Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Ungkap Kondisi Oksigen Laut Masa Depan lewat Plankton Purba

Kompas.com, 9 Februari 2026, 14:55 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tim peneliti University of Southampton dan Rutgers University menganalisis plankton purba dari Laut Arab untuk mengungkap kondisi oksigen laut masa depan. Hasilnya menunjukkan, sekitar 16 juta tahun lalu ketika bumi mengalami pemanasan global yang sangat kuat, kadar oksigen di Laut Arab justru lebih tinggi dibandingkan saat ini. 

Namun, sekitar empat juta tahun kemudian, saat suhu global mulai menurun, Laut Arab mengalami kekurangan oksigen yang parah.

“Oksigen terlarut di lautan sangat penting untuk menopang kehidupan laut, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan memperkuat ekosistem. Namun, selama 50 tahun terakhir sekitar dua persen oksigen di laut dunia telah hilang setiap dekade seiring meningkatnya suhu global,” ucap penulis studi di University of Southampton, Alexandra Auderset dilansir dari SciTechDaily, Senin (9/2/2026).

Baca juga:

Plankton ungkap kondisi oksigen masa depan

Harus adaptasi dengan kondisi laut yang berubah

Plankton purba mengungkap kondisi oksigen di Laut Arab yang lebih tinggi pada 16 juta tahun lalu. Bagaimana dengan masa depan? NOAA Plankton purba mengungkap kondisi oksigen di Laut Arab yang lebih tinggi pada 16 juta tahun lalu. Bagaimana dengan masa depan?

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Communications Earth & Environment terbitan Nature, tim peneliti menggunakan plankton mikroskopis yang telah membatu bernama foraminifera (foram) untuk merekonstruksi kondisi laut purba.

Fosil-fosil ini diambil dari program pengeboran internasional. Jejak kimia yang tersimpan dalam cangkang organisme itu memungkinkan peneliti memperkirakan konsentrasi oksigen di air laut selama jutaan tahun.

Dari hasil analisis, diketahui wilayah oxygen minimum zone (OMZ) atau zona laut dengan kadar oksigen rendah sudah ada di Laut Arab sejak sekitar 19 juta tahun lalu dan bertahan hingga 12 juta tahun lalu.

Selama periode tersebut, kadar oksigen berada di tingkat yang rendah, tapi belum cukup ekstrem untuk menimbulkan dampak besar pada siklus nitrogen di laut.

Auderset menjelaskan, periode Miocene Climatic Optimum (MCO) yang terjadi sekitar 17-14 juta tahun lalu memiliki kondisi suhu dan atmosfer yang mirip dengan perkiraan kondisi bumi setelah tahun 2100. Oleh marena itu, kondisi laut pada masa tersebut dapat menjadi gambaran tentang masa depan.

Baca juga:

"Kami mengambil gambaran kondisi oksigen laut pada masa MCO untuk membantu memahami bagaimana perkembangannya 100 tahun atau lebih ke depan," kata dia.

Para peneliti menemukan, penurunan oksigen paling parah justru terjadi setelah periode terpanas berlalu, bukan saat suhu mencapai puncaknya.

Mereka menegaskan hilangnya oksigen laut tidak hanya dipengaruhi oleh pemanasan global, tapi juga oleh kondisi lokal laut seperti arus dan sirkulasi air.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa respons laut terhadap pemanasan iklim bersifat kompleks, dan ini berarti kita harus siap beradaptasi terhadap kondisi laut yang terus berubah," ucap Auderset.

Plankton purba mengungkap kondisi oksigen di Laut Arab yang lebih tinggi pada 16 juta tahun lalu. Bagaimana dengan masa depan? SHUTTERSTOCK/Johan Swanepoel Plankton purba mengungkap kondisi oksigen di Laut Arab yang lebih tinggi pada 16 juta tahun lalu. Bagaimana dengan masa depan?

Sementara itu, penulis studi dari George Mason University, Anya Hess menambahkan, periode MCO merupakan pembanding terbaik untuk melihat dampak pemanasan iklim ekstrem masa depan.

Menurut dia, pada masa itu, beberapa wilayah perairan seperti Pasifik tropis bagian timur dan Laut Arab memiliki kondisi oksigen yang lebih baik dibandingkan sekarang meski tingkatnya berbeda-beda.

“Laut Arab juga memiliki oksigen yang lebih baik selama MCO, tetapi tidak setinggi Pasifik, dengan oksigenasi sedang dan penurunan yang terjadi sekitar 2 juta tahun lebih lambat dibandingkan Pasifik," papar Hess.

Dikutip dari laman National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), sekitar setengah dari produksi oksigen di bumi berasal dari lautan. Sebagian besar produksi ini berasal dari plankton laut, tumbuhan, alga, dan beberapa bakteri.

Studi menunjukkan bahwa jumlah oksigen di lokasi tertentu bervariasi tergantung waktu dalam sehari dan pasang surut. Di sisi lain, para peneliti menekankan, meskipun lautan menghasilkan 50 persen oksigen di bumi, jumlah yang hampir sama dikonsumsi kehidupan laut.

Layaknya hewan di darat, hewan laut menggunakan oksigen untuk bernapas. Oksigen juga dikonsumsi ketika tumbuhan dan hewan yang mati membusuk di laut. 

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau