KOMPAS.com - Banyak CEO perusahaan besar meyakini, adopsi AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) generatif ke dalam pekerjaan cenderung terlalu dibesar-besarkan dalam setahun terakhir, menurut survei KPMG Amerika Serikat (AS).
Namun, sebanyak tiga perempat CEO menyatakan, dampak sebenarnya dan "potensi disruptif" AI selama lima hingga 10 tahun ke depan kemungkinan besar kurang dihargai.
Baca juga:
"Sentimen tentang penerapan AI jelas semakin meningkat," kata ketua dan CEO perusahaan di AS, Tim Walsh, dilansir dari Business Insider, Kamis (12/3/2026).
Banyak perusahaan beralih dari tahap percontohan ke implementasi AI, dengan investasi terjadi dalam "lingkungan kerja yang terdistrupsi".
Meski satu dari empat CEO menyebut ada gelembung investasi, 80 persenperusahaan besar tetap kucurkan dana untuk AI tahun ini.Selama periode akhir Januari hingga pertengahan Februari, KPMG AS melakukan survei terhadap 100 CEO perusahaan besar yang berbasis di AS.
Survei tersebut membahas berbagai topik, seperti adopsi AI, rencana perekrutan karyawan, dan kondisi perekonomian.
Satu dari empat CEO responden survei percaya gelembung investasi AI memang ada. Namun, AI tetap menjadi kategori pengeluaran utama, dengan hampir 80 persen.
Bahkan, CEO responden survei menyebut akan akan mengalokasikan setidaknya lima persen dari anggaran modal mereka untuk AI tahun ini.
Sekitar dua pertiga CEO responden survei mengaku meningkatkan pengeluaran keamanan siber di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang risiko terkait AI.
Enam dari 10 CEO responden survei memprioritaskan pengeluaran AI untuk membangun keterampilan pekerja.
Sekitar setengah CEO responden survei menggunakan dana tersebut untuk mempercepat inovasi dan mengintegrasikan teknologi ke dalam operasi sehari-hari.
Kemungkinan pelatihan AI menjadi kabar baik bagi para pekerja yang khawatir pekerjaannya diambil alih, tapi sekitar satu dari lima CEO responden survei masih memperkirakan akan melakukan pengurangan pekerja selama tahun depan.
Ketika ditanya tentang dampak AI, sekitar setengah CEO responden survei memperkirakan perekrutan yang moderat atau signifikan.
Sementara itu, hanya sembilan persen CEO responden survei yang memperkirakan teknologi tersebut akan mengakibatkan pengurangan pekerja.
Baca juga:
Meski satu dari empat CEO menyebut ada gelembung investasi, 80 persenperusahaan besar tetap kucurkan dana untuk AI tahun ini.AI memungkinkan para pekerja untuk melakukan berbagai kegiatan dengan lebih efektif dan cepat.
Hal itu tidak serta merta berarti perusahaan akan membutuhkan lebih sedikit pekerja, dilansir dari European Central Bank.
Jika sebuah tim memiliki 20 orang sebelum AI, saat ini kemungkinan hanya memiliki 17 orang.
Menurut Walsh, kemungkinan ada lima orang di sisi teknologi yang menangani berbagai tugas, seperti ekstraksi data, analisis, dan transformasi untuk menjalankan AI yang sebenarnya. Secara keseluruhan, hal itu akan membuat tim tersebut berjumlah lebih dari 20 orang.
Hasil survei KPMG AS melaporkan hasil serupa, meski 60 persen di antaranya khawatir tidak akan mampu merekrut pekerja dengan keahlian teknis yang dibutuhkan.
Di luar permasalahan jumlah karyawan, beberapa eksekutif khawatir bahwa AI dapat menghambat pengembangan kepemimpinan.
Kira-kira satu dari tiga CEO responden survei menyebut, berkurangnya kesempatan bagi karyawan yang baru memulai karier untuk membangun penilaian melalui pengalaman sebagai kekhawatiran utama mereka.
Sementara itu, yang lain menunjuk kekhawatiran ketergantungan berlebihan pada AI dalam pengambilan keputusan. Di tingkat lebih rendah, berkurangnya paparan terhadap ambiguitas dan pembelajaran untuk mencoba-coba.
Sebelumnya, European Central Bank (ECB) justru menyebut, tren peningkatan penggunaan AI oleh perusahaan kemungkinan justru menciptakan lapangan pekerjaan.
Berdasarkan survei ECB tentang Access to Finance of Enterprises (Akses ke Pembiayaan Perusahaan), investasi dan penggunaan intensif AI saat ini belum menggantikan pekerja.
Bahkan, beberapa perusahaan justru merekrut karyawan tambahan, kemungkinan karena ingin mengembangkan dan menerapkan teknologi AI sembari mempertahankan proses produksi yang ada.
Kondisi itu mengingat AI diperlakukan sebagai alat untuk membantu perusahaan meningkatkan skala produksi dengan lebih cepat.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya