Menurut Biggerm, gangguan terhadap pasokan bahan bakar fosil yang disebabkan perang AS-Israel melawan Iran kemungkinan akan memicu lebih banyak pengeboran.
Secara historis, setiap guncangan energi yang dipicu oleh AS selalu diikuti oleh lonjakan pengeboran, terminal LNG, dan infrastruktur bahan bakar fosil baru.
Perang AS-Israel melawan Iran berisiko menanamkan ketergantungan bahan bakar fosil pada generasi berikutnya.
“Ini bukan perang untuk keamanan. Ini adalah perang untuk ekonomi politik bahan bakar fosil, dan orang-orang yang menanggung akibatnya adalah warga sipil Iran dan komunitas kelas pekerja di seluruh dunia," ucap dia.
Para ilmuwan iklim memperkirakan, manusia menghasilkan emisi GRK setara 130 miliar ton CO2 pada Juni 2025 lalu.
Maka dari itu, manusia hanya memiliki peluang 50 persen untuk mencegah pemanasan iklim melebihi 1,5 derajat celsius. Dengan laju saat ini sebesar 40 miliar ton CO2e, anggaran aksi iklim tersebut akan habis pada tahun 2028.
Sebelumnya, perang AS-Israel melawan Iran mengancam kehidupan satwa di Teluk Persia, yang sebenarnya sudah tertekan oleh krisis iklim dan lalu lintas kapal.
Dari dugong hingga penyu menghadapi situasi yang jauh lebih buruk pasca-perang AS-Israel melawan Iran meletus.
Dilansir dari AFP, wilayah Teluk Persia yang rapuh merupakan rumah bagi ribuan spesies laut.
Berdasarkan laporan dari Conflict and Environment Observatory (CEOBS), lebih dari 300 insiden berisiko lingkungan terjadi sejak konflik dimulai, termasuk serangan terhadap kapal tanker minyak.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya