Peningkatan masuknya air tawar tidak dapat dijelaskan oleh curah hujan lokal.
Dengan menganalisis catatan pengamatan bersamaan dengan simulasi komputer, para peneliti menyimpulkan bahwa pemanasan global mengubah pola angin permukaan di Samudera Hindia dan Pasifik tropis.
Angin yang berubah mengarahkan arus laut dengan cara mengangkut lebih banyak air tawar dari kolam air tawar Indo-Pasifik ke Samudera Hindia bagian selatan.
Saat kadar garam menurun, air laut menjadi kurang padat. Air tawar cenderung tetap berada di atas air yang lebih asin dan berat sehingga meningkatkan pemisahan antara lapisan permukaan dan bagian dalam.
Pelapisan yang lebih dalam membatasi pencampuran vertikal. Prosesnya biasanya memungkinkan air permukaan tenggelam dan air yang lebih dalam naik, dengan mendistribusikan panas dan nutrisi ke seluruh lautan.
Studi sebelumnya menunjukkan krisis iklim dapat memperlambat sebagian sirkulasi termohalin.
Pencairan lapisan es Greenland dan es laut Arktik menambahkan air tawar ke Atlantik Utara, serta mengganggu keseimbangan salinitas yang dibutuhkan agar sabuk konveyor tetap bergerak.
Perluasan cadangan air tawar dapat lebih memengaruhi sistem sirkulasi ini, dengan mengangkut air yang lebih tawar ke Atlantik.
Pencampuran vertikal yang lebih lemah juga dapat membahayakan kehidupan laut. Ketika air kaya nutrisi dari kedalaman tidak mencapai permukaan yang terkena sinar matahari, organisme di lapisan atas mempunyai lebih sedikit sumber daya untuk bertahan hidup.
Di sisi lain, berkurangnya pencampuran memerangkap panas berlebih di dekat permukaan. Imbasnya, meningkatkan suhu lebih lanjut bagi spesies yang sudah berjuang menghadapi pemanasan laut.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya