KOMPAS.com - Limbah cair industri kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) dinilai memiliki emisi gas rumah kaca (GRK) yang jauh lebih rendah dibandingkan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) jika dimanfaatkan sebagai bahan baku bioavtur atau sustainable aviation fuel (SAF).
Berdasarkan skema Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA), SAF berbasis POME memiliki *life cycle emission factor* (LCEF) sebesar 18,1 gram CO?e per megajoule (gCO?e/MJ). Angka ini jauh di bawah emisi avtur berbasis fosil yang mencapai 89 gCO?e/MJ, atau setara dengan penurunan emisi sekitar 79,6 persen.
Kepala Divisi Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) Dimas H. Pamungkas mengatakan rendahnya emisi SAF berbasis POME disebabkan tidak adanya beban emisi dari alih fungsi lahan tidak langsung (indirect land use change/ILUC).
Baca juga: Limbah Cair Sawit dari RI Diterima sebagai Bahan Bakar Pesawat Berkelanjutan
“POME merupakan residu yang tidak bisa dihindari dari proses pengolahan tandan buah segar kelapa sawit. Karena itu, emisi siklus hidupnya jauh lebih rendah dan ini menjadi peluang penting bagi Indonesia,” ujar Dimas di Depok, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026).
Menurut Dimas, POME yang diusulkan Indonesia sebagai bahan baku SAF telah diterima oleh International Civil Aviation Organization (ICAO) dan masuk dalam daftar positif bahan baku SAF pada November 2025. ICAO mengklasifikasikan POME sebagai residu, sehingga memenuhi kriteria CORSIA untuk bahan bakar rendah emisi.
Secara potensi, kandungan minyak yang dapat dipulihkan dari POME berkisar 0,76–2,8 persen dari total berat tandan buah segar (TBS). Dengan produksi TBS Indonesia sekitar 138 juta ton per tahun, potensi minyak dari POME diperkirakan mencapai sekitar 1,5 juta ton per tahun.
Selain POME, SAF berbasis CPO juga masih dinilai layak sepanjang proses produksinya dilengkapi fasilitas methane capture untuk menekan emisi GRK. SAF berbasis CPO memiliki nilai LCEF sekitar 76,5 gCO?e/MJ atau sekitar 14 persen lebih rendah dibandingkan avtur fosil. Namun, penurunan emisi dari POME dinilai jauh lebih signifikan.
Berdasarkan riset International Air Transport Association (IATA), SAF berbasis CPO berpotensi berkontribusi hingga 65 persen dalam upaya dekarbonisasi industri penerbangan.
Seiring dengan penerapan standar CORSIA, permintaan SAF global diperkirakan terus meningkat dan secara bertahap menggantikan avtur berbasis fosil.
Sementara itu, World Economic Forum (WEF) memproyeksikan kebutuhan SAF global pada 2050 dapat mencapai 515 juta kiloliter. Di Indonesia, konsumsi avtur saat ini sekitar 5 juta kiloliter per tahun.
“Angka Indonesia memang kecil dibandingkan kebutuhan global, tetapi kita punya keunggulan bahan baku. Karena itu, Indonesia perlu mulai mengambil peran sebagai produsen SAF,” kata Dimas.
Baca juga: Tekan Emisi, Anak Usaha TAPG Olah Limbah Cair Sawit Jadi Listrik dan Pupuk Organik
Untuk dapat dikategorikan sebagai SAF, bahan bakar harus memenuhi standar ASTM D7566 dan ASTM D1655, dengan total emisi setidaknya 10 persen lebih rendah dibandingkan avtur fosil. Salah satu teknologi yang digunakan untuk mengolah bahan baku sawit menjadi SAF adalah hydroprocessed esters and fatty acids (HEFA).
Selain pengakuan standar, pengelolaan lingkungan juga menjadi syarat penting. Emisi metana dari POME, misalnya, harus dikelola melalui pembangkit listrik tenaga biogas agar tidak dilepas ke atmosfer.
Dimas menambahkan, meski sawit dan kelapa menjadi sumber utama, Indonesia juga perlu mendiversifikasi bahan baku SAF.
Beberapa sumber lain yang dinilai potensial antara lain minyak jelantah (used cooking oil/UCO), palm fatty acid distillate (PFAD), serta minyak kelapa non-standar (NSC).
“Dengan kekayaan sumber bahan baku tersebut, Indonesia memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam pengembangan SAF global sekaligus mendorong ekonomi sirkular berbasis sumber daya domestik,” ujar Dimas.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya