Penulis
KOMPAS.com - Gelombang panas di laut akibat perubahan iklim bisa memicu pemutihan terumbu karang. Namun, mengapa ada terumbu karang yang cepat pulih setelah rusak, sedangkan yang lainnya mati?
Riset yang dipimpin Subhendu Chakraborty dari Leibniz Center for Tropical Marine Research (ZMT), Jerman, menemukan jawabannya yang diterbitkan di jurnal Journal of the Royal Society Interface.
Baca juga:
"Kami berpendapat, pemahaman komprehensif mengenai pemulihan karang setelah gangguan memerlukan pemeriksaan terperinci terhadap proses rekrutmen, khususnya ketergantungan kepadatan," tulis para peneliti, dilansir dari laman The Royal Society Publishing, Kamis (26/3/2026).
Adapun proses rekrutmen dalam hal ini adalah penambahan individu ke suatu populasi, misalnya dengan reproduksi atau cara lainnya.
Kenapa ada terumbu karang yang cepat pulih setelah rusak dan ada yang mati? Simak hasil riset tentang pola rekrutmen karang selengkapnya. Para peneliti fokus pada proses bernama rekrutmen karang, khususnya saat larva karang menempel di dasar laut. Larva ini kemudian tumbuh menjadi karang dewasa.
Studi ini menemukan bahwa kecepatan pemulihan sangat bergantung pada pola rekrutmen ini.
Setiap spesies karang punya sifat biologis yang berbeda, yang memengaruhi cara mereka menghasilkan keturunan baru.
Ada spesies yang bisa tumbuh cepat meski jumlah induknya sedikit, ada juga spesies yang butuh banyak induk agar bisa berkembang biak, dilansir dari Phys.org.
Saat ini, ekosistem laut menghadapi banyak tekanan berat, antara lain gelombang panas laut yang sangat ekstrem, polusi nutrisi yang berlebihan di air, dan serangan bintang laut mahkota duri yang cukup merusak.
Berdasarkan data Coral Reef Monitoring Network (GCRMN), sebanyak 84 persen terumbu karang dunia sudah mengalami stres akibat panas.
Baca juga:
Kenapa ada terumbu karang yang cepat pulih setelah rusak dan ada yang mati? Simak hasil riset tentang pola rekrutmen karang selengkapnya.
Tim peneliti menggunakan model matematika untuk memecahkan pertanyaan ini. Mereka bekerja sama dengan tim dari Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda, untuk mengamati persaingan antara karang dan alga makro.
Sering kali, jika karang mati, alga akan mengambil alih tempatnya. Chakraborty menuturkan, karang spesies Acropora ternyata punya daya tahan yang hebat.
Mereka bisa bangkit kembali walau hanya sedikit induk yang tersisa. Spesies ini sangat efektif dalam memenangkan persaingan melawan alga.
Namun, tidak semua karang sekuat itu karena banyak spesies lain yang langsung menyerah jika gangguan terlalu berat.
"Dengan kata lain, beberapa spesies lebih mudah menghasilkan anakan karang baru ketika hanya ada sedikit karang dewasa di sekitarnya, sedangkan spesies lain bergantung pada keberadaan banyak karang dewasa di lokasi tersebut," jelas Chakraborty.
Sementara itu, ekolog terumbu karang, Sonia Bejarano menyampaikan, pemulihan karang tidak hanya soal seberapa kuat gangguan yang datang. Sifat biologis dari spesies karang itulah yang sangat menentukan.
"Memilih spesies terumbu karang yang tepat dapat mempercepat upaya restorasi terumbu karang," lanjut Bejarano.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya