Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Melacak Perdagangan Satwa Liar di Era Pasar Online

Kompas.com, 27 Februari 2026, 13:25 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Perdagangan satwa liar merupakan salah satu perdagangan ilegal paling luas di dunia yang berkontribusi pada hilangnya keanekaragaman hayati, kejahatan terorganisir, dan risiko kesehatan masyarakat.

Perdagangan ini dulunya terkonsentrasi di pasar fisik, namun kini sebagian besar aktivitas ini telah berpindah ke dunia maya. Hewan dan produk hewani ilegal tersebut diiklankan di platform e-commerce besar bercampur dengan barang kebutuhan sehari-hari.

Perubahan ini memang membuat penegakan hukum jadi lebih sulit, tetapi di sisi lain, aktivitas di internet ini menciptakan sumber data baru yang sangat berharga untuk melacak para pelaku.

Sumber data baru

Melansir Phys, Kamis (26/2/2026) setiap iklan di internet meninggalkan jejak digital seperti deskripsi, harga, foto, informasi penjual, dan waktu posting.

Kalau semua data ini dikumpulkan dan dianalisis dalam jumlah besar, para peneliti bisa memahami cara kerja sindikat perdagangan satwa ilegal secara online.

Masalah utamanya adalah jumlah iklannya yang sangat banyak. Situs jual-beli online punya jutaan iklan, dan saat kita mencari nama hewan, hasil yang muncul kebanyakan justru tidak relevan, seperti mainan, pajangan, atau suvenir.

Baca juga: Terobosan Investigasi: Pakai AI untuk Bongkar Perdagangan Satwa Liar Global

Membedakan mana iklan hewan sungguhan dan mana sekadar mainan biasa sangat sulit kalau dilakukan manual, dan cukup rumit kalau mau dibuatkan sistem otomatisnya.

Juliana Freire, seorang profesor ilmu komputer dari NYU Tandon School of Engineering di New York, bersama timnya berupaya mengatasi tantangan tersebut secara langsung dengan membangun sistem yang mampu menangani data dalam jumlah besar.

Mereka menciptakan alur kerja otomatis yang dapat mengumpulkan iklan terkait satwa liar dari internet dan menyaringnya menggunakan teknologi kecerdasan buatan terkini.

Tujuan mereka bukan hanya memantau satu jenis hewan atau satu situs saja, melainkan memungkinkan pemantauan secara luas dan sistematis di berbagai platform, wilayah, dan bahasa.

Selain itu, mereka juga mengembangkan strategi untuk melumpuhkan pasar ilegal tersebut. Temuan mereka telah diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the ACM on Management of Data.

Hasil analisis e-commerce

Penelitian ini pun memungkinkan pengumpulan data besar-besaran untuk menjawab berbagai pertanyaan ilmiah dan memberikan gambaran tentang seluk-beluk perdagangan satwa liar.

Salah satu analisis terhadap 14.000 iklan produk kulit reptil di eBay menunjukkan bahwa kulit buaya, aligator, dan ular piton mendominasi pasar tersebut.

Sementara itu hanya sekitar 10 jenis produk hewan seperti tas yang terbuat dari kulit reptil, yang menyumbang 72 persen dari total iklan.

Ini menunjukkan bahwa perdagangan ilegal ini sebenarnya sangat terfokus pada segelintir barang mewah saja.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau