Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Lagi Cari Ikan, Nelayan Kini Berburu Sampah Plastik di Sungai

Kompas.com, 18 Maret 2026, 08:16 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sungai Nil di Kairo, Mesir, dahulu dikenal menjadi habitat yang sangat kaya akan keanekaragaman hayati ikan. Berkurangnya populasi ikan membuat nelayan justru mengincar tumpukan sampah botol plastik di sungai terpanjang di dunia tersebut.

Salah satunya dilakukan nelayan bernama Mohammed Ahmed Sayed Mohammed. Sayed mengerahkan perahunya dari Pulau al-Qarsaya menyusuri perairan Nil menuju klub-klub di tepi sungai ibu kota setiap pagi.

Baca juga: 

Padahal, 15 tahun lalu, ia hanya mencari ikan di Sungai Nil.

“Ikan-ikan menghilang karena plastik,” ungkap Sayed dilansir dari The Guardian, Selasa (17/3/2026).

Nelayan tak lagi cari ikan di Sungai Nil, tapi cari sampah

Menikahkan anak dari hasil mengumpulkan sampah

Menurunnya populasi ikan akibat polusi plastik di sungai telah memaksa sekitar 180 nelayan di al-Qarsaya beralih dari penangkap ikan tradisional menjadi pengumpul sampah. Mereka bisa menjual hasil pengumpulan botol bekas ke perusahaan melalui proyek VeryNile milik perusahaan Bassita. 

Dengan begitu, nelayan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dibandingkan dijual ke pabrik daur ulang biasa.

Dulu, Sayed bisa menangkap 25 kilogram (kg) ikan per hari. Namun, saat ini dia hanya membawa empat sampai lima kg ikan yang dijual seharga 70 pound Mesir (sekitar Rp 22.500) per kg.

Sementara itu, mengumpulkan plastik menghasilkan lebih banyak uang lantaran plastik dihargai 33 pound (sekitar Rp 11.000) per kilogram. Kaleng bekas bahkan bisa dijual seharga 85 pound (sekitar Rp 28.000) per kilogram.

Pada musim panas yang sepi, Sayed menyebut mampu mengumpulkan 20 kg plastik per hari. Sementara ketika musim dingin, penghasilannya dari plastik saja bisa mencapai 2.000–3.000 pound Mesir (sekitar Rp 720.000) per bulan.

“Saya menikahkan ketiga anak saya dari hasil mengumpulkan plastik. Saya juga membangun kafe untuk anak sulung saya karena anak-anak saya tidak punya pekerjaan lain," ujar laki-laki berusia 60 tahun itu.

Alami kerusakan lingkungan yang makin parah

Para nelayan di Pulau al-Qarsaya, Mesir, beralih menjadi pengumpul sampah plastik dari Sungai Nil. Kerusakan lingkungan salah satu penyebabnya.iStockphoto/alexandrumagurean Para nelayan di Pulau al-Qarsaya, Mesir, beralih menjadi pengumpul sampah plastik dari Sungai Nil. Kerusakan lingkungan salah satu penyebabnya.

Pulau al-Qarsaya terletak di pusat Kairo, kota berpenduduk 22 juta jiwa. Tempat ini hanya bisa diakses dengan feri atau perahu nelayan.

Komunitas nelayan dan petani di wilayah tersebut menghadapi kerusakan lingkungan yang makin parah.

Para nelayan mengaku dahulu bisa menangkap enam sampai 17 kg ikan, tapi saat ini semuanya bekerja dengan VeryNile mengumpulkan plastik alih-alih hanya mengandalkan menangkap ikan.

Sejak 2018, proyek VeryNile telah mengumpulkan lebih dari 454 ton sampah plastik dari Sungai Nil, yang kemudian diolah di pabrik daur ulang di Kota 6 Oktober. Organisasi ini juga telah membagikan 150 perahu gratis kepada nelayan dan memperluas program ke tiga lokasi, termasuk Assiut.

“Kami bekerja setiap hari dengan para nelayan dan hampir menjalani kehidupan penuh di pulau ini,” ucap Amna Karamallah, yang memimpin tanggung jawab komunitas dalam program tersebut.

Proyek ini juga mempekerjakan 25 perempuan pulau dalam kegiatan dapur, penyortiran, dan desain produk. Mereka mendirikan klinik darurat serta melatih petani menanam sayuran yang kemudian dibeli untuk dapur program tersebut.

Hoda Gamal, salah satu pekerja, mengatakan para nelayan awalnya mengira penurunan hasil tangkapan sebagai hukuman dari Tuhan. Padahal, banyak ikan mati akibat polusi plastik.

“Mereka tidak sadar bahwa mereka menjadi penjaga Sungai Nil dengan mengumpulkan botol dan kantong plastik itu," tutur Gamal. 

Sampah yang dikumpulkan nelayan banyak di antaranya berasal dari kapal pesta di Sungai Nil diolah menjadi berbagai produk daur ulang.

Pulau al-Qarsaya berada tepat di seberang Jalan al-Bahr al-Azam, salah satu jalan utama di Giza, dan dekat dengan obyek wisata Pharaonic Village. Penduduknya sebagian besar bekerja sebagai nelayan dan petani.

Meski berada di pusat kota, pulau tersebut tetap terisolasi dan masih memiliki ruang hijau yang jarang ditemukan di ibu kota. 

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92.000, Isi Daya EV di Rumah Kian Diminati
Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92.000, Isi Daya EV di Rumah Kian Diminati
BUMN
Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Pemerintah
Bappenas Dorong Inovasi Pendanaan untuk Mitigasi El Niño di Tengah Keterbatasan Fiskal
Bappenas Dorong Inovasi Pendanaan untuk Mitigasi El Niño di Tengah Keterbatasan Fiskal
Pemerintah
Dorong Implementasi ESG, Era Transformasi Keberlanjutan Asia Tenggara Dimulai
Dorong Implementasi ESG, Era Transformasi Keberlanjutan Asia Tenggara Dimulai
Pemerintah
Generasi Baru Solar PV Dinilai Lebih Efisien dan Cocok di Iklim Tropis
Generasi Baru Solar PV Dinilai Lebih Efisien dan Cocok di Iklim Tropis
LSM/Figur
Tata Kelola Fiskal Pertambangan Dinilai Cukup Kuat, Transparansi Pajak Masih Jadi PR
Tata Kelola Fiskal Pertambangan Dinilai Cukup Kuat, Transparansi Pajak Masih Jadi PR
LSM/Figur
Tata Kelola Pertambangan Dinilai Masih Rapuh, Berisiko Hambat Daya Saing
Tata Kelola Pertambangan Dinilai Masih Rapuh, Berisiko Hambat Daya Saing
LSM/Figur
Pengaruh Sosial Bisa Jadi Kunci Menghadapi Perubahan Iklim
Pengaruh Sosial Bisa Jadi Kunci Menghadapi Perubahan Iklim
Pemerintah
Lautan Luas Pasang PLTS di Delapan Lokasi untuk Pangkas Karbon
Lautan Luas Pasang PLTS di Delapan Lokasi untuk Pangkas Karbon
Swasta
Bank Dunia Sebut AI Bisa Dongkrak Produktivitas di Negara Berkembang
Bank Dunia Sebut AI Bisa Dongkrak Produktivitas di Negara Berkembang
Pemerintah
Laporan Keberlanjutan Dinilai Masih Rentan Jadi Self-Claim, Verifikasi Independen Minim
Laporan Keberlanjutan Dinilai Masih Rentan Jadi Self-Claim, Verifikasi Independen Minim
Swasta
Pemerintah China Investasi Rp 5,71 Triliun untuk Cegah Bencana Sektor Pertanian
Pemerintah China Investasi Rp 5,71 Triliun untuk Cegah Bencana Sektor Pertanian
Pemerintah
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
LSM/Figur
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat 'Hitung Cepat'
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat "Hitung Cepat"
Pemerintah
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau