JAKARTA, KOMPAS.com - Korban bencana tidak hanya mengalami kerugian fisik dan ekonomi, tetapi juga distres emosional dan eksistensial akibat perubahan lingkungan yang terjadi secara destruktif.
Peneliti Pusat Riset Agama dan Kepercayaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yumasdaleni, mengatakan bencana kerap memunculkan “kerinduan akan rumah” meski korban masih berada di lokasi yang sama.
“Kalau kita lihat kasus-kasus bencana, banyak orang kembali ke tempatnya hanya untuk melihat dan mengenang. Karena rumah itu bukan sekadar bangunan yang hilang, tapi juga sejarah keluarga,” ujar Yumasdaleni dalam webinar Eko-Teologi dan Citizen Science Pasca Bencana, Jumat (20/2/2026).
Baca juga: Cuaca Ekstrem Meningkat, Ilmuwan Desak Sistem Peringatan Bencana yang Lebih Personal
Menurut dia, interaksi antara eksploitasi sumber daya alam dan terjadinya bencana menciptakan trauma ganda bagi masyarakat. Selain kerusakan fisik, korban juga mengalami kehilangan makna spiritual akibat rusaknya lingkungan.
Ia menjelaskan, hilangnya tempat tinggal, mata pencaharian, serta simbol-simbol komunitas seperti tempat ibadah memperdalam dampak psikologis dan sosial korban bencana.
“Simbol-simbol ini termasuk soal agama. Hilangnya masjid, hilangnya kegiatan keagamaan, itu semua berdampak pada kehidupan sosial dan spiritual masyarakat,” ujarnya.
Yumasdaleni menambahkan, deforestasi, polusi, dan krisis iklim akibat aktivitas manusia telah memperburuk kerentanan ekologis sehingga meningkatkan intensitas bencana alam. Dampaknya bersifat multidimensi, mulai dari kerugian ekonomi hingga luka psikologis dan spiritual yang mendalam.
Ia menilai paradigma pembangunan yang berpusat pada manusia (antroposentris) perlu digeser menuju pendekatan teosentris-ekologis yang menempatkan tanggung jawab manusia terhadap alam sebagai prioritas.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN Ali Yansah Abdurrahim mengatakan ketahanan pascabencana tidak bisa dibangun hanya melalui pendekatan teknis dan infrastruktur.
Menurut dia, pemulihan perlu mencakup rehabilitasi ekosistem, dukungan psikososial, rekonstruksi ekonomi masyarakat, serta pendekatan berbasis komunitas agar solusi tidak semata-mata bersifat material.
Baca juga: Mengapa Bencana Meningkat, tapi Angka Kematian Tak Selalu Bertambah?
Ali menyebut pendekatan ekoteologi dapat menjadi fondasi moral dalam mitigasi dan pemulihan pascabencana. Prinsip seperti khalifah dan mizan dalam ajaran agama, kata dia, menempatkan manusia sebagai penjaga keseimbangan alam.
“Pemulihan pascabencana harus bersifat holistik. Trauma bukan hanya luka fisik atau psikis manusia, tetapi juga luka pada ekosistem. Restorasi lingkungan dan pemberdayaan keagamaan menjadi bagian dari proses penyembuhan bersama,” ujarnya.
Menurut para peneliti, integrasi aspek ekologis, sosial, dan spiritual dalam penanganan pascabencana penting untuk membangun ketahanan masyarakat secara berkelanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya