AI memungkinkan para pekerja untuk melakukan berbagai kegiatan dengan lebih efektif dan cepat.
Hal itu tidak serta merta berarti perusahaan akan membutuhkan lebih sedikit pekerja, dilansir dari European Central Bank.
Jika sebuah tim memiliki 20 orang sebelum AI, saat ini kemungkinan hanya memiliki 17 orang.
Menurut Walsh, kemungkinan ada lima orang di sisi teknologi yang menangani berbagai tugas, seperti ekstraksi data, analisis, dan transformasi untuk menjalankan AI yang sebenarnya. Secara keseluruhan, hal itu akan membuat tim tersebut berjumlah lebih dari 20 orang.
Hasil survei KPMG AS melaporkan hasil serupa, meski 60 persen di antaranya khawatir tidak akan mampu merekrut pekerja dengan keahlian teknis yang dibutuhkan.
Di luar permasalahan jumlah karyawan, beberapa eksekutif khawatir bahwa AI dapat menghambat pengembangan kepemimpinan.
Kira-kira satu dari tiga CEO responden survei menyebut, berkurangnya kesempatan bagi karyawan yang baru memulai karier untuk membangun penilaian melalui pengalaman sebagai kekhawatiran utama mereka.
Sementara itu, yang lain menunjuk kekhawatiran ketergantungan berlebihan pada AI dalam pengambilan keputusan. Di tingkat lebih rendah, berkurangnya paparan terhadap ambiguitas dan pembelajaran untuk mencoba-coba.
Sebelumnya, European Central Bank (ECB) justru menyebut, tren peningkatan penggunaan AI oleh perusahaan kemungkinan justru menciptakan lapangan pekerjaan.
Berdasarkan survei ECB tentang Access to Finance of Enterprises (Akses ke Pembiayaan Perusahaan), investasi dan penggunaan intensif AI saat ini belum menggantikan pekerja.
Bahkan, beberapa perusahaan justru merekrut karyawan tambahan, kemungkinan karena ingin mengembangkan dan menerapkan teknologi AI sembari mempertahankan proses produksi yang ada.
Kondisi itu mengingat AI diperlakukan sebagai alat untuk membantu perusahaan meningkatkan skala produksi dengan lebih cepat.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya