Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Di banyak percakapan, sekolah berasrama kerap dilekatkan dengan stigma yang kurang sedap: kumuh, pengap, dan tak terkelola dengan baik. Label itu tak jarang muncul begitu saja, tanpa melihat dinamika di dalamnya.
Bagi Diaz Alief Nurilyas, guru di SMA Al Umanaa Boarding School, Sukabumi, Jawa Barat stigma itu justru menjadi titik awal perubahan.
Ia mempertanyakan anggapan tersebut. Apakah sekolah berasrama memang tak mungkin menjadi ruang yang bersih, rapi, dan sehat?
Baca juga: 3 Bulan Pasang Trash Boom, Puluhan Ton Sampah Tertahan Tak Cemari Teluk Ambon
Pertanyaan itu tidak berhenti sebagai kegelisahan pribadi, namun menjadi Collective Eco Initiative (CEI) yakni sebuah sistem pengelolaan sampah terpadu yang kini dijalankan bersama para siswa di lingkungan asrama.
Lewat proyek tersebut, Diaz bersama tim Konsep 3R Al Umanaa berhasil meraih penghargaan di Kompetisi ASRI 2025 kategori "Waste Management". Namun bagi Diaz, capaian itu bukanlah tujuan utama.
“Di tengah masyarakat masih sangat kuat paradigma bahwa sekolah berasrama identik dengan lingkungan yang kumuh dan tidak sehat. Dari situ saya bertanya, apakah memang tidak mungkin sekolah berasrama menjadi lingkungan yang bersih dan rapi?” ujarnya.
Di lingkungan asrama, produksi sampah adalah konsekuensi tak terhindarkan dari aktivitas ratusan siswa setiap hari. Masalahnya, pengelolaan sering kali berjalan sporadis, yakni sebatas imbauan kebersihan atau jadwal piket.
CEI kemudian hadir sebagai sistem, bukan sekadar kampanye. Konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) diterapkan secara terintegrasi. Limbah organik diolah menggunakan maggot Black Soldier Fly, yang mampu mengurai sisa makanan dengan cepat sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Proses lanjutan memanfaatkan eco enzyme, sementara barang-barang layak pakai dijual kembali melalui program garage sale.
Dalam setahun, sistem ini mampu mengelola sekitar 90.000 kantong sampah dari lingkungan asrama.
Baca juga: Pemprov Jabar Buka Kemungkinan Kerja Sama Pemilahan Sampah pakai AI
Namun perjalanan itu tidak instan. Kebiasaan lama tak mudah diubah. Ada penyesuaian, ada resistensi kecil, ada proses belajar bersama. Perlahan, pola pikir berubah. Sampah tak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai tanggung jawab kolektif.
Keterlibatan dalam ASRI Awards menjadi fase penting bagi perkembangan CEI ini. Proyek tersebut tidak hanya dinilai, tetapi juga didampingi dan disempurnakan melalui proses mentoring.
Diskusi dengan berbagai pihak, mulai dari dunia usaha, komunitas, hingga akademisi seperti perwakilan Unilever dan Institut Pertanian Bogor, membuka perspektif baru. Di situlah Diaz menyadari sesuatu yang lebih besar.
“Saya menyadari bahwa proyek ini bukan sekadar lomba, melainkan gerakan perubahan. Jika bisa berjalan di sekolah kami, seharusnya juga bisa diterapkan di banyak sekolah lain yang punya tantangan yang sama,” katanya.
CEI bukan lagi proyek internal. Ia berpotensi menjadi model replikasi bagi sekolah berasrama lain yang menghadapi persoalan serupa.
Bagi Diaz, inti dari CEI bukan hanya pada pengurangan sampah. Yang lebih penting adalah perubahan cara pandang.
Sekolah berasrama tak harus identik dengan lingkungan kumuh. Dengan sistem yang jelas, komitmen bersama, dan keterlibatan siswa, asrama bisa menjadi ruang hidup yang sehat dan tertata.
Baca juga: Hari Peduli sampah Nasional 2026: Tema hingga Sejarahnya
Selama lebih dari delapan tahun, sistem pengelolaan sampah di Al Umanaa terus berjalan dan berkembang. Namun harapannya tak berhenti di situ. Diaz berharap ada dukungan yang lebih luas, termasuk dari pemerintah, baik dalam bentuk kebijakan, pendampingan, maupun perluasan implementasi.
Tujuan akhirnya sederhana, yakni menjadikan budaya bersih dan rapi sebagai identitas. Ketika kebersihan bukan lagi kewajiban, melainkan kebiasaan bersama, maka keberlanjutan tidak terasa sebagai beban. Ia menjadi kebutuhan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya