Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Wahana Visi Indonesia (WVI) melalui proyek SEHAT CERDAS membangun sistem jaringan air bersih dan sanitasi dasar di tiga desa dampingan di wilayah tersebut.
Program tersebut dijalankan menyusul akses air bersih di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat 93,22 persen rumah tangga di Indonesia telah memiliki akses sumber air minum layak, sementara capaian di NTT sebesar 89,86 persen dan Sumba Barat Daya sekitar 86,12 persen pada 2024.
Baca juga: Krisis Air Bersih, KLH Kirim 10.000 Galon dan Alat Penjernih ke Aceh
Topografi berbukit dan kondisi geologi yang menantang membuat masyarakat kesulitan mengakses air bersih. Selama ini, perempuan dan anak-anak menjadi pihak yang paling terdampak karena harus menempuh jarak jauh untuk mengambil air, yang berpengaruh pada waktu belajar dan kesehatan.
Melalui proyek ini, sebanyak 2.094 warga kini dapat mengakses air minum dasar yang disalurkan melalui 17 kran umum. Akses yang lebih dekat dinilai berdampak pada kebiasaan hidup bersih dan kesiapan anak bersekolah.
Secara teknis, WVI membangun tiga sistem Jaringan Air Bersih (JAB) dengan sumber sumur bor yang dipompa menggunakan tenaga surya menuju bak penampung di menara air, lalu didistribusikan melalui sekitar 8.000 meter pipa menggunakan sistem gravitasi.
Metode ini memungkinkan air menjangkau permukiman yang berada di lereng dan jalur berbatu tanpa memerlukan pompa tambahan.
Selain pembangunan infrastruktur, WVI bersama masyarakat dan pemerintah desa membentuk sembilan komite air untuk memastikan keberlanjutan layanan.
Komite tersebut mengelola iuran operasional dan pemeliharaan, termasuk perawatan pompa, pengecekan pipa, dan pembukuan sederhana.
Technical Sectors Director Wahana Visi Indonesia Yacobus Runtuwene mengatakan akses air layak masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sumba Barat Daya.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan berbasis komunitas agar fasilitas yang telah dibangun dapat terus dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Baca juga: Retno Marsudi Ungkap Tantangan Air Bersih, dari Infrastruktur hingga Investasi
"Di tingkat rumah tangga, program ini juga mendorong praktik hidup bersih melalui pembangunan 26 toilet keluarga yang dilengkapi fasilitas cuci tangan. Ketersediaan air yang lebih dekat membuka peluang bagi keluarga untuk mengembangkan kebun sayur serta meningkatkan kesehatan lingkungan," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (18/2/2026).
WVI berharap intervensi tersebut dapat mempersempit kesenjangan akses air bersih sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat dalam mengelola sumber daya air secara mandiri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya