Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Pangkas Signifikan Emisi Industri Penerbangan

Kompas.com, 6 Februari 2026, 17:21 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Limbah cair industri kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) dinilai memiliki emisi gas rumah kaca (GRK) yang jauh lebih rendah dibandingkan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) jika dimanfaatkan sebagai bahan baku bioavtur atau sustainable aviation fuel (SAF).

Berdasarkan skema Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA), SAF berbasis POME memiliki *life cycle emission factor* (LCEF) sebesar 18,1 gram CO?e per megajoule (gCO?e/MJ). Angka ini jauh di bawah emisi avtur berbasis fosil yang mencapai 89 gCO?e/MJ, atau setara dengan penurunan emisi sekitar 79,6 persen.

Kepala Divisi Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) Dimas H. Pamungkas mengatakan rendahnya emisi SAF berbasis POME disebabkan tidak adanya beban emisi dari alih fungsi lahan tidak langsung (indirect land use change/ILUC).

Baca juga: Limbah Cair Sawit dari RI Diterima sebagai Bahan Bakar Pesawat Berkelanjutan

“POME merupakan residu yang tidak bisa dihindari dari proses pengolahan tandan buah segar kelapa sawit. Karena itu, emisi siklus hidupnya jauh lebih rendah dan ini menjadi peluang penting bagi Indonesia,” ujar Dimas di Depok, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026).

Menurut Dimas, POME yang diusulkan Indonesia sebagai bahan baku SAF telah diterima oleh International Civil Aviation Organization (ICAO) dan masuk dalam daftar positif bahan baku SAF pada November 2025. ICAO mengklasifikasikan POME sebagai residu, sehingga memenuhi kriteria CORSIA untuk bahan bakar rendah emisi.

Secara potensi, kandungan minyak yang dapat dipulihkan dari POME berkisar 0,76–2,8 persen dari total berat tandan buah segar (TBS). Dengan produksi TBS Indonesia sekitar 138 juta ton per tahun, potensi minyak dari POME diperkirakan mencapai sekitar 1,5 juta ton per tahun.

Selain POME, SAF berbasis CPO juga masih dinilai layak sepanjang proses produksinya dilengkapi fasilitas methane capture untuk menekan emisi GRK. SAF berbasis CPO memiliki nilai LCEF sekitar 76,5 gCO?e/MJ atau sekitar 14 persen lebih rendah dibandingkan avtur fosil. Namun, penurunan emisi dari POME dinilai jauh lebih signifikan.

Berdasarkan riset International Air Transport Association (IATA), SAF berbasis CPO berpotensi berkontribusi hingga 65 persen dalam upaya dekarbonisasi industri penerbangan.

Seiring dengan penerapan standar CORSIA, permintaan SAF global diperkirakan terus meningkat dan secara bertahap menggantikan avtur berbasis fosil.

Sementara itu, World Economic Forum (WEF) memproyeksikan kebutuhan SAF global pada 2050 dapat mencapai 515 juta kiloliter. Di Indonesia, konsumsi avtur saat ini sekitar 5 juta kiloliter per tahun.

“Angka Indonesia memang kecil dibandingkan kebutuhan global, tetapi kita punya keunggulan bahan baku. Karena itu, Indonesia perlu mulai mengambil peran sebagai produsen SAF,” kata Dimas.

Baca juga: Tekan Emisi, Anak Usaha TAPG Olah Limbah Cair Sawit Jadi Listrik dan Pupuk Organik

Untuk dapat dikategorikan sebagai SAF, bahan bakar harus memenuhi standar ASTM D7566 dan ASTM D1655, dengan total emisi setidaknya 10 persen lebih rendah dibandingkan avtur fosil. Salah satu teknologi yang digunakan untuk mengolah bahan baku sawit menjadi SAF adalah hydroprocessed esters and fatty acids (HEFA).

Selain pengakuan standar, pengelolaan lingkungan juga menjadi syarat penting. Emisi metana dari POME, misalnya, harus dikelola melalui pembangkit listrik tenaga biogas agar tidak dilepas ke atmosfer.

Dimas menambahkan, meski sawit dan kelapa menjadi sumber utama, Indonesia juga perlu mendiversifikasi bahan baku SAF.

Beberapa sumber lain yang dinilai potensial antara lain minyak jelantah (used cooking oil/UCO), palm fatty acid distillate (PFAD), serta minyak kelapa non-standar (NSC).

“Dengan kekayaan sumber bahan baku tersebut, Indonesia memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam pengembangan SAF global sekaligus mendorong ekonomi sirkular berbasis sumber daya domestik,” ujar Dimas.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bahaya Kabut Asap, Risiko Tinggi Menanti Indonesia dan Negara Tetangga
Bahaya Kabut Asap, Risiko Tinggi Menanti Indonesia dan Negara Tetangga
LSM/Figur
Investasi Swasta untuk Kelestarian Alam Naik Lima Kali Lipat dalam 10 Tahun
Investasi Swasta untuk Kelestarian Alam Naik Lima Kali Lipat dalam 10 Tahun
Pemerintah
Atasi Dampak Buruk Pusat Data, Kota-kota di Dunia Sepakati Perjanjian Global
Atasi Dampak Buruk Pusat Data, Kota-kota di Dunia Sepakati Perjanjian Global
Pemerintah
Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera, IESR Waspadai Risiko El Nino
Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera, IESR Waspadai Risiko El Nino
LSM/Figur
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Pemerintah
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Pemerintah
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Pemerintah
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Swasta
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Pemerintah
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau