Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Chanel Luncurkan Rencana Transisi Iklim Pertama dan Strategi Net-Zero

Kompas.com, 21 Maret 2026, 18:27 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Rumah mode asal Prancis, Chanel secara resmi meluncurkan rencana transisi iklim pertamanya.

Rencana itu memaparkan strategi perusahaan untuk mencapai deretan tujuan keberlanjutan, mengurangi jejak karbon, serta berinvestasi dalam kemitraan dan inisiatif untuk mempercepat aksi iklim.

Jenama mewah yang dikenal dengan koleksi tangan, wewangian, dan produk kecantikannya ini menargetkan emisi gas rumah kaca nol bersih di seluruh rantai pasokannya pada tahun 2040.

Target itu, mengutip ESG Dive, Selasa (17/3/2026) dinyatakan telah divalidasi oleh inisiatif Science-Based Targets (SBTi) dan selaras dengan Standar Nol Bersih Perusahaan dari SBTi.

Target dekarbonisasi jangka pendek Chanel mencakup pemotongan emisi absolut Scope 1 dan 2 sebesar 50 persen pada tahun 2030, dibandingkan dengan tahun dasar 2021, serta pengurangan emisi absolut Scope 3 sebesar 42 persen dalam jangka waktu yang sama.

Chanel menyatakan tujuannya untuk mencapai target tersebut dengan melakukan dekarbonisasi pada operasionalnya, meminimalkan dampak lingkungan dari produk-produknya, serta berkolaborasi dengan para pemasoknya.

Baca juga: Gen Z Kini Turut Awasi Janji Keberlanjutan Perusahaan

Perusahaan tersebut juga menyebutkan akan menangani sisa 10 persen emisi dengan berinvestasi pada solusi berbasis alam seperti penghapusan karbon.

"Rencana transisi ini memaparkan bagaimana kami menanggapi risiko dan peluang terkait iklim, serta bagaimana kami menargetkan untuk mencapai emisi GRK nol bersih pada tahun 2040,” kata Chief Sustainability Officer Chanel, Kate Wylie.

“Ini termasuk meminimalkan dampak dari material dan kemasan, berkolaborasi dalam distribusi yang lebih rendah dampak serta konstruksi berkelanjutan, dan melakukan investasi selama beberapa dekade pada energi terbarukan untuk menggerakkan operasional kami,” tambahnya.

Emisi Scope 3 mendominasi perusahaan

Meskipun Chanel berhasil menurunkan emisi Scope 1 dan 2 atau emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan, sebesar 22 persen pada tahun 2024 dibandingkan tahun 2021, emisi ini hanya menyumbang 2 persen dari total jejak karbon perusahaan.

Sementara emisi Scope 3 atau emisi tidak langsung yang dihasilkan oleh rantai pasokan perusahaan menyumbang 98 persen dari profil emisi Chanel.

Berdasarkan laporan, total jejak karbon Chanel pada tahun 2024 adalah sebesar 1.123.249 metrik ton setara karbon dioksida (CO2e)

Sebagian besar emisi Scope 3 Chanel atau lebih dari 57 persen berasal dari barang dan jasa yang dibeli, termasuk air, bahan baku untuk produk dan kemasan, media, serta penyelenggaraan acara.

Rencana transisi kemudian mencatat bahwa bahan baku dalam rantai pasokan terus menjadi area fokus utama, seiring upaya perusahaan untuk mengurangi emisi tidak langsungnya.

Baca juga: Cara Perusahaan Hadapi Panas Ekstrem, Pentingnya Investasi Mitigasi dan Kredit Karbon

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
Pemerintah
GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan
GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan
LSM/Figur
Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali
Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali
Pemerintah
Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Swasta
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Industri Plastik Asia Terguncang
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Industri Plastik Asia Terguncang
Pemerintah
Pemerintah Percepat Strategi Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino
Pemerintah Percepat Strategi Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino
Pemerintah
Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia
Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia
Pemerintah
Mengenal 'Micromanagement', Gaya Kepemimpinan 'Tirani' yang Bisa Rusak Sistem Kerja Perusahaan
Mengenal "Micromanagement", Gaya Kepemimpinan "Tirani" yang Bisa Rusak Sistem Kerja Perusahaan
LSM/Figur
Titik Panas Karhutla Kalbar Melonjak di Tengah Ancaman Godzilla El Nino
Titik Panas Karhutla Kalbar Melonjak di Tengah Ancaman Godzilla El Nino
Pemerintah
Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Swasta
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau