BEKASI, KOMPAS.com - Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap termasuk solusi energi terbarukan untuk mereduksi emisi gas rumah kaca (GRK) yang memicu krisis iklim.
Namun, peningkatan pemasangan PLTS atap di Indonesia perlu disertai dengan upaya pengelolaan limbahnya.
"Kami sadar kalau secara jangka panjang, kami juga harus mempertimbangkan limbahnya, karena apabila 90 juta bangunan di Indonesia telah memakai panel surya, barang ini tetap elektronik. Suatu hari nanti akan rusak. Kami harus memikirkan bagaiaman cara mendaur ulang dan mengelola limbah-limbah tersebut," ujar Vice President Operations, Xurya Daya Indonesia, Philip Effendy di Kota Bekasi, Rabu (11/2/2026).
Baca juga:
PLTS atap di pusat perbelanjaan HI Avenue di Kota Bekasi.Peningkatan pemasangan PLTS atap di negara-negara maju diiringi dengan penciptaan ekosistem ekonomi sirkular, dengan mendaur ulang berbagai komponennya.
Menurut Philip, jika dipisahkan satu per satu, semua komponen PLTS atap memiliki nilai yang bisa menggerakkan roda ekonomi sirkular.
Xurya Daya Indonesia, kata dia, akan ikut berkontribusi dalam pengelolaan limbah PLTS atap. Mereka sudah berkolaborasi dengan banyak vendor lain dalam melakukan pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dari PLTS atap.
Ekosistem ekonomi sirkular di Indonesia masih belum berjalan dengan baik. Tempat-tempat untuk mengelola limbah B3 di Indonesia memang sudah ada. Namun, tempat untuk mengembalikan limbah B3 menjadi material dasar yang dapat dipakai lagi belum ada.
"Kami berharap sebenarnya ketika kesempatan itu muncul, ada penyedia yang bisa membantu kami menciptakan ekonomi sirkular ini. Kami tentu sebagai pemberi solusi juga akan memastikan kita kerja sama dan mencari win-win solution dari seluruh PLTS atap," tutur Philip.
Terdapat banyak material bernilai dari PLTS atap yang sudah rusak atau habis masa pakainya, seperti aluminium, tembaga, silika, kasa, dan microchip.
"Jadi kalau dibedah banyak mineral-mineral yang bisa diekstrak dari alat ini ketika di recycle kembali. Cuman memang di Indonesia belum ada ya untuk (mengelolanya agar bisa dipakai lagi. Cuman kalau di tetangga, Singapore, itu Thailand juga sudah ada," ucapnya.
Baca juga:
pentingnya pengelolaan limbah B3 dari panel surya yang rusak di masa depan.
Sebelumnya, menurut Analis Sistem Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan dari Institute for Essential Services Reform (IESR), Alvin Putra Sisdwinugraha, perkembangan PLTS di Indonesia cenderung lebih lambat jika dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
PLTS atap merupakan sektor yang tumbuh cukup tinggi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Kendati demikian, faktor pendorong utama PLTS atap adalah industri.
Banyak industri dan bangunan-bangunan komersial sudah menerapkan standar-standar hijau sehingga PLTS atap dijadikan sebagai sumber energi listriknya.
Adapun Permen ESDM Nomor 2 Tahun 2024 sebenarnya telah meniadakan net-metering (insentif bagi pelanggan rumah tangga). Namun, pertumbuhan PLTS atap tidak berhenti setelah dikeluarkannya Permen ESDM itu.
"Ini menunjukkan bahwa keinginan dari konsumen untuk mendapatkan energi bersih bisa dikatakan terus meningkat," ujar Alvin dalam webinar, Selasa (2/9/2025).
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya