Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemerintah Dorong Kredit Keanekaragaman Hayati Berintegritas Tinggi

Kompas.com, 19 Februari 2026, 10:45 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia menyiapkan kebijakan dan implementasi instrumen High Integrity Biodiversity Credits (kredit keanekaragaman hayati berintegritas tinggi).

Langkah ini dinilai penting dalam penguatan kerangka pembiayaan keanekaragaman hayati nasional.

Baca juga:

"Perlindungan keanekaragaman hayati adalah urgensi nasional yang tidak dapat ditunda. Indonesia, sebagai negara mega-biodiversitas terbesar kedua di dunia, memiliki tanggung jawab global untuk memastikan keberlanjutan sumber daya alamnya," kata Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, dilansir dari Antara, Kamis (19/2/2026).

Kredit keanekaragaman hayati berintegritas tinggi

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan hayati terbesar di dunia. Kekayaan alam ini bukan hanya soal hutan dan satwa karena keanekaragaman hayati juga menopang pangan, kesehatan, energi, dan ekonomi nasional.

Komitmen tersebut telah disampaikan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dalam kegiatan Biodiversity Financing: Pathways through Biodiversity Valuation and Multilateral Benefit Sharing.

Forum ini dihadiri perwakilan Pemerintah Inggris, mitra pembangunan, akademisi, lembaga keuangan, serta berbagai pemangku kepentingan.

Kegiatan itu menjadi bagian dari kerja sama strategis Indonesia dan Inggris. Kerja sama ini diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.

Kolaborasi tersebut juga merupakan tindak lanjut Nota Kesepahaman antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Department for Environment, Food and Rural Affairs (DEFRA) Inggris di bidang lingkungan hidup, perubahan iklim, dan keanekaragaman hayati.

Baca juga:

Apa itu kredit keanekaragaman hayati?

Menteri LH, Hanif Faisol menjelaskan soal kasus kebakaran gudang pestisida di Tangsel, Kamis (12/2/2026). KOMPAS.com/ZINTAN Menteri LH, Hanif Faisol menjelaskan soal kasus kebakaran gudang pestisida di Tangsel, Kamis (12/2/2026).

Instrumen kredit keanekaragaman hayati dipandang sebagai mekanisme berbasis hasil. Skema ini mendorong kontribusi sektor publik dan swasta secara transparan dan akuntabel.

Beberapa tujuannya, antara lain mendorong konservasi, mendukung restorasi ekosistem, serta melindungi spesies dan habitat prioritas.

Menurut Hanif, keanekaragaman hayati bukan hanya aset ekologis, tapi juga sumber daya alam bernilai tinggi. 

Pengembangan kredit keanekaragaman hayati dinilai harus berdiri di atas prinsip kredibilitas ilmiah. Prosesnya harus inklusif secara sosial dan tata kelolanya harus transparan. 

Salah satu elemen penting adalah sistem Measurement, Reporting, and Verification atau MRV. Sistem ini memastikan setiap klaim dampak lingkungan bisa diukur dan diverifikasi. 

Selain kredit keanekaragaman hayati, Kementerian Lingkungan Hidup bersama mitra juga memperkuat instrumen pembiayaan lain.

Salah satunya adalah mekanisme Access and Benefit Sharing (ABS) sumber daya genetik, yang memastikan pembagian manfaat yang adil.

Penguatan ABS dilakukan sesuai dengan Convention on Biological Diversity atau CBD. Kebijakan ini juga merujuk pada Nagoya Protocol serta Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework.

Sebagai tindak lanjut, Indonesia menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi International Advisory Panel on Biodiversity Credits (IAPB) yang direncanakan berlangsung pada Juni 2026. Indonesia juga akan membentuk Indonesia Biodiversity Credits Chapter.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ekspansi Kebun Sawit di TN Tesso Nilo Dipicu Lemahnya Penegakkan Hukum
Ekspansi Kebun Sawit di TN Tesso Nilo Dipicu Lemahnya Penegakkan Hukum
Pemerintah
Pemerintah Dorong Kredit Keanekaragaman Hayati Berintegritas Tinggi
Pemerintah Dorong Kredit Keanekaragaman Hayati Berintegritas Tinggi
Pemerintah
SMKN 3 Tenggarong Dapat Hibah Alat Berat dan Fasilitas K3 dari United Tractors
SMKN 3 Tenggarong Dapat Hibah Alat Berat dan Fasilitas K3 dari United Tractors
Swasta
SPPG Palmerah Punya Greenhouse, Tanam Hidroponik hingga Budidaya Ikan untuk MBG
SPPG Palmerah Punya Greenhouse, Tanam Hidroponik hingga Budidaya Ikan untuk MBG
Pemerintah
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
LSM/Figur
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
LSM/Figur
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
LSM/Figur
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
LSM/Figur
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Pemerintah
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
LSM/Figur
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
LSM/Figur
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas 'Waste to Energy' Danantara
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas "Waste to Energy" Danantara
Pemerintah
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
LSM/Figur
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau