Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti BRIN: Korban Bencana Alami Trauma Ganda, Perlu Pendekatan Spiritual dan Ekologis

Kompas.com, 25 Februari 2026, 15:14 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Korban bencana tidak hanya mengalami kerugian fisik dan ekonomi, tetapi juga distres emosional dan eksistensial akibat perubahan lingkungan yang terjadi secara destruktif.

Peneliti Pusat Riset Agama dan Kepercayaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yumasdaleni, mengatakan bencana kerap memunculkan “kerinduan akan rumah” meski korban masih berada di lokasi yang sama.

“Kalau kita lihat kasus-kasus bencana, banyak orang kembali ke tempatnya hanya untuk melihat dan mengenang. Karena rumah itu bukan sekadar bangunan yang hilang, tapi juga sejarah keluarga,” ujar Yumasdaleni dalam webinar Eko-Teologi dan Citizen Science Pasca Bencana, Jumat (20/2/2026).

Baca juga: Cuaca Ekstrem Meningkat, Ilmuwan Desak Sistem Peringatan Bencana yang Lebih Personal

Menurut dia, interaksi antara eksploitasi sumber daya alam dan terjadinya bencana menciptakan trauma ganda bagi masyarakat. Selain kerusakan fisik, korban juga mengalami kehilangan makna spiritual akibat rusaknya lingkungan.

Ia menjelaskan, hilangnya tempat tinggal, mata pencaharian, serta simbol-simbol komunitas seperti tempat ibadah memperdalam dampak psikologis dan sosial korban bencana.

“Simbol-simbol ini termasuk soal agama. Hilangnya masjid, hilangnya kegiatan keagamaan, itu semua berdampak pada kehidupan sosial dan spiritual masyarakat,” ujarnya.

Yumasdaleni menambahkan, deforestasi, polusi, dan krisis iklim akibat aktivitas manusia telah memperburuk kerentanan ekologis sehingga meningkatkan intensitas bencana alam. Dampaknya bersifat multidimensi, mulai dari kerugian ekonomi hingga luka psikologis dan spiritual yang mendalam.

Ia menilai paradigma pembangunan yang berpusat pada manusia (antroposentris) perlu digeser menuju pendekatan teosentris-ekologis yang menempatkan tanggung jawab manusia terhadap alam sebagai prioritas.

Perlu Pendekatan Holistik

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN Ali Yansah Abdurrahim mengatakan ketahanan pascabencana tidak bisa dibangun hanya melalui pendekatan teknis dan infrastruktur.

Menurut dia, pemulihan perlu mencakup rehabilitasi ekosistem, dukungan psikososial, rekonstruksi ekonomi masyarakat, serta pendekatan berbasis komunitas agar solusi tidak semata-mata bersifat material.

Baca juga: Mengapa Bencana Meningkat, tapi Angka Kematian Tak Selalu Bertambah?

Ali menyebut pendekatan ekoteologi dapat menjadi fondasi moral dalam mitigasi dan pemulihan pascabencana. Prinsip seperti khalifah dan mizan dalam ajaran agama, kata dia, menempatkan manusia sebagai penjaga keseimbangan alam.

“Pemulihan pascabencana harus bersifat holistik. Trauma bukan hanya luka fisik atau psikis manusia, tetapi juga luka pada ekosistem. Restorasi lingkungan dan pemberdayaan keagamaan menjadi bagian dari proses penyembuhan bersama,” ujarnya.

Menurut para peneliti, integrasi aspek ekologis, sosial, dan spiritual dalam penanganan pascabencana penting untuk membangun ketahanan masyarakat secara berkelanjutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau