KOMPAS.com - Ketika pasar global mulai mundur dari komitmen lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG), Asia Tenggara justru bergerak ke arah yang berlawanan: memperkuat regulasi dan investasi hijau.
Laporan terbaru dari Maybank Investment Banking Group (Maybank IBG) itu menyebutkan kawasan Asia Tenggara sedang mengubah keberlanjutan menjadi sumber keuntungan yang terukur bagi para investor.
Melansir Know ESG, Senin (9/2/2026) laporan menemukan meski sentimen ESG Global melemah tajam pada 2025, ASEAN terus meningkatkan kualitas ESG dan memberi imbalan bagi investor.
Secara global, dana berkelanjutan mencatat penarikan modal bersih yang signifikan, dan 71 persen indeks berbasis ESG gagal mengalahkan tolok ukur mereka.
Sebaliknya, perusahaan-perusahaan di ASEAN dengan risiko yang lebih rendah secara konsisten mengungguli kinerja pasar domestik mereka.
Baca juga: BMI Luncurkan Data Risiko Iklim dan ESG Tingkat Negara
Laporan juga menyoroti adanya celah kinerja yang nyata antara pasar ASEAN dan pasar global.
Perusahaan-perusahaan dalam lingkup ASEAN 6 yaitu perusahaan yang dinilai memiliki risiko ESG tingkat sangat kecil, rendah atau menengah di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam, menghasilkan imbal hasil berlebih dalam periode satu, tiga, dan lima tahun jika dibandingkan dengan indeks negara MSCI.
Selama setahun terakhir, perusahaan-perusahaan ini mengungguli pasar sebesar 16,8 persen. Selama tiga tahun, imbal hasil berlebih berada di angka 6,7 persen, sementara kinerja lima tahun menunjukkan keuntungan sebesar 6,3 persen.
Secara khusus, 68 persen perusahaan di ASEAN-6 kini termasuk dalam kategori risiko ESG yang dapat dikelola, di mana perusahaan-perusahaan besar dan yang penting secara sistemik memimpin transisi tersebut.
Di seluruh ASEAN-6, obligasi dan pinjaman berkelanjutan mencapai 51 miliar dolar AS pada tahun 2025, yang mewakili 3,5 persen dari penerbitan global. Singapura mempertahankan posisinya sebagai pusat keuangan berkelanjutan utama di kawasan ini, memimpin dalam obligasi dan pinjaman hijau.
Baca juga: Preferensi Investor Bergeser ke Skrining ESG Positif, Ini Penjelasannya
Indonesia dan Malaysia juga memperluas pangsa penyaluran kredit berkelanjutan mereka, yang menandakan keterlibatan yang lebih dalam pada pembiayaan transisi.
Indonesia sendiri menghadapi perkiraan kebutuhan investasi sebesar 472,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp7.400 triliun untuk memenuhi target iklim tahun 2035, yang membuka peluang jangka panjang di sektor utilitas, pertambangan, dan jasa keuangan.
Lebih lanjut, ketangguhan ESG di ASEAN didorong oleh momentum kebijakan. Pada tahun 2025, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Indonesia memperbarui Kontribusi yang Ditetapkan secara Nasional (NDC) mereka, yang memperkuat target iklim dan keberlanjutan jangka panjang.
"Kualitas ESG di ASEAN terus meningkat, dan investor mendapatkan imbalan karena mendukung perusahaan-perusahaan dengan risiko yang lebih rendah,” tegas laporan tersebut.
Dengan ambisi kebijakan yang kuat, arus modal yang meningkat, dan skor ESG perusahaan yang terus membaik, ASEAN semakin dipandang sebagai pelabuhan yang aman di tengah lanskap ESG global yang fluktuatif.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya