Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Preferensi Investor Bergeser ke Skrining ESG Positif, Ini Penjelasannya

Kompas.com, 13 Januari 2026, 21:21 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Investor disebut menunjukkan preferensi yang lebih kuat terhadap skrining (screening) lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, Governance atau ESG) yang positif, khususnya selama ketidakpastian pasar saham.

Hal tersebut ditunjukkan oleh studi bertajuk "Positive versus negative ESG portfolio screening and investors' preference".

Baca juga: 

"Skrining negatif mengesampingkan sektor seperti tembakau, alkohol, dan perjudian, tapi dapat membatasi pilihan dan berkinerja lebih buruk dibandingkan saham ‘dosa’," tulis studi tersebut, dilansir dari laman Taylor & Francis Online, Selasa (13/1/2026). 

Sementara itu, skrining positif mengutamakan perusahaan yang unggul dalam ESG dan menawarkan strategi yang beragam, sekaligus berpotensi memberikan hasil yang lebih baik setelah disesuaikan dengan risiko.

"Meskipun lebih kompleks, investasi dengan skor ESG yang lebih tinggi mampu memitigasi risiko dengan lebih baik karena memiliki paparan risiko penurunan yang lebih rendah," ucap Anna Agapova, Ph.D., profesor keuangan di College of Business FAU, dikutip dari Phys, Selasa (13/1/2026).

Hal tersebut berarti, ketika pasar saham sedang anjlok, harga saham perusahaan dengan ESG tinggi ini disebut cenderung tidak turun sedalam perusahaan lain.

Baca juga:

Investor lebih minat skrining ESG positif

 Skrining positif menyertakan preferensi investasi berkelanjutan

Studi menunjukkan investor cenderung memilih skrining ESG positif karena dinilai lebih stabil dan bisa menekan risiko saat pasar saham tidak stabil.DOK. FREEPIK/Rawpixel Studi menunjukkan investor cenderung memilih skrining ESG positif karena dinilai lebih stabil dan bisa menekan risiko saat pasar saham tidak stabil.

Studi yang dipublikasikan di European Journal of Finance ini menemukan bahwa, terlepas dari tren historis penggunaan skrining negatif, survei terhadap manajer investasi menyebut, penggunaan skrining tersebut dapat berdampak negatif terhadap kinerja keuangan.

Jika terlalu banyak sektor yang dilarang, manajer investasi kehilangan peluang untuk meraih keuntungan dari sektor tersebut, yang akhirnya bisa memperburuk kinerja portofolio secara keseluruhan.

Di sisi lain, skrining positif yang menyertakan preferensi investasi berkelanjutan menawarkan imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko yang lebih baik. Hal ini karena adanya peningkatan diversifikasi yang membantu memitigasi risiko.

Skrining positif secara alami memungkinkan cakupan pemilihan efek (saham/obligasi) yang lebih luas.

"Kami menemukan bahwa investasi yang berfokus pada ESG tingkat fluktuasinya lebih rendah dan berkinerja lebih baik saat terjadi krisis keuangan," kata Agapova.

Baca juga:

Secara keseluruhan, skrining positif memilih perusahaan dengan kinerja ESG terbaik, yang sering kali lebih mampu mengelola risiko keuangan.

Sebab, mereka memiliki paparan yang lebih rendah terhadap masalah, seperti banjir atau kerusakan properti.

Studi ini pun menyimpulkan, baik investor ritel maupun institusi menunjukkan preferensi terhadap skrining positif.

Selanjutnya, manajer investasi pun harus mempertimbangkan strategi mereka dalam menawarkan produk-produk yang lain agar selaras dengan preferensi investor yakni skrining positif.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
Pemerintah
Ketika Fenomena 'Overwork' Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
Ketika Fenomena "Overwork" Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
LSM/Figur
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Pemerintah
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
Swasta
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Pemerintah
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Pemerintah
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
BUMN
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
LSM/Figur
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
LSM/Figur
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
Pemerintah
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
LSM/Figur
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau