Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau

Kompas.com, 10 April 2026, 20:33 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut hujan ringan hingga lebat bakal melanda sejumlah wilayah selama sepekan ke depan. Hujan masih terjadi di tengah masa peralihan ke musim kemarau.

"Periode 10 sampai 16 April 2026 cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat," kata BMKG dalam keterangannya, Jumat (10/4/2026).

Wilayah yang perlu waspada antara lain Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Banten, Jakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Baca juga: Menurut BMKG, Curah Hujan 2026 akan Lebih Rendah dari Curah Hujan 30 Tahun Terakhir

Kemudian, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, serta Papua Selatan.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi. Dalam periode itu, kondisi cuaca di Indonesia masih dipengaruhi dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal.

BMKG menjelaskan, fenomena El Nino–Southern Oscillation (ENSO) masih berada pada fase netral, sehingga belum berdampak signifikan terhadap awan hujan.

Sementara, Dipole Mode Index (DMI) tercatat sebesar minus 0.14 dan juga berada pada fase netral, yang menandakan belum adanya suplai massa udara dari Samudra Hindia bagian timur Afrika ke Indonesia bagian barat, sehingga pengaruhnya terhadap pola curah hujan masih relatif terbatas.

"Pada skala regional, monsun Australia terpantau semakin menguat dan diprakirakan tetap dominan dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini menyebabkan peningkatan aliran massa udara dari Australia menuju Indonesia yang umumnya bersifat lebih kering," jelas BMKG. 

Baca juga: BNPB Siapkan Water Bombing Hadapi Karhutla Selama Musim Kemarau

Di sisi lain, analisis angin zonal menunjukkan dominasi angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia yang mengindikasikan bahwa beberapa daerah mulai memasuki masa peralihan menuju musim kemarau.

Meski demikian, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan bakal melintasi sebagian wilayah Sumatera, Perairan selatan Banten, dan Perairan utara Papua, berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di kawasan tersebut. Gelombang rossby ekuatorial yang bergerak ke arah barat diprediksi aktif di sebagian wilayah Jawa, Bali, NTB, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, serta sebagian Papua.

Gelombang kelvin yang bergerak ke arah timur juga bakal aktif melintasi sebagian besar Sumatera, Kalimantan, dan sebagian Papua.

"Keberadaan sistem-sistem ini dapat memicu terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi yang mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah terdampak," beber BMKG.

BMKG mencatat hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di sejumlah wilayah delama 6-8 April 2026. Curah hujan tertinggi dengan intensitas lebat terpantau di Papua Barat (190.7 mm/hari), Yogyakarta (87.4 mm/hari), Kalimantan Tengah (86.4 mm/hari), Papua (84.0 mm/hari), Sumatera Barat (84.1 mm/hari), Sumatera Utara (75.0 mm/hari) dan Lampung (73.5 mm/hari).

Baca juga: Hujan di Indonesia Diprediksi hingga Akhir Maret 2026, Panas Masih Mengintai

"Dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer yang masih signifikan dalam beberapa hari ke depan, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi," beber BMKG.

Pengendara diminta waspada terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, yang berpotensi mengganggu kelancaran perjalanan. Selain itu, masyarakat perlu mewaspadai potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir dengan menghindari berteduh di area yang rentan.

Anda daiat memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi melalui laman http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau