Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Investasi ESG di ASEAN Meroket, Imbangi Tren di Pasar Global yang Melemah

Kompas.com, 10 Februari 2026, 16:23 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Ketika pasar global mulai mundur dari komitmen lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG), Asia Tenggara justru bergerak ke arah yang berlawanan: memperkuat regulasi dan investasi hijau.

Laporan terbaru dari Maybank Investment Banking Group (Maybank IBG) itu menyebutkan kawasan Asia Tenggara sedang mengubah keberlanjutan menjadi sumber keuntungan yang terukur bagi para investor.

Melansir Know ESG, Senin (9/2/2026) laporan menemukan meski sentimen ESG Global melemah tajam pada 2025, ASEAN terus meningkatkan kualitas ESG dan memberi imbalan bagi investor.

Secara global, dana berkelanjutan mencatat penarikan modal bersih yang signifikan, dan 71 persen indeks berbasis ESG gagal mengalahkan tolok ukur mereka.

Sebaliknya, perusahaan-perusahaan di ASEAN dengan risiko yang lebih rendah secara konsisten mengungguli kinerja pasar domestik mereka.

Baca juga: BMI Luncurkan Data Risiko Iklim dan ESG Tingkat Negara

Laporan juga menyoroti adanya celah kinerja yang nyata antara pasar ASEAN dan pasar global.

Perusahaan-perusahaan dalam lingkup ASEAN 6 yaitu perusahaan yang dinilai memiliki risiko ESG tingkat sangat kecil, rendah atau menengah di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam, menghasilkan imbal hasil berlebih dalam periode satu, tiga, dan lima tahun jika dibandingkan dengan indeks negara MSCI.

Selama setahun terakhir, perusahaan-perusahaan ini mengungguli pasar sebesar 16,8 persen. Selama tiga tahun, imbal hasil berlebih berada di angka 6,7 persen, sementara kinerja lima tahun menunjukkan keuntungan sebesar 6,3 persen.

Secara khusus, 68 persen perusahaan di ASEAN-6 kini termasuk dalam kategori risiko ESG yang dapat dikelola, di mana perusahaan-perusahaan besar dan yang penting secara sistemik memimpin transisi tersebut.

Keuangan berkelanjutan raih momentum

Di seluruh ASEAN-6, obligasi dan pinjaman berkelanjutan mencapai 51 miliar dolar AS pada tahun 2025, yang mewakili 3,5 persen dari penerbitan global. Singapura mempertahankan posisinya sebagai pusat keuangan berkelanjutan utama di kawasan ini, memimpin dalam obligasi dan pinjaman hijau.

Baca juga: Preferensi Investor Bergeser ke Skrining ESG Positif, Ini Penjelasannya

Indonesia dan Malaysia juga memperluas pangsa penyaluran kredit berkelanjutan mereka, yang menandakan keterlibatan yang lebih dalam pada pembiayaan transisi.

Indonesia sendiri menghadapi perkiraan kebutuhan investasi sebesar 472,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp7.400 triliun untuk memenuhi target iklim tahun 2035, yang membuka peluang jangka panjang di sektor utilitas, pertambangan, dan jasa keuangan.

Lebih lanjut, ketangguhan ESG di ASEAN didorong oleh momentum kebijakan. Pada tahun 2025, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Indonesia memperbarui Kontribusi yang Ditetapkan secara Nasional (NDC) mereka, yang memperkuat target iklim dan keberlanjutan jangka panjang.

"Kualitas ESG di ASEAN terus meningkat, dan investor mendapatkan imbalan karena mendukung perusahaan-perusahaan dengan risiko yang lebih rendah,” tegas laporan tersebut.

Dengan ambisi kebijakan yang kuat, arus modal yang meningkat, dan skor ESG perusahaan yang terus membaik, ASEAN semakin dipandang sebagai pelabuhan yang aman di tengah lanskap ESG global yang fluktuatif.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau