KOMPAS.com - Laporan PBB memperingatkan perpecahan global, ketegangan geopolitik dan berbagai konflik berisiko memundurkan kemajuan pembangunan yang telah dicapai selama puluhan tahun.
PBB pun menyebut perlunya peningkatan investasi demi mencapai target-target yang telah disepakati secara internasional.
Melansir laman resmi United Nations, Kamis (9/4/2026) laporan Pembiayaan Pembangunan Berkelanjutan 2026 tersebut meninjau kemajuan Komitmen Sevilla, yaitu kesepakatan tahun 2025 yang bertujuan mengamankan dana 4 triliun dolar AS (sekitar Rp68.456 triliun) setiap tahunnya.
Dana ini dibutuhkan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada akhir dekade ini.
Baca juga: Asia-Pasifik Terancam Gagal Capai Target SDG PBB
Laporan kemudian memaparkan meskipun diperlukan peningkatan investasi besar-besaran untuk mencapai target pembangunan dalam empat tahun ke depan, Li Junhua, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Ekonomi dan Sosial (DESA) menyebut kesenjangan pembiayaan justru semakin lebar.
Bantuan pembangunan merosot tajam di saat negara-negara berkembang terutama yang paling miskin dan rentan menghadapi lonjakan biaya akibat kerusakan lingkungan dan dampak iklim, tingginya biaya modal, serta tekanan utang yang terus menumpuk.
Beberapa temuan dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa Bantuan Pembangunan Resmi (ODA) merosot 6 persen pada tahun 2024 dan anjlok lagi sebesar 23 persen di tahun berikutnya. Sementara itu, beban pembayaran utang telah mencapai titik tertinggi dalam 20 tahun terakhir.
“Negara-negara besar sedang merombak aliansi perdagangan dan investasi mereka, yang sering kali merugikan negara-negara termiskin. Hal ini merusak dasar-dasar kerja sama global,” lapor PBB.
Sebagai contoh, rata-rata tarif pajak ekspor dari negara-negara paling tertinggal di dunia (LDCs) melonjak dari 9 persen menjadi 28 persen pada tahun 2025.
Untuk negara berkembang lainnya (tidak termasuk China), rata-rata tarif naik dari 2 persen menjadi 19 persen, meningkat lebih dari delapan kali lipat.
Baca juga: Isu SDGs Masih Minim Dikenal, Alumni SDG Academy Indonesia Terjun ke Sekolah
Selain itu, konflik di Timur Tengah telah memicu guncangan besar terhadap ekonomi global yang memang sudah rapuh. Negara-negara berkembang pun mulai merasakan dampaknya, mulai dari masalah energi, pangan, perdagangan, hingga keberlanjutan utang mereka.
Kendati demikian laporan menyoroti sejumlah perkembangan positif, termasuk rekor tertinggi pengeluaran untuk energi terbarukan pada tahun 2024 yang mencapai 2,2 triliun dolar AS (sekitar Rp37.650 triliun), atau dua kali lipat dari investasi pada bahan bakar fosil.
Selain itu, perdagangan Selatan-Selatan yaitu perdagangan antar sesama negara berkembang juga meningkat empat kali lipat selama 20 tahun terakhir.
“Menerapkan Komitmen Sevilla tetap menjadi satu-satunya jalan yang layak untuk menjembatani kesenjangan pembiayaan menuju SDGs,” simpul Li.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya