Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Januari 2026 Termasuk Bulan Terpanas dalam Sejarah

Kompas.com, 15 Februari 2026, 19:14 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Januari 2026 termasuk bulan terpanas dalam sejarah pencatatan iklim global. Data ini dirilis oleh pemantau iklim Uni Eropa, Copernicus Climate Change Service, Selasa (10/2/2026).

Menurut Copernicus, Januari 2026 menjadi Januari terpanas kelima yang pernah tercatat. Catatan ini tetap tinggi meski gelombang dingin ekstrem melanda beberapa wilayah di belahan bumi utara.

Baca juga:

"Januari 2026 menjadi pengingat yang jelas bahwa sistem iklim terkadang dapat secara bersamaan menimbulkan cuaca sangat dingin di satu wilayah dan panas ekstrem di wilayah lain," kata kepala strategi iklim di Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF), Samantha Burgess, dilansir dari AFP, Minggu (15/2/2026).

Januari 2026 termasuk bulan terpanas dalam sejarah

Banyak wilayah alami suhu lebih hangat dari biasanya

Januari 2026 termasuk bulan terpanas dalam sejarah menurut Copernicus, meski Amerika Serika dan Eropa dilanda gelombang dingin ekstrem.Pexels/Pixabay Januari 2026 termasuk bulan terpanas dalam sejarah menurut Copernicus, meski Amerika Serika dan Eropa dilanda gelombang dingin ekstrem.

Pada akhir Januari, wilayah Eropa dan Amerika Serikat dihantam gelombang dingin parah. Arus jet kutub membawa udara beku ke Eropa dan Amerika Utara. Suhu turun drastis dalam waktu singkat.

Namun, secara global, suhu rata-rata tetap berada di atas normal. Banyak wilayah lain justru mengalami suhu lebih hangat dari biasanya.

Pemanasan terlihat jelas di sebagian besar wilayah Arktik dan Amerika Utara bagian barat.

Rata-rata suhu global pada Januari 2026 tercatat 1,47 derajat celsius di atas tingkat pra-industri. Angka ini menunjukkan tren pemanasan yang terus berlanjut akibat aktivitas manusia.

Eropa bahkan mengalami Januari terdingin sejak tahun 2010. Suhu rata-rata di wilayah tersebut mencapai minus 2,34 derajat celsius. Angka ini cukup rendah untuk ukuran dekade terakhir.

Di Amerika Serikat, badai musim dingin besar melanda dari New Mexico hingga Maine. Salju tebal dan hujan es melumpuhkan banyak wilayah. Badai ini dikaitkan dengan lebih dari 100 kematian.

Baca juga:

Januari 2026 termasuk bulan terpanas dalam sejarah menurut Copernicus, meski Amerika Serika dan Eropa dilanda gelombang dingin ekstrem.Unsplash/Flow Clark Januari 2026 termasuk bulan terpanas dalam sejarah menurut Copernicus, meski Amerika Serika dan Eropa dilanda gelombang dingin ekstrem.

Meski ada gelombang dingin regional, tren jangka panjang tetap menunjukkan pemanasan global. Bumi masih berada dalam periode pemanasan panjang yang dipicu oleh aktivitas manusia.

Copernicus mencatat bahwa tahun 2024 menjadi tahun terpanas dalam sejarah. Tahun 2023 berada di posisi kedua, sedangkan tahun 2025 tercatat sebagai tahun terpanas ketiga.

Data ini menegaskan bahwa anomali cuaca dingin tidak membatalkan tren pemanasan global. Justru kondisi ekstrem yang terjadi bersamaan menjadi bukti sistem iklim makin tidak stabil.

Jika tren ini berlanjut, risiko cuaca ekstrem akan semakin sering terjadi. Dampaknya bisa berupa badai besar, kekeringan panjang, gelombang panas ekstrem, dan gangguan pangan.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
51 Persen Terumbu Karang Dunia Memutih akibat Gelombang Panas 2014–2017
51 Persen Terumbu Karang Dunia Memutih akibat Gelombang Panas 2014–2017
LSM/Figur
Januari 2026 Termasuk Bulan Terpanas dalam Sejarah
Januari 2026 Termasuk Bulan Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
PBB Sebut Kerja Sama Iklim Global Terancam, Ajak Negara untuk Bersatu
PBB Sebut Kerja Sama Iklim Global Terancam, Ajak Negara untuk Bersatu
Pemerintah
Harimau Beku Ditemukan dalam Freezer, 2 Orang di Vietnam Ditangkap
Harimau Beku Ditemukan dalam Freezer, 2 Orang di Vietnam Ditangkap
Pemerintah
Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane Bisa Berdampak pada Kesehatan Jangka Panjang
Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane Bisa Berdampak pada Kesehatan Jangka Panjang
Pemerintah
Donald Trump Sebut Krisis Iklim Penipuan, Ilmuwan Ingatkan Dampaknya pada Kesehatan
Donald Trump Sebut Krisis Iklim Penipuan, Ilmuwan Ingatkan Dampaknya pada Kesehatan
LSM/Figur
Krisis Iklim, Perusahaan Prioritaskan Ketahanan Rantai Pasok
Krisis Iklim, Perusahaan Prioritaskan Ketahanan Rantai Pasok
LSM/Figur
Penyu Bertelur Lebih Awal dan Lebih Sedikit akibat Krisis Iklim
Penyu Bertelur Lebih Awal dan Lebih Sedikit akibat Krisis Iklim
LSM/Figur
IPB University Dampingi Masyarakat Adat Kembangkan Sea Farming di Wakatobi
IPB University Dampingi Masyarakat Adat Kembangkan Sea Farming di Wakatobi
LSM/Figur
Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane Atasi Pestisida, Ahli Jelaskan Dampaknya
Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane Atasi Pestisida, Ahli Jelaskan Dampaknya
LSM/Figur
Sungai Cisadane Ditargetkan Bersih Pestisida dalam 2 Minggu, Bagaimana Ekosistemnya?
Sungai Cisadane Ditargetkan Bersih Pestisida dalam 2 Minggu, Bagaimana Ekosistemnya?
LSM/Figur
Jangan Masukkan Sampah Plastik Bernilai Ekonomi Tinggi ke RDF, Mengapa?
Jangan Masukkan Sampah Plastik Bernilai Ekonomi Tinggi ke RDF, Mengapa?
Swasta
KLH Setop Operasional Boiler Pabrik Kertas di Tangerang karena Cemari Udara
KLH Setop Operasional Boiler Pabrik Kertas di Tangerang karena Cemari Udara
Pemerintah
Aksi Iklim Ambisius Bisa Selamatkan 1,32 Juta Jiwa pada 2040
Aksi Iklim Ambisius Bisa Selamatkan 1,32 Juta Jiwa pada 2040
LSM/Figur
Target Ambisius Eropa Pangkas Emisi 90 Persen pada 2040
Target Ambisius Eropa Pangkas Emisi 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau