Hanya tujuh dari 72 label produk yang menyatakan bahan pembuatannya. Kemudian, sebanyak 48 label lainnya menyertakan petunjuk pembuangan, seperti "dapat dibuang ke toilet" atau "jangan dibuang ke toilet".
Para peneliti menyimpulkan bahwa banyak konsumen membuang tisu basah yang seharusnya tidak dibuang ke toilet, mengingat banyaknya tisu basah ditemukan di Sungai Don.
Dalam percobaan laboratorium, para peneliti menilai bagaimana tisu basah yang tersedia secara komersial terurai dalam kondisi lingkungan simulasi.
Seperti yang diharapkan, tisu basah selulosa yang diberi label "dapat dibuang ke toilet" terurai paling cepat dan kehilangan massa paling banyak selama enam minggu. Kemudian, diikuti oleh tisu basah polipropilen dan poliester.
Sinar matahari dan air meningkatkan kehilangan massa dibandingkan dengan kondisi kering dan gelap.
Semua tisu basah melepaskan serat mikroskopis selama percobaan, yang menunjukkan bahwa produk itu menghasilkan mikroplastik.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya