Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ada 3 Spesies Mikroba yang Bantu Hancurkan Limbah Plastik

Kompas.com, 23 Maret 2026, 19:36 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kerja sama tiga spesies mikroba disebut bisa mengurai PAE diethyl phthalate, komponen penting dalam polusi plastik, menurut studi yang terbit di Frontiers in Microbiology.

Sementara itu, jika bekerja sendirian, tidak ada satu pun dari ketiga bakteri tersebut yang mampu mengurangi zat pemlastis, bahan kimia yang ditambahkan ke plastik agar lebih lentur dan tahan lama tapi sering kali sulit diurai secara alami.

Baca juga: 

Dilansir dari IFL Science, Kamis (19/3/2026) ,krisis plastik telah memicu pencarian organisme yang mampu menguraikan berbagai bentuk bahan buatan yang saat ini mencemari daratan dan perairan secara aman.

Begitu banyak jenis plastik yang digunakan secara luas sehingga tidak mengherankan jika beberapa di antaranya ada yang lebih mudah terurai, sedangkan lainnya secara biologis ada yang lebih sulit.

Mencari bakteri pengurai plastik

Apakah jadi solusi untuk semua jenis polusi plastik?

Kerja sama tiga spesies mikroba disebut bisa mengurai PAE diethyl phthalate, komponen penting dalam polusi plastik.freepik Kerja sama tiga spesies mikroba disebut bisa mengurai PAE diethyl phthalate, komponen penting dalam polusi plastik.

Ada kemungkinan pencarian organisme ini terhambat karena hanya fokus pada penemuan satu bakteri spesifik yang mampu memutus ikatan setiap jenis plastik, daripada mencari sekumpulan bakteri yang mampu melakukan tugas tersebut secara bersama-sama.

Dalam rangka menemukan organisme tersebut, Dr. Christian Eberlein dan timnya di Helmholtz Centre punya ide.

Daripada jauh-jauh mencari bakteri pemakan plastik di tempat ekstrem seperti kawah gunung berapi, mereka memeriksa laboratorium mereka sendiri.

Mereka menemukan biofilm yang tumbuh di selang plastik alat laboratorium mereka. Mereka lalu mengambil sampelnya dan mencoba memberinya "makanan" berupa zat DEP atau bahan kimia yang biasa dipakai supaya plastik jadi lentur.

Zat DEP ini berbahaya karena mudah bocor ke alam dan bisa meracuni hewan.

Awalnya, bakteri-bakteri ini kesulitan untuk mengurai plastik. Namun, setelah tim peneliti berkali-kali memindahkan mereka dari satu wadah ke wadah lain, akhirnya terbentuklah sebuah komunitas bakteri yang kompak.

Hebatnya, gabungan bakteri ini bisa melahap habis semua zat plastik (DEP) hanya dalam 24 jam jika suhunya dihangatkan ke 30 derajat celsius.

Hasil pemeriksaan DNA menunjukkan adanya dua jenis bakteri Pseudomonas (putida dan fluorescens), serta satu spesies Microbacterium yang belum pernah dikenal sebelumnya.

Namun, saat dipisahkan, tidak ada satu pun dari ketiga bakteri ini yang mampu melahap zat plastik sendirian, dalam kondisi apa pun yang dicoba oleh tim peneliti.

Tim peneliti menemukan bukti bahwa bakteri Microbacterium bertugas memecah zat plastik menjadi molekul kecil yang menjadi "makanan" bagi bakteri lainnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
Pemerintah
GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan
GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan
LSM/Figur
Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali
Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali
Pemerintah
Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Swasta
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Industri Plastik Asia Terguncang
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Industri Plastik Asia Terguncang
Pemerintah
Pemerintah Percepat Strategi Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino
Pemerintah Percepat Strategi Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino
Pemerintah
Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia
Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia
Pemerintah
Mengenal 'Micromanagement', Gaya Kepemimpinan 'Tirani' yang Bisa Rusak Sistem Kerja Perusahaan
Mengenal "Micromanagement", Gaya Kepemimpinan "Tirani" yang Bisa Rusak Sistem Kerja Perusahaan
LSM/Figur
Titik Panas Karhutla Kalbar Melonjak di Tengah Ancaman Godzilla El Nino
Titik Panas Karhutla Kalbar Melonjak di Tengah Ancaman Godzilla El Nino
Pemerintah
Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Swasta
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau