Penulis
KOMPAS.com - Januari 2026 termasuk bulan terpanas dalam sejarah pencatatan iklim global. Data ini dirilis oleh pemantau iklim Uni Eropa, Copernicus Climate Change Service, Selasa (10/2/2026).
Menurut Copernicus, Januari 2026 menjadi Januari terpanas kelima yang pernah tercatat. Catatan ini tetap tinggi meski gelombang dingin ekstrem melanda beberapa wilayah di belahan bumi utara.
Baca juga:
"Januari 2026 menjadi pengingat yang jelas bahwa sistem iklim terkadang dapat secara bersamaan menimbulkan cuaca sangat dingin di satu wilayah dan panas ekstrem di wilayah lain," kata kepala strategi iklim di Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF), Samantha Burgess, dilansir dari AFP, Minggu (15/2/2026).
Januari 2026 termasuk bulan terpanas dalam sejarah menurut Copernicus, meski Amerika Serika dan Eropa dilanda gelombang dingin ekstrem.Pada akhir Januari, wilayah Eropa dan Amerika Serikat dihantam gelombang dingin parah. Arus jet kutub membawa udara beku ke Eropa dan Amerika Utara. Suhu turun drastis dalam waktu singkat.
Namun, secara global, suhu rata-rata tetap berada di atas normal. Banyak wilayah lain justru mengalami suhu lebih hangat dari biasanya.
Pemanasan terlihat jelas di sebagian besar wilayah Arktik dan Amerika Utara bagian barat.
Rata-rata suhu global pada Januari 2026 tercatat 1,47 derajat celsius di atas tingkat pra-industri. Angka ini menunjukkan tren pemanasan yang terus berlanjut akibat aktivitas manusia.
Eropa bahkan mengalami Januari terdingin sejak tahun 2010. Suhu rata-rata di wilayah tersebut mencapai minus 2,34 derajat celsius. Angka ini cukup rendah untuk ukuran dekade terakhir.
Di Amerika Serikat, badai musim dingin besar melanda dari New Mexico hingga Maine. Salju tebal dan hujan es melumpuhkan banyak wilayah. Badai ini dikaitkan dengan lebih dari 100 kematian.
Baca juga:
Januari 2026 termasuk bulan terpanas dalam sejarah menurut Copernicus, meski Amerika Serika dan Eropa dilanda gelombang dingin ekstrem.Meski ada gelombang dingin regional, tren jangka panjang tetap menunjukkan pemanasan global. Bumi masih berada dalam periode pemanasan panjang yang dipicu oleh aktivitas manusia.
Copernicus mencatat bahwa tahun 2024 menjadi tahun terpanas dalam sejarah. Tahun 2023 berada di posisi kedua, sedangkan tahun 2025 tercatat sebagai tahun terpanas ketiga.
Data ini menegaskan bahwa anomali cuaca dingin tidak membatalkan tren pemanasan global. Justru kondisi ekstrem yang terjadi bersamaan menjadi bukti sistem iklim makin tidak stabil.
Jika tren ini berlanjut, risiko cuaca ekstrem akan semakin sering terjadi. Dampaknya bisa berupa badai besar, kekeringan panjang, gelombang panas ekstrem, dan gangguan pangan.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya