Editor
“Kami sempat capek dan ragu, tapi selalu ingat kenapa proyek ini dimulai,” ujar Tim Nakou.
Kebersamaan dalam tim menjadi penopang utama. Saat satu orang kehilangan energi, yang lain ikut menguatkan. Dari situ Tim Nakou belajar tentang komunikasi, mengelola emosi, dan menerima bahwa perubahan memang butuh waktu.
Makna dari gerakan ini mulai terasa ketika respons datang dari lingkungan terdekat. Guru-guru memberi dukungan, teman-teman mulai ikut membawa bekal lebih sehat, dan kebiasaan jajan berlebihan perlahan berkurang.
Berdasarkan pemantauan tim, konsumsi jajanan tidak sehat di sekolah menurun hingga sekitar 60 persen.
Bagi mereka, momen paling berkesan bukanlah saat pengumuman lomba, melainkan ketika melihat perubahan kecil itu terjadi di depan mata.
Baca juga:
Tim Nakou menyadari bahwa tantangan terbesar bukan memulai, melainkan menjaga keberlanjutan. Mereka berharap dukungan dari tenaga kesehatan profesional dapat memperkuat edukasi, sedangkan peran guru dan orang tua menjadi jembatan agar kebiasaan sehat tidak berhenti di gerbang sekolah.
Lebih jauh, mereka ingin melihat lahirnya kesadaran yang tumbuh dari dalam diri remaja sendiri. Bukan karena disuruh, tetapi karena merasa perlu. Jika itu terjadi, SERDADU tidak lagi sekadar nama program, melainkan cara hidup.
Dari Semarang, kisah ini mengingatkan bahwa perubahan kesehatan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Kadang ia berawal dari keberanian untuk meninjau ulang kebiasaan yang paling dekat.
Jika para siswa itu berani memulai dari langkah kecil, untuk kamu yang membaca hari ini, langkah apa yang ingin kamu ubah lebih dulu?
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya