KOMPAS.com - Seiring meningkatnya tekanan pada dunia usaha untuk memenuhi target iklim dan beroperasi secara bertanggung jawab, kinerja keberlanjutan lingkungan telah menjadi ukuran utama kesuksesan korporasi.
Pelanggan, regulator, dan investor semakin berharap agar perusahaan memangkas polusi dan berkontribusi positif terhadap planet ini.
Namun seberapa berkomitmen perusahaan memenuhi target iklim?
Sebuah meta analisis skala besar baru membandingkan bagaimana perusahaan keluarga dengan perusahaan non-keluarga menyeimbangkan jejak lingkungan dan kontribusi lingkungan mereka.
Itu merupakan dua metrik yang kian berkembang yang digunakan untuk menilai hasil keberlanjutan.
Melansir Know ESG, Jumat (6/2/2026) jejak lingkungan (Environmental footprint) mengacu pada kerusakan yang ditimbulkan perusahaan melalui operasional mereka. Ini mencakup konsumsi energi dan air, produksi limbah, serta polusi.
Baca juga: PBB Usul Pajak bagi Perusahaan Bahan Bakar Fosil dan Orang Terkaya
Sebaliknya, kontribusi lingkungan (environmental handprint) mencakup langkah-langkah proaktif yang diambil perusahaan untuk memperbaiki lingkungan, seperti memasang panel surya, mendaur ulang bahan, atau mengganti kemasan plastik dengan alternatif yang berkelanjutan.
Studi kemudian memeriksa 87 makalah penelitian utama yang mencakup lebih dari 118.000 perusahaan. Studi tersebut membandingkan kinerja keberlanjutan lingkungan dari perusahaan keluarga yang didefinisikan sebagai bisnis yang dikendalikan melalui kepemilikan atau manajemen keluarga dengan kinerja perusahaan non-keluarga.
Temuan menunjukkan pola yang jelas. Secara keseluruhan, perusahaan keluarga cenderung memiliki jejak lingkungan yang lebih rendah, yang berarti mereka menghasilkan lebih sedikit dampak lingkungan negatif.
Hal ini menunjukkan perusahaan keluarga mungkin lebih berhati-hati atau lebih efisien dalam operasional mereka, sehingga mengurangi polusi dan penggunaan sumber daya.
Namun, dalam hal kontribusi lingkungan, perusahaan keluarga tidak ada bedanya dengan perusahaan lainnya. Singkatnya, kepemilikan keluarga tidak secara otomatis menghasilkan inovasi hijau yang lebih ambisius.
Para peneliti menyatakan bahwa keragaman perusahaan memainkan peran krusial dalam menentukan hasil. Ukuran perusahaan, pencatatan di bursa saham, dan jenis keterlibatan keluarga semuanya memengaruhi hasil keberlanjutan.
Misalnya, bisnis yang sepenuhnya dimiliki keluarga mungkin menghindari investasi keberlanjutan yang berisiko atau mahal untuk melindungi kekayaan keluarga, yang dapat merugikan kemajuan secara keseluruhan.
Baca juga: Praktik Sustainability Perusahaan Indonesia Belum Masif, Padahal Rentan Krisis Iklim
Sementara itu, perusahaan non-keluarga yang besar dan terdaftar di bursa saham sering menunjukkan tindakan keberlanjutan yang lebih kuat, mungkin karena tekanan investor, peraturan, dan pengawasan publik.
Menariknya, studi ini juga menemukan bahwa perusahaan keluarga dapat mencapai hasil yang lebih baik dengan tindakan yang kurang terlihat.
Mereka cenderung kurang terlibat dalam upaya keberlanjutan yang dipublikasikan secara luas, seperti program keanekaragaman hayati atau kampanye daur ulang formal, tetapi mungkin lebih fokus pada perubahan praktis yang secara diam-diam mengurangi kerusakan lingkungan.
Pendekatan ini mungkin memprioritaskan substansi daripada gestur simbolis yang dimaksudkan untuk meningkatkan citra "hijau".
Secara keseluruhan, penelitian menyimpulkan bahwa perusahaan keluarga dan perusahaan non-keluarga memiliki kinerja yang serupa dalam keberlanjutan lingkungan, dengan perbedaan utama terletak pada jejak lingkungan perusahaan keluarga yang lebih kecil.
Hasil penelitian juga menyoroti bahwa struktur kepemilikan saja tidak menjamin kinerja keberlanjutan yang lebih kuat. Sebaliknya, karakteristik perusahaan dan pilihan strategis lebih penting.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya