KOMPAS.com - Investor disebut menunjukkan preferensi yang lebih kuat terhadap skrining (screening) lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, Governance atau ESG) yang positif, khususnya selama ketidakpastian pasar saham.
Hal tersebut ditunjukkan oleh studi bertajuk "Positive versus negative ESG portfolio screening and investors' preference".
Baca juga:
"Skrining negatif mengesampingkan sektor seperti tembakau, alkohol, dan perjudian, tapi dapat membatasi pilihan dan berkinerja lebih buruk dibandingkan saham ‘dosa’," tulis studi tersebut, dilansir dari laman Taylor & Francis Online, Selasa (13/1/2026).
Sementara itu, skrining positif mengutamakan perusahaan yang unggul dalam ESG dan menawarkan strategi yang beragam, sekaligus berpotensi memberikan hasil yang lebih baik setelah disesuaikan dengan risiko.
"Meskipun lebih kompleks, investasi dengan skor ESG yang lebih tinggi mampu memitigasi risiko dengan lebih baik karena memiliki paparan risiko penurunan yang lebih rendah," ucap Anna Agapova, Ph.D., profesor keuangan di College of Business FAU, dikutip dari Phys, Selasa (13/1/2026).
Hal tersebut berarti, ketika pasar saham sedang anjlok, harga saham perusahaan dengan ESG tinggi ini disebut cenderung tidak turun sedalam perusahaan lain.
Baca juga:
Studi menunjukkan investor cenderung memilih skrining ESG positif karena dinilai lebih stabil dan bisa menekan risiko saat pasar saham tidak stabil.Studi yang dipublikasikan di European Journal of Finance ini menemukan bahwa, terlepas dari tren historis penggunaan skrining negatif, survei terhadap manajer investasi menyebut, penggunaan skrining tersebut dapat berdampak negatif terhadap kinerja keuangan.
Jika terlalu banyak sektor yang dilarang, manajer investasi kehilangan peluang untuk meraih keuntungan dari sektor tersebut, yang akhirnya bisa memperburuk kinerja portofolio secara keseluruhan.
Di sisi lain, skrining positif yang menyertakan preferensi investasi berkelanjutan menawarkan imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko yang lebih baik. Hal ini karena adanya peningkatan diversifikasi yang membantu memitigasi risiko.
Skrining positif secara alami memungkinkan cakupan pemilihan efek (saham/obligasi) yang lebih luas.
"Kami menemukan bahwa investasi yang berfokus pada ESG tingkat fluktuasinya lebih rendah dan berkinerja lebih baik saat terjadi krisis keuangan," kata Agapova.
Baca juga:
Secara keseluruhan, skrining positif memilih perusahaan dengan kinerja ESG terbaik, yang sering kali lebih mampu mengelola risiko keuangan.
Sebab, mereka memiliki paparan yang lebih rendah terhadap masalah, seperti banjir atau kerusakan properti.
Studi ini pun menyimpulkan, baik investor ritel maupun institusi menunjukkan preferensi terhadap skrining positif.
Selanjutnya, manajer investasi pun harus mempertimbangkan strategi mereka dalam menawarkan produk-produk yang lain agar selaras dengan preferensi investor yakni skrining positif.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya