KOMPAS.com - Majelis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 21 Maret sebagai Hari Hutan Internasional atau International Day of Forests (IDF) sejak tahun 2012.
Dikutip dari laman resmi United Nations Environment Programme (UNEP), peringatan ini dirayakan sebagai langkah untuk meningkatkan kesadaran pentingnya semua jenis hutan.
Peringatan pertama kali berlangsung pada 21 Maret 2013.
"Pada setiap Hari Hutan Internasional, negara-negara didorong untuk melakukan upaya lokal, nasional, dan internasional untuk menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan hutan dan pepohonan, seperti kampanye penanaman pohon," kata PBB, Sabtu (21/3/2026).
Baca juga: Food Estate hingga Tambang Bikin Hutan Indonesia Makin Tergerus, Ini Laporan IEO 2026
Pada tahun ini, PBB mengusung tema Hutan dan Ekonomi (Forests and Economies) untuk memperingati Hari Hutan Internasional 2026. Sehingga, masyarakat dapat merayakan peran penting hutan dalam mendorong kemakmuran ekonomi.
Hutan dinilai menjadi sumber pendapatan, lapangan kerja, hingga pangan. Selain itu, hutan menopang pertanian keluarga dan komunitas, meningkatkan produktivitas pertanian, serta melindungi daerah aliran sungai yang sehat.
"Dengan banyak negara yang berupaya menuju bioekonomi berkelanjutan, produk hutan menawarkan solusi berbasis alam sebagai pengganti bahan-bahan yang intensif karbon sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru. Hutan sangat penting untuk ekonomi yang sehat, saat ini dan untuk generasi mendatang," tulis PBB.
Kayu dan bambu yang diproduksi secara berkelanjutan dapat digunakan sebagai pengganti terbarukan untuk material yang menghasilkan emisi karbon tinggi seperti baja, beton, dan plastik.
Baca juga: Hutan Mangrove Bisa Kekurangan Oksigen akibat Pemanasan Global
Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan, lebih dari setengah produk domestik bruto dunia yakni sekitar 44 triliun dollar AS (setara Rp 682.000 triliun), bergantung pada alam termasuk hutan.
Sumber daya hutan memangkas biaya produksi air bersih dan, dengan menyimpan karbon serta memoderasi suhu, membantu melindungi perekonomian dari bencana terkait iklim yang dapat menelan biaya miliaran dollar.
Sebanyak 5,8 miliar orang di dunia pun menggunakan produk hutan non kayu yang mencakup makanan, obat, resin, pakan ternak, hingga tanaman hias untuk menhidupi keluarga.
"Berinvestasi dalam konservasi, restorasi, dan pemanfaatan hutan secara berkelanjutan akan membuahkan hasil. Hilangnya hutan itu mahal, menyebabkan erosi tanah, banjir, dampak iklim yang merugikan, dan hilangnya produktivitas yang seringkali jauh melebihi keuntungan ekonomi jangka pendek," sebut FAO.
Adapun sebelum ditetapkan sebagai peringatan internasional oleh PBB, FAO lebih dulu memperkenalkan World Forestry Day pada 21 Maret 1971. Tema itu kemudian dikembangkan menjadi International Day of Forests melalui kerja sama negara anggota PBB, FAO, dan United Nations Forum on Forests (UNFF).
Laporan Global Forest Resources Assessment (FRA) FAO tahun 2025 mengungkapkan, laju deforestasi global melambat dalam satu dekade terakhir. Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu, menjelaskan hutan masih menutupi 4,14 miliar hektar atau sekitar sepertiga dari total daratan dunia.
Di sisi lain, laporan tersebut menekankan hutan masih terancam dengan laju deforestasi mencapai 10,9 juta hektar per tahun, angka yang tergolong tinggi.
FAO menyatakan, tutupan hutan mencakup 4,14 miliar hektar atau 32 persen dari luas daratan global yang setara dengan 0,5 hektar per orang. Hampir separuh hutan dunia terletak di daerah tropis. Sementara, hilangnya hutan atau net loss tahunan turun dari 10,7 juta hektar pada 1990-an menjadi 4,12 juta hektar periode 2015-2025.
Baca juga: 411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Qu mengatakan, laju deforestasi menurun dari 17,6 juta ha pada 1990-2000 menjadi 10,9 juta ha per tahun 2015-2025.
"Namun, laju perluasan hutan baru juga menurun, dari 9,88 juta hektar per tahun 2000–2015 menjadi 6,78 juta ha di 2015-2025," ucap Qu dalam keterangannya, Rabu (22/10/2025).
Dalam laporan lainnya, Global Forest Watch (GFW) mengatakan bahwa Indonesia kehilangan sekitar 11 juta hektar hutan primer lembap pada periode 2002-2024. Selama dua dekade terakhir, luas hutan primer lembap Indonesia menyusut sekitar 11 persen, setara kehilangan 34 persen tutupan pohon dalam periode yang sama.
Hal tersebut terungkap dalam laporan Bencana Bukan Takdir: Banjir Sumatera dan Gagalnya Negara Menjamin Hak Aman Warga Negara yang disusun International NGO Forum on Indonesian Development (Infid).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya