Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"

Kompas.com, 7 Maret 2026, 09:44 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira menilai, kesepakatan dagang terbaru antara Indonesia dengan Amerika Serikat (AS), Agreement on Reciprocal Trade (ART) tidak mendukung kemandirian energi nasional.

ART justru menguatkan ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil. Padahal, eskalasi konflik antara AS dan Israel melawan Iran semestinya menjadi momentum untuk memikirkan ulang betapa bergantungnya Indonesia dengan impor bahan bakar minyak (BBM).

"Sudah menjadi negara net importir, stoknya 20 hari dan di beberapa daerah, saya lihat di Aceh sudah mulai terjadi antrean di SPBU. Jadi, sudah mulai ada riak-riak mendekati Ramadan, terutama mudik dan pasca-Lebaran semua berpikir," ujar Bhima dalam webinar, Kamis (5/3/2026).

Baca juga: Serangan AS-Israel ke Iran Picu Harga Minyak Global Naik, Bagaimana Harga BBM di Indonesia?

Di dalam ART, Indonesia diwajibkan mengimpor minyak dan gas (migas) dari AS senilai 15 miliar dolar AS atau setara Rp 253,3 triliun. Ini memperlebar defisit necara perdagangan migas dan memperlemah kurs rupiah, karena harga minyak dari AS lebih mahal sekitar 2–6 dolar per barel dibandingkan harga acuan MOPS Singapura.

"Apakah ini masuk dalam kerugian negara? Bisa ya, karena perjanjian ini bisa memicu kerugian dari sisi ongkos untuk subsidi dan kompensasi BBM yang jauh lebih mahal dan jelas akan menghambat transisi energi," tutur Bhima.

Menurut Bhima, Indonesia perlu melakukan transisi ke energi baru terbarukan (EBT) untuk mendukung elektrifikasi transportasi publik. Namun, belakangan ini malah muncul narasi di publik bahwa solusi atas krisis minyak adalah impor dari AS dan biodiesel atau bahan bakar nabati.

BBM Campuran Tak Jawab Persoalan

Bhima menganggap, kombinasi impor minyak dari AS dan peningkatan persentase campuran biodiesel tidak dapat menjawab permasalahan kenaikan minyak global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kombinasi mengimpor minyak dari AS dan memperluas lahan perkebunan kelapa sawit dengan alih fungsi hutan untuk peningkatan persentase campuran biodiesel ke solar, bukanlah pilihan yang tepat.

"Ada kekhawatiran orang lupa bahwa bencana di Sumatera kemarin, salah satu perusahaan yang dicabut izinnya itu juga terkait dengan masalah perkebunan sawit yang cukup ekspansif. Itu termasuk food estate, energy estate di Merauke ini bisa menimbulkan double hit karena sawit tetap harus dicampur dengan BBM," ucapnya.

Kesepakatan dalam ART juga mencakup kewajiban pencampuran bioetanol sebesar 10 persen pada 2030. Kebijakan mencampurkan bahan bakar nabati ini ke bensin, berisiko mendorong ekspansi pembukaan lahan skala besar. Khususnya, di wilayah Merauke, Papua, yang saat ini menjadi lokasi Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk food estate dan energi.

Indonesia juga diwajibkan mengimpor bioetanol dan batu bara dari AS. Padahal, Indonesia merupakan salah satu produsen batu bara terbesar di dunia dan saat ini sedang melakukan pengurangan produksi domestik.

Baca juga: AS dan Venezuela, Ekstraksi Minyak Ekstensif Tingkatkan Emisi Metana

Selain itu, AS mendukung Indonesia untuk membangun fasilitas daur ulang. AS membantu pembangunan fasilitas daur ulang agar Indonesia tidak mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) di pulau-pulau kecil. Ini berpotensi mengulang permasalahan Indonesia mengimpor limbah plastik dari AS untuk menjadi bahan baku industri daur ulang.

"Kita disuruh mengolah limbah. Ini ceritanya mirip kayak jebol limbah plastik. Jadi, Indonesia justru dua-duanya jalan, eksploitasi SDA buka tambangnya, izin tambangnya terus jalan, tapi kita seolah-olah mau daur ulang, padahal enggak, padahal jadi tempat sampah untuk limbah elektronik," ujar Bhima.

Di dalam ART, tidak ada klausul divestasi di sektor pertambangan. Dengan meratifikasi ART, transfer teknologi, joint venture, dan kerja sama akan semakin sulit, karena menabrak UU Minerba dan banyak regulasi lainnya.

"Jangankan BUMN, ormas saja enggak mungkin kerja sama dengan perusahaan AS pasca ratifikasi ART ini,"ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau