Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bersama Siswa, Guru di Sekolah Ini Kembangkan Sistem untuk Olah 90.000 Kantong Sampah

Kompas.com, 25 Februari 2026, 16:37 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Di banyak percakapan, sekolah berasrama kerap dilekatkan dengan stigma yang kurang sedap: kumuh, pengap, dan tak terkelola dengan baik. Label itu tak jarang muncul begitu saja, tanpa melihat dinamika di dalamnya.

Bagi Diaz Alief Nurilyas, guru di SMA Al Umanaa Boarding School, Sukabumi, Jawa Barat stigma itu justru menjadi titik awal perubahan.

Ia mempertanyakan anggapan tersebut. Apakah sekolah berasrama memang tak mungkin menjadi ruang yang bersih, rapi, dan sehat?

Baca juga: 3 Bulan Pasang Trash Boom, Puluhan Ton Sampah Tertahan Tak Cemari Teluk Ambon

Pertanyaan itu tidak berhenti sebagai kegelisahan pribadi, namun menjadi Collective Eco Initiative (CEI) yakni sebuah sistem pengelolaan sampah terpadu yang kini dijalankan bersama para siswa di lingkungan asrama.

Lewat proyek tersebut, Diaz bersama tim Konsep 3R Al Umanaa berhasil meraih penghargaan di Kompetisi ASRI 2025 kategori "Waste Management". Namun bagi Diaz, capaian itu bukanlah tujuan utama.

“Di tengah masyarakat masih sangat kuat paradigma bahwa sekolah berasrama identik dengan lingkungan yang kumuh dan tidak sehat. Dari situ saya bertanya, apakah memang tidak mungkin sekolah berasrama menjadi lingkungan yang bersih dan rapi?” ujarnya.

Dari Sampah Jadi Sistem

Di lingkungan asrama, produksi sampah adalah konsekuensi tak terhindarkan dari aktivitas ratusan siswa setiap hari. Masalahnya, pengelolaan sering kali berjalan sporadis, yakni sebatas imbauan kebersihan atau jadwal piket.

CEI kemudian hadir sebagai sistem, bukan sekadar kampanye. Konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) diterapkan secara terintegrasi. Limbah organik diolah menggunakan maggot Black Soldier Fly, yang mampu mengurai sisa makanan dengan cepat sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi.

Proses lanjutan memanfaatkan eco enzyme, sementara barang-barang layak pakai dijual kembali melalui program garage sale.

Dalam setahun, sistem ini mampu mengelola sekitar 90.000 kantong sampah dari lingkungan asrama.

Baca juga: Pemprov Jabar Buka Kemungkinan Kerja Sama Pemilahan Sampah pakai AI

Namun perjalanan itu tidak instan. Kebiasaan lama tak mudah diubah. Ada penyesuaian, ada resistensi kecil, ada proses belajar bersama. Perlahan, pola pikir berubah. Sampah tak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai tanggung jawab kolektif.

Lebih dari Sekadar Lomba

Keterlibatan dalam ASRI Awards menjadi fase penting bagi perkembangan CEI ini. Proyek tersebut tidak hanya dinilai, tetapi juga didampingi dan disempurnakan melalui proses mentoring.

Diskusi dengan berbagai pihak, mulai dari dunia usaha, komunitas, hingga akademisi seperti perwakilan Unilever dan Institut Pertanian Bogor, membuka perspektif baru. Di situlah Diaz menyadari sesuatu yang lebih besar.

“Saya menyadari bahwa proyek ini bukan sekadar lomba, melainkan gerakan perubahan. Jika bisa berjalan di sekolah kami, seharusnya juga bisa diterapkan di banyak sekolah lain yang punya tantangan yang sama,” katanya.

CEI bukan lagi proyek internal. Ia berpotensi menjadi model replikasi bagi sekolah berasrama lain yang menghadapi persoalan serupa.

Mengubah Identitas Sekolah Berasrama

Bagi Diaz, inti dari CEI bukan hanya pada pengurangan sampah. Yang lebih penting adalah perubahan cara pandang.

Sekolah berasrama tak harus identik dengan lingkungan kumuh. Dengan sistem yang jelas, komitmen bersama, dan keterlibatan siswa, asrama bisa menjadi ruang hidup yang sehat dan tertata.

Baca juga: Hari Peduli sampah Nasional 2026: Tema hingga Sejarahnya

Selama lebih dari delapan tahun, sistem pengelolaan sampah di Al Umanaa terus berjalan dan berkembang. Namun harapannya tak berhenti di situ. Diaz berharap ada dukungan yang lebih luas, termasuk dari pemerintah, baik dalam bentuk kebijakan, pendampingan, maupun perluasan implementasi.

Tujuan akhirnya sederhana, yakni menjadikan budaya bersih dan rapi sebagai identitas. Ketika kebersihan bukan lagi kewajiban, melainkan kebiasaan bersama, maka keberlanjutan tidak terasa sebagai beban. Ia menjadi kebutuhan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
LSM/Figur
Wamendiktisaintek: Berpikir Kritis Jadi Kunci agar Manusia Tak Tergantikan AI
Wamendiktisaintek: Berpikir Kritis Jadi Kunci agar Manusia Tak Tergantikan AI
Pemerintah
Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang
Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang
Pemerintah
Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Pemerintah
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
Pemerintah
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Swasta
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
Pemerintah
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
Pemerintah
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Pemerintah
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
Pemerintah
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Pemerintah
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
Pemerintah
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
LSM/Figur
Tak Cukup Bayar Retribusi, Pengguna Air Tanah Bakal Wajib Pulihkan Cadangan Air
Tak Cukup Bayar Retribusi, Pengguna Air Tanah Bakal Wajib Pulihkan Cadangan Air
Pemerintah
Sisi Lain Transisi Energi, Ada Jejak Litium di Air Rumah Tangga Selama 15 Tahun
Sisi Lain Transisi Energi, Ada Jejak Litium di Air Rumah Tangga Selama 15 Tahun
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau