Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 2 Maret 2026, 19:16 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

Persoalan tersebut tecermin dalam temuan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 OJK.

Menurut survei itu, tingkat literasi keuangan nasional tercatat 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Dengan kata lain, terdapat gap 14,05 poin antara masyarakat yang memiliki akses ke layanan keuangan dan mereka yang benar-benar memahami cara mengelolanya.

“Angka ini menunjukkan satu realitas penting, yakni akses tumbuh lebih cepat ketimbang pemahaman (terhadap pengelolaan keuangan),” tutur Ludy.

Kondisi itulah yang sebelumnya juga dialami sebagian petani nilam di Lhoong, ketika akses terhadap lembaga keuangan belum diimbangi kemampuan pencatatan dan pengelolaan usaha.

Adapun kelompok petani, peternak, pekebun, dan nelayan yang merupakan bagian dari sektor UMKM memperoleh nilai indeks literasi dan inklusi yang berada di bawah rata-rata nasional. Artinya, kelompok yang paling membutuhkan pembiayaan produktif justru memiliki tingkat pemahaman keuangan yang relatif lebih rendah.

Ludy menegaskan bahwa meski gap tersebut mengecil jika dibandingkan 2024, pekerjaan rumah belum selesai. OJK secara konsisten menggiatkan literasi dan inklusi keuangan, khususnya pada kelompok dengan indeks terendah.

Dia pun mengakui bahwa upaya tersebut tidak bisa dilakukan sendiri. Kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk International Labour Organization (ILO), menjadi bagian penting dalam mempersempit kesenjangan tersebut.

Baca juga: Jokowi: Kopi, Kakao, Lada, dan Nilam Jangan Diekspor Mentah

Dalam konteks tersebut, sejumlah pendekatan berbasis ekosistem mulai diperkenalkan. Salah satunya melalui proyek Promoting Micro SMEs through Improved Governance Access to Financial Services tahap dua atau Promise II Impact yang didukung ILO.

Project Manager Promise II Impact Djauhari Sitorus menjelaskan bahwa proyek tersebut berangkat dari refleksi kritis atas pendekatan pembangunan sebelumnya.

“Pengalaman di banyak sektor menunjukkan, kredit tanpa ekosistem justru bisa menjadi beban. Tanpa kepastian pasar dan kapasitas usaha, tambahan modal tidak otomatis meningkatkan pendapatan,” jelas Djauhari.

Menurut Djauhari, selama ini, keberhasilan program sering kali diukur dari jumlah penerima manfaat atau nilai kredit tersalurkan. Padahal, indikator tersebut belum tentu mencerminkan keberlanjutan usaha.

“Kalau program selesai lalu petani kembali ke pola lama, berarti intervensinya belum menyentuh akar masalah. Ekosistem harus tetap berjalan meski proyek sudah selesai,” tambah dia.

Project Manager Promise II Impact Djauhari Sitorus dalam diskusi media bertajuk ?Inklusi Keuangan dan Keberlanjutan UMKM melalui Promise II Impact? di Jakarta, Kamis (12/2/2026)KOMPAS.com/ANINGTIAS JATMIKA Project Manager Promise II Impact Djauhari Sitorus dalam diskusi media bertajuk ?Inklusi Keuangan dan Keberlanjutan UMKM melalui Promise II Impact? di Jakarta, Kamis (12/2/2026)

Sebagai informasi, Promise II Impact mengusung pendekatan ekosistem rantai nilai (value chain). Artinya, intervensi tidak hanya menyasar petani sebagai individu, tetapi seluruh mata rantai yang terhubung, mulai dari pemasok bibit dan sarana produksi, petani, pengolah, offtaker, koperasi, hingga lembaga keuangan.

Dengan pendekatan ini, risiko tidak ditanggung oleh satu pihak saja. Rantai nilai dibangun agar setiap aktor memiliki peran dan kepentingan yang saling menguatkan.

Tiga komoditas prioritas, satu pendekatan ekosistem

Promise II Impact tidak hanya berfokus pada nilam di Aceh. Proyek ini juga menyasar rumput laut di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, serta susu sapi di Pangalengan, Jawa Barat.

Ketiga komoditas tersebut dipilih karena memiliki pasar yang jelas, potensi ekspor atau substitusi impor, serta kontribusi signifikan terhadap ekonomi daerah.

Pendekatannya sama, yakni membangun ekosistem dan bukan sekadar menyalurkan pembiayaan.

Baca juga: ILO Dorong Literasi Keuangan Untuk Perkuat UMKM dan Pekerja Informal Indonesia

Minyak nilam merupakan bahan baku penting dalam industri parfum, kosmetik, dan produk perawatan kulit, dengan potensi nilai tambah yang besar bagi petani lokal.

Di Jawa Barat sendiri, penguatan sektor susu sapi tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas dan produktivitas, tetapi juga menjawab tingginya kebutuhan domestik yang masih bergantung pada impor. Upaya ini sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi peternak agar mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi permintaan pasar yang terus tumbuh.

Sementara itu, rumput laut di Sumba dikembangkan sebagai komoditas unggulan berorientasi ekspor yang berkontribusi pada peningkatan pendapatan pelaku usaha di daerah pesisir.

Tanpa sistem yang kuat, seluruh potensi tersebut tidak sepenuhnya terkonversi menjadi kesejahteraan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau