KOMPAS.com - Pertumbuhan pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Afrika disebut akan segera berakhir. Sebab, China akan mencabut skema diskon pemasangan panel surya di Afrika, yang bisa menyebabkan harganya jadi lebih mahal.
China akan menghapus potongan pajak pertambahan nilai (PPN) atas ekspor panel surya ke Afrika mulai awal April 2026, tepatnya Rabu (1/4/2026).
Baca juga:
Pada awal tahun 2027, China juga akan secara bertahap menghapus insentif untuk pembuatan peralatan penyimpanan energi atau baterai.
Kebijakan China tersebut akan meningkatkan harga pemasangan panel surya, mengakhiri era PLTS sebagai sumber energi termurah di Afrika.
“Kita kemungkinan akan melihat kenaikan harga panel surya di Afrika karena sebagian besar komponennya berasal dari China. Penghapusan subsidi akan menambah biaya yang sudah ada, terutama jika mempertimbangkan pengiriman, logistik, dan biaya impor lainnya," ujar analis energi bersih Afrika, Wangari Muchiri, dilansir dari Euronews, Kamis (26/3/2026).
Afrika akan membayar semakin mahal untuk berbagai peralatan tenaga surya dibandingkan kawasan lainnya karena biaya transportasi dan volume ekspor yang lebih kecil.
China disebut akan menghentikan skema diskon pajak ekspor panel surya di Afrika. Era panel surya murah akan segera berakhir?Pencabutan subsidi pajak mencerminkan perubahan situasi di China usai persaingan sengit antar produsen yang menekan harga modul surya hingga serendah 0,06 euro atau setara Rp 1.150 per watt tahun 2025, dari 0,22 euro atau setara Rp 4.298.
Harga modul panel surya dari China, yang telah menedorong adopsi PLTS secara global, telah mengakibatkan banyak perusahaan produsen mengalami kerugian besar.
Sejumlah perusahaan China memasukkan potongan PPN ke dalam harga ekspor mereka, yang secara efektif mentransfer subsidi tersebut kepada pembeli luar negeri.
Namun, Negeri Tirai Bambu telah mengurangi pembayaran tersebut seiring dengan upaya mengendalikan kelebihan kapasitas dan beralih ke teknologi yang lebih maju.
Alih-alih guncangan tajam, hilangnya potongan tersebut kemungkinan akan secara bertahap menaikkan biaya, yang menstabilkan harga dasar global untuk panel surya.
“Perubahan-perubahan tersebut signifikan, tapi tidak bersifat bencana. Seluruh ledakan energi surya baru-baru ini dibangun di atas harga murah buatan dari Tiongkok. Era itu sekarang akan berakhir," tutur CEO Asosiasi Industri Tenaga Surya Afrika, John van Zuylen.
Ketika potongan harga struktural dihapus, eksportir biasanya akan menanggung biaya tersebut, menaikkan harga atau mengurangi diskon.
Negara-negara Afrika akan mengalami hal tersebut sebagai konsekuensinya, dengan kenaikan harga secara bertahap.
Baca juga:
China disebut akan menghentikan skema diskon pajak ekspor panel surya di Afrika. Era panel surya murah akan segera berakhir?Dalam skenario kenaikan harga panel surya yang moderat, Muchiri memperkirakan, PLTS masih menjadi energi yang kompetitif di sebagian besar negara di Afrika.
"Meskipun harga panel lebih tinggi, biayanya tetap akan jauh lebih murah daripada alternatif seperti diesel. Hal ini akan sedikit meningkatkan biaya proyek dan mungkin menunda proses konstruksi proyek karena kekurangan rantai pasokan dan perubahan kontrak, penimbunan barang secara besar-besaran, serta kemacetan pengiriman untuk negara-negara yang sangat bergantung pada impor dari China," CEO asosiasi industri Global Solar Council, Sonia Dunlop.
Penyimpanan energi atau baterai PLTS kemungkinan akan menghadapi tantangan terberat seiring dengan penghapusan insentif secara bertahap hingga tahun 2027.
Bagi Afrika, baterai lebih penting daripada panel surya karena penyimpanan energi membuat PLTS dapat diandalkan untuk pengguna di luar jaringan dan sebagai cadangan.
Menurut salah satu pendiri perusahaan riset energi Nigeria, Truva Intelligence, Basil Abia, baterai secara historis memang mahal dan banyak instalasi tenaga surya di Afrika dibangun tanpa menggunakan baterai.
“Baru-baru ini kita mulai melihat lebih banyak sistem yang menggabungkan energi surya dengan penyimpanan baterai,” tutur Abia.
Permintaan akan energi surya, yang kini memasok tiga persen dari pembangkit listrik di Afrika, diperkirakan akan terus tumbuh seiring dengan peningkatan keandalan penyimpanan energi atau baterai.
Sementara itu, ketergantungan yang besar pada peralatan buatan China menggarisbawahi keterbatasan kapasitas manufaktur lokal.
Baca juga: Hingga Akhir 2025, Xurya Kembangkan Lebih dari 300 Proyek PLTS di Indonesia
Ilustrasi panel surya, panel surya atap. Sebelumnya, Afrika mengalami pertumbuhan pemasangan PLTS sebagai sumber energi, tertinggi di dunia.
Lonjakan permintaan energi pada luar jaringan listrik (off-grid) di Afrika terjadi seiring peningkatan penyimpanan energi atau baterai membuat tenaga surya layak dipakai 54 negara di Afrika
Asosiasi Industri Tenaga Surya Afrika (AFSIA) telah melacak pengembangan energi surya di seluruh Afrika dengan metodologi bottom-up sejak tahun 2019, yang mengidentifikasi proyek secara individual di semua segmen.
AFSIA mendokumentasikan lebih 42.000 proyek energi surya, yang mewakili kapasitas kumulatif sebesar 296 Gigawatt peak (GWp).
Berdasarkan Africa Solar Outlook 2026, benua itu mencatat peningkatan kapasitas PLTS terpasang mencapai 23,4 gigawatt atau naik sebesar 26 persen dibandingkan tahun 2024.
"Afrika telah lama dianggap sebagai pasar tenaga surya yang marginal. Laporan Africa Solar Outlook 2026 menunjukkan bahwa persepsi ini tidak lagi mencerminkan kenyataan," kata Kepala Eksekutif AFSIA, John van Zuylen, dikutip dari Down to Earth.
"Tenaga surya sudah jauh lebih luas daripada yang diperkirakan sebelumnya, dan Afrika sekarang mengalami pertumbuhan tenaga surya tercepat dibandingkan wilayah mana pun di dunia," tambah dia.
Baca juga: PLTS Atap di Indonesia, Bagaimana dengan Limbahnya?
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya