Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Akademisi IPB University (IPB) menyatakan limbah kelapa sawit memiliki potensi yang besar untuk dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah ekonomi seiring dengan ketersediaan yang melimpah di Indonesia.
Menurut Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB University Yanto Santosa, limbah kelapa sawit dapat diolah menjadi berbagai macam produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus ramah lingkungan melalui penerapan teknologi yang tepat.
"Limbah kelapa sawit memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi. Apabila tidak dikelola dengan baik, limbah kelapa sawit bisa menimbulkan permasalahan yang berdampak pada keberlanjutan lingkungan," katanya sebagaimana dikutip dari Antara, Selasa (24/3/2026).
Baca juga: Harga Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Perlu Dibedakan
Dia menjelaskan pengoptimalan potensi limbah kelapa sawit memiliki beberapa manfaat seperti meningkatkan nilai tambah ekonomi, menciptakan peluang usaha baru, mendukung konsep ekonomi sirkular, hingga menghasilkan energi terbarukan.
Kelapa sawit merupakan komoditas strategis nasional yang menjadi bukti nyata komoditas zero waste atau nihil limbah, lanjutnya, sebagai komoditas zero waste, setiap bagian dari kelapa sawit dapat diolah menjadi beragam produk bernilai tambah untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Pemerintah Indonesia, tambahnya, memiliki peran penting dalam mendorong penerapan konsep zero waste di sektor kelapa sawit guna memanfaatkan seluruh hasil dan limbah produksi sehingga tidak ada limbah yang terbuang dan mencemari lingkungan.
Dikatakannya, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) perlu melakukan kolaborasi dengan berbagai lembaga riset guna mendorong inovasi pengelolaan limbah kelapa sawit di Indonesia.
"Kolaborasi BPDP dengan lembaga riset akan memberikan berbagai manfaat," kata dia dalam keterangannya.
Sementara itu Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung menegaskan pemanfaatan potensi limbah kelapa sawit menunjukkan bahwa industri sawit nasional bersifat zero waste sekaligus menerapkan ekonomi sirkular.
Baca juga: Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Pangkas Signifikan Emisi Industri Penerbangan
Oleh sebab itu, ia tak sepakat apabila disebutkan bahwa kelapa sawit memiliki limbah karena setiap bagian dari tanaman tersebut memiliki nilai ekonomi.
Menurut dia, yang tepat ada produk utama (main product) yakni CPO dan CPKO serta produk sampingan (by product) yang kerap disebut sebagai limbah. Produk samping ini banyak sekali jenisnya yakni mulai dari level kebun sawit hingga ke hilir.
Tungkot menerangkan bahwa hingga kini produk ikutan/sampingan industri sawit tersebut masih dikategorikan sebagai limbah dalam peraturan lingkungan hidup, bahkan sebagian digolongkan sebagai limbah B3.
Penggolongan sebagai limbah tersebut merupakan hambatan untuk komersialisasi karena harus memiliki izin dan perlakuan industri yang khusus.
"Padahal, apanya yang B3 karena semua adalah dari bahan organik," ujarnya.
Baca juga: DMSI Desak Pemerintah Batasi Ekspor Jelantah dan Limbah Sawit
Dia menyatakan jika peraturan lingkungan tersebut dikoreksi maka industri pemanfaatan produk sampingan/ikutan kelapa sawit akan berkembang pesat dan menghasilkan banyak produk bernilai tambah tinggi sehingga memberi dampak positif terhadap ekonomi nasional seperti meningkatkan devisa dan pembukaan lapangan kerja.
"Selain itu, perhitungan emisi (carbon footprint) produk dari sawit akan semakin rendah (low carbon) sehingga industri sawit secara keseluruhan merupakan produk low carbon yang renewable," katanya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya