Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menghidupkan Kembali Green House Sekolah, Guru di Gorontalo Ajak Siswa Belajar dari Limbah

Kompas.com, 6 Februari 2026, 11:44 WIB
Add on Google
Ni Nyoman Wira Widyanti

Editor

KOMPAS.com - Kondisi green house sekolah yang sudah lama terbengkalai mendorong Sri Windi Akuba, guru di MAN 1 Kabupaten Gorontalo, untuk memulai perubahan.

Sri Windi melibatkan para siswa dalam mengolah limbah bonggol pisang yang melimpah di Gorontalo untuk diolah menjadi pupuk organik cair.

Inovasi proyek Pupuk Organik Cair (POC) bonggol pisang ini berhasil mengantarkannya meraih posisi runner-up pada kategori Waste Management Project dalam kompetisi ASRI 2025. 

Baca juga:

Guru di Gorontalo hidupkan kembali green house sekolah

Green house tersebut sebenarnya sudah lama berdiri, tapi fungsinya perlahan hilang. Tanaman mati, media tanam menumpuk, dan ruang yang seharusnya menjadi pusat pembelajaran lingkungan itu dibiarkan tidak terurus.

Kondisi tersebut sudah disadari banyak orang, tapi hanya dianggap sebagai hal yang biasa.

Kegelisahan Sri Windi akhirnya muncul ketika nilai-nilai kepedulian lingkungan diajarkan di kelas, sedangkan fasilitas lingkungan di sekolah terbengkalai.

Dari situlah muncul dorongan untuk menghidupkan kembali ruang yang terlupakan itu, bukan sebagai proyek sesaat, tapi sebagai bagian dari proses belajar.

Dari mana perubahan perlu dimulai?

Apakah perubahan harus selalu datang dari kebijakan besar atau bantuan dari luar? Bagi Sri Windi, jawabannya justru ada di hal yang paling dekat.

Pembersihan green house yang selama ini terabaikan menjadi langkah awal yang sederhana, tapi bermakna.

Ia mengajak siswa tidak sekadar membersihkan ruang tersebut, tapi memahami alasan di baliknya. Mengapa green house ini penting? Apa perannya dalam proses belajar?

Dari proses inilah, siswa mulai melihat bahwa ruang belajar tidak hanya berada di dalam kelas, tapi juga bisa tumbuh dari lingkungan yang dirawat bersama.

Baca juga:

Ketika masalah menyimpan jawabannya sendiri

Lalu, bagaimana jika sebenarnya solusi itu sudah ada di sekitar kita, tapi selama ini luput dari penglihatan? Pertanyaan itu membawa Sri Windi pada satu kesadaran penting.

Limbah bonggol pisang yang selama ini menumpuk dan terbuang ternyata menyimpan potensi besar karena diolah menjadi pupuk. 

Pupuk organik cair berbahan bonggol pisang termasuk pengolahan limbah yang mudah diproduksi, praktis, dan dapat langsung dimanfaatkan. Melalui proses ini, siswa belajar membangun siklus yang berkelanjutan.

Limbah diolah, nutrisi dikembalikan ke tanah, dan green house perlahan kembali hidup sebagai ruang belajar yang aktif.

Dampaknya mulai terasa nyata. Hal ini dilihat dari antusiasme siswa yang meningkat, bahkan keterlibatan mereka dalam kegiatan pembersihan lahan dan perawatan green house juga bertambah hingga dua kali lipat.

Dari aktivitas sederhana ini, tumbuh rasa memiliki dan kepedulian terhadap lingkungan sekolah.

Apa yang membuat sebuah proyek bisa bertahan?

Alat dan Bahan Proyek Inovasi Pupuk Organik Cair (POC) Bonggol Pisang.Dok. Sri Windi Alat dan Bahan Proyek Inovasi Pupuk Organik Cair (POC) Bonggol Pisang.

Tidak semua proyek lingkungan mampu bertahan dalam jangka panjang. Lalu, apa yang membuat inovasi ini terus berjalan? Salah satunya adalah proses pembelajaran yang menyertainya.

Dalam rangkaian ASRI Awards, proyek ini tidak hanya dinilai, tapi juga dikembangkan. Melalui pendampingan dan diskusi, Sri Windi merefleksikan pelaksanaan proyek bersama para mentor dan menyempurnakan pendekatan yang dijalankan agar lebih berkelanjutan.

Proses inilah yang membantu melihat proyek secara lebih utuh, bukan sekadar sebagai solusi sesaat.

Di titik tertentu, rasa lelah dan keterbatasan tentu muncul. Progresnya tidak selalu cepat, dan hasilnya juga tidak langsung terlihat.

Namun, setiap perubahan kecil yang tampak di green house menjadi pengingat bahwa upaya yang dilakukan selama ini sudah memiliki dampak yang nyata.

Keyakinan itulah yang membuat Sri Windi memilih untuk terus melanjutkan proyek ini. Baginya, perubahan kecil yang dijaga dengan komitmen jauh lebih bermakna dibandingkan gagasan besar yang tidak pernah diwujudkan.

Baca juga:

Keberlanjutan yang terasa nyata

Makna terbesar dari proyek ini tidak datang dari penilaian atau pengumuman. Ia hadir pada momen yang jauh lebih sederhana.

Mulai dari green house yang sudah kembali digunakan sebagai ruang belajar, tanaman yang dirawat dengan pupuk organik cair hasil olahan sendiri sudah mulai tumbuh, hingga siswa yang sudah bisa belajar langsung dari proses mereka sendiri.

Bagi Sri Windi, perubahan yang diharapkan tidak hanya pada kondisi green house, tapi juga pada cara berpikir warga sekolah. Ia ingin pengolahan pupuk organik cair dan pemanfaatan green house bisa menjadi bagian dari pembelajaran rutin sehingga siswa lintas angkatan dapat terus terlibat dan belajar dari proses yang sama.

Lebih dari sekadar memperbaiki fasilitas, perubahan yang ingin diwujudkan adalah cara berpikir. Sudah saatnya limbah dipandang sebagai sumber daya sehingga kepedulian terhadap lingkungan sudah menjadi kebiasaan, dan keberlanjutan pun tidak lagi terasa jauh.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau