JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mendorong pengembangan bioetanol dengan campuran tebu, jagung, dan singkong.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi menuturkan, hal itu demi menekan impor bahan bakar minyak (BBM).
Baca juga:
"Jadi (bioetanol) bukan hanya lifting minyak, tetapi lifting minyak nabati. Bioetanol kami dorong, mudah-mudahan jadi satu jawaban untuk kita mengurangi impor, sama dengan kami menginisiasi biodiesel," kata Eniya dalam Launching of The 12th Indo EBTKE ConEx 2026, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2026).
Terlebih, saat ini harga minyak dunia melejit imbas perang Amerika Serikat-Israel versus Iran. Ketiga komoditas tersebut dinilai memiliki potensi produksi yang cukup besar di berbagai daerah di Indonesia.
"Kemarin diputuskan tiga sumbernya yang perlu didorong masif adalah tebu, jagung, dan singkong, itu dulu walaupun sumber lain ada aren, sorgum. Kalau misalnya di satu daerah tertentu memang ada, ayo kita segera bangun pabrik bioetanol-bioetanol di seluruh kawasan di Indonesia," jelas dia.
Baca juga:
Pemerintah menggenjot pengembangkan BBM bersih dari bioetanol di tengah gejolak Amerika Serikat-Israel vs Iran. Dalam kesempatan yang sama, Direktur Proyek dan Operasi Pertamina New & Renewable Energy, Norman Ginting mengakui bahwa konflik geopolitk akibat konflik Amerika Serikat-Israel lawan Iran menunjukkan ketidakpastian stabilitas energi dunia.
Dampak dari gangguan pasokan energi dapat memicu kenaikan harga minyak yang saat ini menyentuh angka di atas 100 dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 1,6 juta) per barel.
"Tentunya situasi ini memberikan pelajaran yang penting bagi kita semua bahwa ketahanan energi tidak boleh bergantung pada satu sumber atau bersumber pada satu kawasan," ucap Norman.
"Karena itu penting untuk meyakini transisi energi yang kita lakukan hari ini bukan hanya sekedar agenda lingkungan, tetapi tentang strategi memastikan kedaulatan energi nasional," imbuh dia.
Program biodiesel yang saat ini sudah mencapai campuran B35 akan terus ditingkatkan hingga B40 dan B50. Sementara itu, bioetanol E5 ditargetkan meningkat menjadi E10 pada 2028.
Norman menjelaskan, pengembangan bioetanol brtujuan meningkatkan ketahanan energi sekaligus mendukung ketahanan pangan.
"Karena apa? Salah satu sumbernya adalah dengan kita mendorong terbentuknya ekosistem bioetanol yang kuat tentunya itu memungkinkan bisa terjadi," tutur dia.
Baca juga:
Ketua umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia saat melakukan wawancara dengan awak media saat dirinya melakukan safari Ramadhan partai Golkar di Pondok pesantren Azzainiyyah Selabintana Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (8/3/2026) malam. Pemerintah menggenjot pengembangkan BBM bersih dari bioetanol di tengah gejolak Amerika Serikat-Israel vs Iran. Diberitakan sebelumnya, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengatakan, kebijakan mandatori bioetanol ditargetkan mulai berlaku paling lambat pada 2028.
"Roadmap (peta jalan)-nya lagi dibuat. Tapi saya pastikan paling lambat 2028 sudah ada mandatori (kewajiban bioetanol). Mungkin 2027–2028, roadmap-nya sebentar lagi selesai,” kata Bahlil dalam konferensi pers, dilaporkan oleh Kompas.com, Selasa (13/1/2026).
Program biodiesel B40 disebut telah menurunkan impor solar secara signifikan dalam dua tahun terakhir. Impor solar pada 2024 tercatat sekitar 8,3 juta ton, kemudian turun menjadi sekitar lima juta ton pada 2025.
Kebutuhan solar Indonesia tercatat sebesar 39,8 juta kiloliter per tahun. Dari jumlah tersebut, program B40 menyumbang pasokan Fatty Acid Methyl Este (FAME) sebesar 15,9 juta kiloliter (kl) per tahun, sehingga kebutuhan solar murni (B0) tersisa 23,9 juta kl per tahun.
Ke depan, pemerintah menargetkan peningkatan bauran biodiesel ke B50. Uji coba B50 ditargetkan rampung pada semester I 2026.
“Insyaallah di semester pertama uji coba B50 selesai, dan di semester kedua kita lihat hasilnya untuk dicanangkan,” tutur dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya