Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Babak Baru Kasus Anak Gajah Mati di TN Tesso Nilo, Polisi Tangkap Tersangka

Kompas.com, 3 Maret 2026, 09:14 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laki-laki berinisial JM (44) ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus anak gajah yang mati di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Menurut Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, JM merupakan pemilik lahan di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau. 

Berdasarkan olah tempat kejadian perkara, satwa dilindungi tersebut diduga mengalami infeksi serius akibat jeratan tali yang dipasang secara ilegal, tepatnya di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Baca juga:

"Tersangka JM merambah hutan TNTN untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Penetapan tersangka dilakukan setelah proses pemeriksaan saksi, ahli, serta analisis dokumen dan peta kawasan hutan," kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, Kombes Ade Kuncoro Ridwan, dilaporkan oleh Kompas.com, Senin (2/3/2026).

Anak gajah mati di TN Tesso Nilo, polisi tetapkan tersangka

Jerat yang dipasang sebabkan luka berat pada anak gajah

Kapolda Riau bersama BBKSDA Riau saat mengecek kondisi anak gajah yang mati di kawasan TNTN, Kabupaten Pelalawan, Riau, Kamis (26/2/2026).KOMPAS.COM/Dok. Polda Riau. Kapolda Riau bersama BBKSDA Riau saat mengecek kondisi anak gajah yang mati di kawasan TNTN, Kabupaten Pelalawan, Riau, Kamis (26/2/2026).

Dalam proses penyidikan, tim menemukan adanya aktivitas perkebunan kelapa sawit dan patok kepemilikan lahan di dalam kawasan hutan konservasi, yang mana sudah ditetapkan dalam keputusan Menteri Kehutanan.

Penyidik kemudian memeriksa keterangan saksi dan ahli, sekakigus menganalisis pemetaan kawasan.

Tersangka JM dijerat dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Tersangka terancam pidana penjara maksimal 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar.

Sementara itu, Kapolda Riau, Herry Heryawan menyampaikan jerat yang dipasang JM menyebabkan luka berat dan infeksi serius hingga berujung pada kematian anak gajah.

"Ini adalah tindak pidana serius di kawasan konservasi. Tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak keseimbangan ekosistem yang menjadi penopang kehidupan bersama," kata Herry.

"Saya tegaskan, tidak ada toleransi terhadap perusakan lingkungan dan pembunuhan satwa dilindungi. Penegakan hukum akan dilakukan secara profesional, transparan, dan tuntas," imbuh dia.

Sementara ini, polisi masih menjalankan proses penyidikan guna mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain. Di samping itu, Herry menyatakan bahwa pihaknya turut menangani kasus gajah tapa kepala di Pelalawan.

"Akan kami sampaikan secara resmi dalam konferensi pers pada Selasa 3 Maret 2026," tutur dia.

Baca juga:

Gajah sumatera terancam punah

Kasus anak gajah mati di TN Tesso Nilo, Riau, memasuki babak baru. Polisi tangkap tersangka yang terancam hingga 15 tahun penjara.ANTARA FOTO Kasus anak gajah mati di TN Tesso Nilo, Riau, memasuki babak baru. Polisi tangkap tersangka yang terancam hingga 15 tahun penjara.

Diberitakan sebelumnya, anak gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis)
ditemukan tewas, Kamis (26/2/2026) pukul 12.00 WIB.

Petugas menemukan anak gajah tersebut dalam kondisi telah menjadi bangkai dan mengalami proses pembusukan lanjut.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau