Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
INKLUSIVITAS

Saat Meja Bar Kopi Jadi Ruang Tumbuh Barista Indonesia hingga Bawa ke Panggung Dunia

Kompas.com, 25 Februari 2026, 11:39 WIB
JCB ATS,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Dari balik racikan kopi yang tampak sederhana, sejumlah barista Indonesia menempuh perjalanan panjang hingga melanglang buana dan mengharumkan nama bangsa di mancanegara. Kisah mereka bukan semata tentang kompetisi, melainkan tentang proses, ketekunan, dan ruang tumbuh yang dirawat pelan-pelan di balik bar.

Jumat (30/1/2026), Dhira Dahni berdiri tenang di balik meja Coffee Lab Starbucks Adhyksa, Jakarta. Apron hitam menempel rapi di tubuhnya. Di hadapannya, tiga cangkir kopi berjajar lurus. Tak ada hiasan. Tak ada petunjuk visual. Hanya cairan hitam dengan aroma yang menguar di udara.

Dahni menunduk, mengamati permukaan kopi, lalu menyendok perlahan. Sesaat kemudian, bunyi “slurppp” memecah keheningan, cara khas para cup taster menyeruput kopi agar cairan menyebar ke seluruh rongga mulut.

Bagi orang awam, bunyi itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi Dahni, momen itu adalah detik-detik penuh ketegangan.

Di kepalanya, rasa sedang dirangkai, mulai dari aroma, keasaman, body, hingga aftertaste. Tiga cangkir itu bukan sekadar sampel. Dalam satu set cup taster, dua cangkir berisi kopi yang sama, sedangkan satu cangkir lainnya berbeda. Tugasnya adalah menemukan cup yang “ganjil” dalam waktu terbatas.

Baca juga: Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi

“Alat utama kami bukan mesin kopi, melainkan sendok dan sensory,” ujar Dahni saat mendemonstrasikan kompetisi cup taster kepada Kompas.com.

Di titik inilah pengalaman, ketelitian, dan ketenangan diuji bersamaan.

Dengan persiapan matang serta dukungan Tim Starbucks dari Departemen Coffee and Partner Engagement, Learning & Development, dan komunitas kopi, Dahni keluar sebagai juara Indonesia Cup Taster Championship 2020/2021 dan lanjut mewakili Indonesia di World Cup Taster Championship 2020/2021 di Milan, Italia. KOMPAS.com/Agung Dwi E Dengan persiapan matang serta dukungan Tim Starbucks dari Departemen Coffee and Partner Engagement, Learning & Development, dan komunitas kopi, Dahni keluar sebagai juara Indonesia Cup Taster Championship 2020/2021 dan lanjut mewakili Indonesia di World Cup Taster Championship 2020/2021 di Milan, Italia.

Dari nongkrong ke kompetisi

Dahni merupakan salah satu partner atau barista Starbucks berprestasi. Ia pernah menjadi juara Indonesia Cup Tasters Championship (ICTC) 2021 yang digelar Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (SCAI), kompetisi yang mempertemukan cup taster dari seluruh Indonesia.

Prestasi itu mengantarkan Coffee Master asal Bali tersebut ke panggung dunia, yakni World Cup Tasters Championship (WCTC) 2021 di Milan, Italia.

Siapa sangka, perjalanan Dahni di dunia kopi ternyata bermula dari kebiasaan yang sangat sederhana, yakni nongkrong sambil minum kopi sepulang kerja.

Pada 2018, ia bergabung dengan Starbucks dan memulai kariernya di Starbucks Ubud. Awalnya, kopi hanyalah teman melepas lelah. Perlahan, rasa penasaran tumbuh.

Baca juga: Kopi, Bahasa Isyarat, dan Rasa Aman

Ia mulai rajin mengikuti sesi tasting, mencoba berbagai origin, serta mempelajari karakter rasa. Dari sana, dunia kopi tak lagi terasa datar. Ada kompleksitas, ada tantangan, dan ada cerita.

“Saya lihat di YouTube, waktu itu kompetisi cup taster lagi ramai. Karena sering tasting, jadi tertarik ikut,” tutur Dahni.

Modalnya saat itu hanya nekat. Baru satu-dua bulan bekerja, ia berangkat ke Makassar untuk mengikuti eliminasi wilayah timur ICTC 2019. Di ajang itu, Dahni hanya mampu melaju hingga babak preliminary nasional.

“Kalah itu rasanya campur aduk,” katanya pelan.

Kekalahan tersebut justru menjadi titik balik. Dahni mulai berkenalan dengan sistem latihan yang lebih terstruktur. Ia berdiskusi dengan tim Learning & Development (L&D), menyusun pola latihan, dan belajar membaca kekurangannya sendiri.

Ia menyusun ulang persiapan, berlatih lebih disiplin, dan membangun training plan bersama mentor-mentor yang ia percaya.

Baca juga: Rayakan 2 Dekade Perjalanan, Gerai Pertama Starbucks Indonesia Bersolek

“Puasa rasa” demi ketajaman lidah

Menjelang ICTC 2020/2021, Dahni menjalani ritual yang terdengar ekstrem bagi sebagian orang. Ia menyebutnya “puasa rasa”.

Selama sekitar dua pekan, ia menghindari alkohol, makanan pedas, dan hidangan berbumbu kuat. Menu hariannya dibuat sesederhana mungkin: nasi putih, nasi goreng tanpa garam, hingga makanan netral yang tidak “mengotori” lidah. Tujuannya satu, menjaga kepekaan indra perasa.

Cup taster itu bukan cuma soal cepat, melainkan soal kebersihan sensory,” ujar Dahni.

Dalam satu ronde, peserta harus menebak delapan set cup dalam delapan menit. Semua variabel visual dibuat sama—volume, suhu, dan tampilan. Satu-satunya pembeda hanyalah karakter kopi.

“Di situ latihan, konsistensi, dan ketenangan diuji bersamaan,” katanya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dari Rumah Pertama ke Ketahanan Keluarga, Kala Ekosistem Hunian Bangun Rasa Aman dan Masa Depan
Dari Rumah Pertama ke Ketahanan Keluarga, Kala Ekosistem Hunian Bangun Rasa Aman dan Masa Depan
BUMN
Saat Meja Bar Kopi Jadi Ruang Tumbuh Barista Indonesia hingga Bawa ke Panggung Dunia
Saat Meja Bar Kopi Jadi Ruang Tumbuh Barista Indonesia hingga Bawa ke Panggung Dunia
Swasta
Pekerja Jakarta Tunda Beli Rumah, Harga Mahal Upah Pas-pasan
Pekerja Jakarta Tunda Beli Rumah, Harga Mahal Upah Pas-pasan
LSM/Figur
Meski Punya Dasar Perhitungan, Program 100 GW PLTS Hadapi Tantangan Besar
Meski Punya Dasar Perhitungan, Program 100 GW PLTS Hadapi Tantangan Besar
Pemerintah
Guru MAN di Jakarta Barat Ini Buat Inovasi Kudapan Pencegah Anemia Bagi Remaja Putri
Guru MAN di Jakarta Barat Ini Buat Inovasi Kudapan Pencegah Anemia Bagi Remaja Putri
LSM/Figur
Pasar Keuangan Berkelanjutan Diprediksi Tumbuh Dua Kali Lipat pada 2031
Pasar Keuangan Berkelanjutan Diprediksi Tumbuh Dua Kali Lipat pada 2031
Pemerintah
Industri Fashion Global Hadapi Risiko Finansial Jika Lambat Tanggapi Perubahan Iklim
Industri Fashion Global Hadapi Risiko Finansial Jika Lambat Tanggapi Perubahan Iklim
Pemerintah
50 Persen Padang Rumput di Seluruh Dunia Menyusut Akibat Krisis Iklim pada Akhir Abad Ini
50 Persen Padang Rumput di Seluruh Dunia Menyusut Akibat Krisis Iklim pada Akhir Abad Ini
LSM/Figur
Konfliknya dengan Manusia Makin Parah, Gajah Butuh Kantong Populasi Lebih Banyak
Konfliknya dengan Manusia Makin Parah, Gajah Butuh Kantong Populasi Lebih Banyak
LSM/Figur
PT RMU Buka Lowongan untuk Lulusan Teknik hingga Kehutanan, Ini Syaratnya
PT RMU Buka Lowongan untuk Lulusan Teknik hingga Kehutanan, Ini Syaratnya
Swasta
Tanaman Pangan Pokok Sumbang 11 Persen Deforestasi Global
Tanaman Pangan Pokok Sumbang 11 Persen Deforestasi Global
Pemerintah
Perusahaan Makanan dan Minuman Disebut Gagal Cegah Risiko 'Kerja Paksa'
Perusahaan Makanan dan Minuman Disebut Gagal Cegah Risiko "Kerja Paksa"
Swasta
Studi Ungkap Dampak Tersembunyi Industri Digital Terhadap Perubahan Iklim
Studi Ungkap Dampak Tersembunyi Industri Digital Terhadap Perubahan Iklim
Pemerintah
Krisis Iklim Tekan Program Makan Sekolah, Peneliti Stanford Soroti Dampaknya bagi Anak
Krisis Iklim Tekan Program Makan Sekolah, Peneliti Stanford Soroti Dampaknya bagi Anak
LSM/Figur
Industri Pertambangan Tak Bisa Hanya Good Mining, Harus Jadikan ESG Bagian dari Keputusan Bisnis
Industri Pertambangan Tak Bisa Hanya Good Mining, Harus Jadikan ESG Bagian dari Keputusan Bisnis
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau