbah diolah, nutrisi dikembalikan ke tanah, dan green house perlahan kembali hidup sebagai ruang belajar yang aktif.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya