Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pesut Mahakam Terancam Punah dan Tinggal 66 Ekor, KLH Siapkan Langkah Darurat

Kompas.com, 9 Februari 2026, 09:11 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Antara, IUCN

KOMPAS.com - Pesut mahakam (Orcaella brevirostris) terancam punah. Maka dari itu, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyiapkan langkah darurat untuk menyelamatkan satwa air tawar ini.

"Pemerintah harus bergerak serius. Kondisi pesut kita sangat memprihatinkan karena populasinya kini hanya tinggal sekitar 66 ekor saja," kata Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup, Rasio Ridho Sani saat peninjauan di Kalimantan Timur, dilansir dari Antara, Senin (9/2/2026).

Baca juga:

Pesut mahakam merupakan mamalia air tawar endemik Sungai Mahakam. Satwa ini hanya hidup di perairan tertentu di Kalimantan Timur.

Pesut mahakam terancam punah

Satwa yang dikenal sebagai Irrawaddy Dolphin terakhir kali dievaluasi oleh International Union for Consevation of Nature (IUCN) tahun 2017. Populasinya menurun dan statusnya endangered (terancam punah).

Berdasarkan data pemantauan terbaru hingga awal Februari 2026, jumlah pesut yang tersisa di habitat alaminya diperkirakan hanya 66 ekor.

Angka ini menunjukkan penurunan drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Situasi ini menempatkan Pesut mahakam dalam fase sangat kritis.

Adapun peninjauan lapangan tersebut dilakukan bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kegiatan ini juga melibatkan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur, Sekretariat Kabupaten Kutai Kartanegara, serta Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI). Kolaborasi ini dinilai penting karena ancaman terhadap pesut bersifat kompleks.

Baca juga:

Kerusakan habitat dan aktivitas manusia

KLH siapkan langkah darurat untuk menyelamatkan Pesut Mahakam yang kini hanya tersisa 66 ekor di Sungai Mahakam.Dok. RASI (Danielle Kreb) KLH siapkan langkah darurat untuk menyelamatkan Pesut Mahakam yang kini hanya tersisa 66 ekor di Sungai Mahakam.

Rasio menuturkan, penurunan populasi pesut mahakam disebabkan oleh kerusakan habitat yang terus terjadi. Aktivitas manusia dan industri saling tumpang tindih di sepanjang Sungai Mahakam.

Salah satu ancaman utama berasal dari alih fungsi lahan dan pembukaan kawasan di wilayah hulu. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas air sungai.

Selain itu, aktivitas pertambangan batu bara juga memperburuk kondisi habitat pesut. Limbah dan sedimentasi dinilai memengaruhi ekosistem perairan.

Ancaman lainnya datang dari padatnya lalu lintas transportasi sungai. Ponton batu bara yang melintas di Sungai Mahakam diduga mengganggu navigasi pesut.

Aktivitas ini juga berpotensi merusak habitat kritis yang dibutuhkan pesut untuk hidup dan berkembang biak.

"Kita harus mengantisipasi berbagai ancaman ini secara komprehensif, baik yang bersumber dari kegiatan korporasi maupun aktivitas masyarakat di sepanjang aliran Sungai Mahakam," ucap Rasio.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau