Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Perusahaan pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) PT Xurya Daya Indonesia menyatakan telah merealisasikan lebih dari 300 proyek PLTS hingga akhir 2025.
Proyek tersebut mencakup sistem on-grid maupun hybrid off-grid yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam keterangan resminya, Selasa (3/3/2026), perusahaan menyebut capaian tersebut menjadi bagian dari transformasi strategis yang dilakukan sepanjang 2025, dengan fokus pada penguatan fondasi bisnis dan pengembangan ekosistem industri energi surya nasional.
Baca juga: Meski Punya Dasar Perhitungan, Program 100 GW PLTS Hadapi Tantangan Besar
Managing Director Xurya, Eka Himawan, mengatakan penggunaan PLTS di sektor komersial dan industri kini mulai menjadi bagian dari strategi operasional jangka panjang perusahaan-perusahaan di Indonesia. Ia juga menilai regulasi terkait energi surya semakin memberikan kepastian bagi pelaku usaha.
"Selain memperluas jumlah proyek, Xurya mulai melakukan diversifikasi ke sektor hybrid off-grid dan skema Independent Power Producer (IPP). Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan pasokan energi terbarukan skala besar di sektor industri," jelas dia.
Perusahaan juga menyoroti terbitnya Peraturan Menteri ESDM Nomor 5 Tahun 2025 tentang pedoman perjanjian jual-beli tenaga listrik dari pembangkit berbasis energi terbarukan, yang dinilai memperkuat kepastian hukum bagi proyek-proyek PLTS skema IPP .
Di sisi lain, pengembangan sumber daya manusia menjadi perhatian perusahaan. Sejak 2024, Xurya menjalankan Solar Academy Indonesia (SAI), program pelatihan teknis bagi mitra Engineering, Procurement, and Construction (EPC) lokal. Program tersebut mencakup pelatihan instalasi dan standar keselamatan sistem PLTS, termasuk mitigasi risiko kebakaran.
Hingga 2025, program pelatihan tersebut telah diikuti ratusan peserta dan direncanakan akan diperluas pada 2026 .
Berdasarkan data perusahaan, total kapasitas terpasang proyek PLTS yang dikelola telah melampaui 200 megawatt (MW). Sistem tersebut digunakan oleh lebih dari 100 perusahaan dari berbagai sektor, termasuk manufaktur, logistik, rumah sakit, pusat perbelanjaan, dan kawasan industri .
Baca juga: PLTS Atap di Indonesia, Bagaimana dengan Limbahnya?
Secara kumulatif, proyek-proyek tersebut menghasilkan sekitar 367.118 megawatt hour (MWh) energi bersih per tahun dan diklaim berkontribusi pada penurunan emisi karbon hingga 328.204 ton per tahun .
Memasuki 2026, perusahaan menyatakan akan terus memperluas adopsi energi surya di sektor industri seiring meningkatnya kebutuhan energi rendah karbon di Indonesia .
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya