KOMPAS.com - Konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran menimbulkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar lima juta ton karbon dioksida (CO2) dalam 14 hari pertamanya, menurut studi terbaru.
Konflik tersebut menguras anggaran aksi iklim global lebih cepat dan mengubah wilayah tersebut menjadi wilayah dengan kerusakan lingkungan yang dahsyat.
Baca juga:
Kondisi diperparah dengan pesawat tempur, drone, dan rudal menyerang infrastruktur bahan bakar fosil, pangkalan militer, kapal laut, serta area permukiman.
“Setiap serangan rudal adalah pembayaran awal untuk planet yang lebih panas dan tidak stabil, dan semua itu tidak membuat siapa pun lebih aman,” ujar salah satu penulis studi sekaligus direktur penelitian di Climate and Community Institute, Patrick Bigger, dilansir dari The Guardian, Senin (23/3/2026).
Setiap kebakaran kilang dan mogoknya kapal tanker menjadi pengingat bahwa konflik geopolitik ini tidak sesuai dengan planet yang layak huni.
Apalagi, konflik yang memperburuk krisis iklim ini didikte kebijakan luar negeri dengan orientasi kepentingan bahan bakar fosil.
Kehancuran bangunan menjadi unsur terbesar dari perkiraan biaya karbon. Berdasarkan laporan dari organisasi kemanusiaan Iranian Red Crescent, sekitar 20.000 bangunan sipil telah rusak akibat serangan AS dan Israel. Total emisi GRK yang dihasilkannya mencapai 2,4 juta ton setara CO2 ekuivalen (tCO2e).
Selanjutnya, bahan bakar sebagai unsur terbesar kedua, dengan dengan pesawat pembom berat AS terbang dari tempat yang jauh, seperti Inggris bagian barat untuk melakukan serangan udara ke Iran.
Studi ini memperkirakan sekitar 150-270 juta liter bahan bakar dikonsumsi oleh pesawat terbang, kapal, dan kendaraan pendukung dalam 14 hari pertama, yang menghasilkan emisi GRK sebesar 529.000 tCO2e.
Peluncuran gelombang ke-41 serangan rudal Iran oleh Garda Revolusi (IRGC) pada Kamis (12/3/2026), menargetkan aset-aset Israel dan Amerika Serikat di Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait.Studi ini juga memperkirakan, dalam 14 hari pertama perang, sebanyak 2,5-5,9 juta barel minyak telah terbakar dalam perang AS-Israel melawan Iran, yang menghasilkan 1,88 juta ton CO2e.
Bahkan, pengeboman Israel ke empat depot penyimpanan bahan bakar utama telah memicu awan gelap dan hujan hitam di Teheran.
Salah satu penulis studi dari Universitas Energi dan Sumber Daya Alam di Ghana, Fred Otu-Larbi memperkirakan, emisi GRK akan meningkat pesat seiring berjalannya konflik. Khususnya, karena kecepatan penargetan fasilitas minyak yang sangat mengkhawatirkan.
“Kita semua harus hidup dengan dampak perubahan iklim. Berapa biayanya, tidak ada yang benar-benar tahu, itulah mengapa studi seperti ini sangat penting. Membakar emisi tahunan Islandia dalam dua minggu adalah sesuatu yang benar-benar tidak mampu kita tanggung," tutur Otu-Larbin.
Selain itu, emisi GRK yang dihasilkan dari kehilangan empat pesawat AS dan 28 pesawat, 21 kapal angkatan laut, serta 300 peluncur rudal Iran dalam 14 hari pertama perang, sebesar 172.000 tCO2e.
Dalam 14 hari perang, AS dan Israel juga telah menjatuhkan bom ke lebih dari 6.000 target di dalam Iran.
Sementara itu, Iran membalas dengan sekitar 1.000 rudal, 2.000 drone, dan sekitar 1.900 pencegat yang ditembakkan untuk bertahan.
Emisi GRK yang dihasilkan dari amunisi tersebut mencapai 55.000 tCO2e. Jadi, selama dua minggu pertama perang AS-Israel melawan Iran, emisi GRK yang dihasilkan sebesar 5.055.016 tCO2e.
Baca juga:
Rudal Iran saat difoto dari kamp pengungsi Bureij di Jalur Gaza, Palestina, 1 Maret 2026. Perang Iran berkecamuk setelah serangan gabungan Amerika Serikat-Israel menghantam Teheran.Menurut Biggerm, gangguan terhadap pasokan bahan bakar fosil yang disebabkan perang AS-Israel melawan Iran kemungkinan akan memicu lebih banyak pengeboran.
Secara historis, setiap guncangan energi yang dipicu oleh AS selalu diikuti oleh lonjakan pengeboran, terminal LNG, dan infrastruktur bahan bakar fosil baru.
Perang AS-Israel melawan Iran berisiko menanamkan ketergantungan bahan bakar fosil pada generasi berikutnya.
“Ini bukan perang untuk keamanan. Ini adalah perang untuk ekonomi politik bahan bakar fosil, dan orang-orang yang menanggung akibatnya adalah warga sipil Iran dan komunitas kelas pekerja di seluruh dunia," ucap dia.
Para ilmuwan iklim memperkirakan, manusia menghasilkan emisi GRK setara 130 miliar ton CO2 pada Juni 2025 lalu.
Maka dari itu, manusia hanya memiliki peluang 50 persen untuk mencegah pemanasan iklim melebihi 1,5 derajat celsius. Dengan laju saat ini sebesar 40 miliar ton CO2e, anggaran aksi iklim tersebut akan habis pada tahun 2028.
Sebelumnya, perang AS-Israel melawan Iran mengancam kehidupan satwa di Teluk Persia, yang sebenarnya sudah tertekan oleh krisis iklim dan lalu lintas kapal.
Dari dugong hingga penyu menghadapi situasi yang jauh lebih buruk pasca-perang AS-Israel melawan Iran meletus.
Dilansir dari AFP, wilayah Teluk Persia yang rapuh merupakan rumah bagi ribuan spesies laut.
Berdasarkan laporan dari Conflict and Environment Observatory (CEOBS), lebih dari 300 insiden berisiko lingkungan terjadi sejak konflik dimulai, termasuk serangan terhadap kapal tanker minyak.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya