Editor
Dampaknya mulai terasa nyata. Hal ini dilihat dari antusiasme siswa yang meningkat, bahkan keterlibatan mereka dalam kegiatan pembersihan lahan dan perawatan green house juga bertambah hingga dua kali lipat.
Dari aktivitas sederhana ini, tumbuh rasa memiliki dan kepedulian terhadap lingkungan sekolah.
Tidak semua proyek lingkungan mampu bertahan dalam jangka panjang. Lalu, apa yang membuat inovasi ini terus berjalan? Salah satunya adalah proses pembelajaran yang menyertainya.
Dalam rangkaian ASRI Awards, proyek ini tidak hanya dinilai, tapi juga dikembangkan. Melalui pendampingan dan diskusi, Sri Windi merefleksikan pelaksanaan proyek bersama para mentor dan menyempurnakan pendekatan yang dijalankan agar lebih berkelanjutan.
Proses inilah yang membantu melihat proyek secara lebih utuh, bukan sekadar sebagai solusi sesaat.
Di titik tertentu, rasa lelah dan keterbatasan tentu muncul. Progresnya tidak selalu cepat, dan hasilnya juga tidak langsung terlihat.
Namun, setiap perubahan kecil yang tampak di green house menjadi pengingat bahwa upaya yang dilakukan selama ini sudah memiliki dampak yang nyata.
Keyakinan itulah yang membuat Sri Windi memilih untuk terus melanjutkan proyek ini. Baginya, perubahan kecil yang dijaga dengan komitmen jauh lebih bermakna dibandingkan gagasan besar yang tidak pernah diwujudkan.
Baca juga:
Makna terbesar dari proyek ini tidak datang dari penilaian atau pengumuman. Ia hadir pada momen yang jauh lebih sederhana.
Mulai dari green house yang sudah kembali digunakan sebagai ruang belajar, tanaman yang dirawat dengan pupuk organik cair hasil olahan sendiri sudah mulai tumbuh, hingga siswa yang sudah bisa belajar langsung dari proses mereka sendiri.
Bagi Sri Windi, perubahan yang diharapkan tidak hanya pada kondisi green house, tapi juga pada cara berpikir warga sekolah. Ia ingin pengolahan pupuk organik cair dan pemanfaatan green house bisa menjadi bagian dari pembelajaran rutin sehingga siswa lintas angkatan dapat terus terlibat dan belajar dari proses yang sama.
Lebih dari sekadar memperbaiki fasilitas, perubahan yang ingin diwujudkan adalah cara berpikir. Sudah saatnya limbah dipandang sebagai sumber daya sehingga kepedulian terhadap lingkungan sudah menjadi kebiasaan, dan keberlanjutan pun tidak lagi terasa jauh.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya