Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Sampah Jadi Berkah, Saat Anak Muda di Kudus Sulap Limbah Jadi Kompos

Kompas.com, 21 Maret 2026, 17:08 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Sampah organik menjadi salah satu permasalahan di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2024, sebanyak 30,65 persen timbulan sampah di wilayah ini tediri dari sisa makanan.

Kini, sampah makanan tersebut diolah kembali menjadi pupuk kompos melalui program Kudus Apik Resik (Kudus Asik), sebuah inisiatif dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) sejak tahun 2022.

Anak-anak muda bergerak untuk ikut mengatasi permasalahan sampah di daerahnya. Program Associate BLDF, Timothy Ariel Saputra, menjelaskan sampah organik diambil langsung dari rumah-rumah di Kudus oleh tim Kudus Asik secara gratis. 

Baca juga: Sampah Puntung Rokok Berpotensi Berubah Jadi Mikroplastik

"Dengan syarat sampah sudah terpilah dari sumber. Sehingga ketika dilakukan pengambilan oleh tim Kudus Asik sudah tidak ada sampah anorganik yang tercampur," ungkap Timothy saat dihubungi, Kamis (19/3/2026).

Pengolahan sampah dilakukan di atas lahan seluas 1,5 hektar dengan kapasitas mencapai 50 ton per hari. Sampah organik difermentasi lalu diolah menjadi pupuk kompos yang melibatkan 48 tenaga kerja.

"Tempatnya kami fasilitasi berupa tempat sampah berukuran 30 liter yang setiap hari ketika kami lakukan pengambilan sudah kami cuci dari lokasi kerja kami. Jadi masyarakat tinggal memilah sampah tersebut, tidak perlu memikirkan biaya dan perawatannya karena semuanya ditanggung oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation," ucap dia.

Dari sinilah Kudus Asik memproduksi kompos yang nantinya dibagikan gratis kepada masyarakat di Kudus. Kompos yang dihasilkan juga digunakan untuk mendukung program penghijauan lingkungan, khususnya di kawasan Muria dan Patiayam. 

Menurut Timothy, Kudus Asik adalah bagian dari lima pilar program BLDF, yakni Terrestrial Planting, Biodiversity Conservation, Marine and Coastal Rehabilitation, Siap Darling, serta Waste Management.

Baca juga: 34 Proyek WtE Dibangun Atasi Darurat Sampah, Green Jobs Terbuka untuk Berbagai Jurusan

Seiring berjalannya waktu, Kudus Asik kini merambah kerja sama dengan 42 Satuan Pelayanan Pengelolaan Gizi (SPPG) untuk mengolah limbah Makan Bergizi Gratis atau MBG di Kabupaten Kudus.

"SPPG yang ada diwajibkan untuk memilah sampahnya, terutama sampah dapur untuk dapat dipisahkan dan nantinya akan diambil oleh tim Kudus Asik setiap hari," tutur Timothy.

BLDF menargetkan edukasi pemilahan sampah dapat menjangkau seluruh masyarakat Kudus terutama ibu rumah tangga. Pemilahan sampah sejak dari sumber dinilai menjadi kunci utama dalam mengatasi persoalan sampah di wilayah ini.

"Kalau sampah tidak terpilah justru akan menyebabkan tempat pembuangan sampah menjadi penuh, karena sampah sampah yang tadinya seharusnya bisa didaur ulang dan dijual kembali terkotori oleh sampah organik," ucap dia.

Ratusan Mitra

Sebelumnya, BLDF membangun Pusat Pengolahan Organik (PPO) di Kudus sejak 2018 lalu. Sampah organik yang dikelola berasal dari 370 mitra mencakup rumah makan, pasar tradisional, masyarakat desa, hotel, korporasi, maupun sektor lainnya.

Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, Director menjelaskan PPO itu berkembang dengan melibatkan generasi muda melalui program Kudus Asik.

"Melalui gerakan digital Kudus Asik diharapkan menjadi motivasi masyarakat Kudus khususnya generasi muda untuk dapat berpartisipasi dalam memilah sampah demi menjaga lingkungannya tetap bersih. Kami berharap keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk memilah sampah bisa menjadi bagian dari keseharian,” kata Mutiara dikutip dari laman resmi BLDF,

Sementara itu, Deputy Program Manager BLDF, Redi J Prasetyo menyampaikan dengan adanya Kudus Asik masyarakat diajak untuk memilah sampah organik. Apabila limbah rumah tangga dipilah dengan baik, maka sampah anorganik yang tersisa bisa dijual ke bank sampah dengan nilai lebih tinggi.

Dari sampah organik yang masuk ke PPO sudah menghasilkan 82.275 meter kubik pupuk organik selama periode 2018-2024. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau