Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Emisi AS Picu Kerugian Global hingga Rp 155.000 Triliun dalam 30 Tahun Terakhir

Kompas.com, 27 Maret 2026, 09:11 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) disebut menyebabkan kerugian global akibat emisi yang memicu pemanasan global senilai 10 triliun dollar AS (sekitar Rp 155.000 triliun) selama 30 tahun terakhir, menurut studi. Sekitar seperempat dari kerugian ekonomi tersebut ditanggung oleh pemerintah AS. 

“Ini adalah angka yang sangat besar. AS memiliki tanggung jawab besar karena emisinya menyebabkan kerusakan tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di berbagai belahan dunia," kata peneliti studi dari Stanford University, Marshall Burke, dilansir dari The Guardian, Jumat (27/3/2026).

Baca juga:

Amerika Serikat sebabkan kerugian global akibat emisi

Dampak signifikan dirasakan negara berkembang

Menurut studi, emisi karbon Amerika Serikat sejak 1990 lalu menyebabkan kerugian di berbagai negara, termasuk India dan Brasil. Eriana Widya Astuti Menurut studi, emisi karbon Amerika Serikat sejak 1990 lalu menyebabkan kerugian di berbagai negara, termasuk India dan Brasil.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature, tim peneliti mengaitkan nilai ekonomi dengan konsep kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim.

Mereka merujuk pada dampak yang dialami masyarakat karena peningkatan suhu global akibat pembakaran bahan bakar fosil.

"Kami memperkirakan hubungan antara suhu dan output ekonomi menggunakan regresi efek tetap panel pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) terhadap suhu, dengan data dari tahun 1961–2019 menggunakan data iklim ERA5-Land 62 dan data PDB dari Bank Dunia," tulis para peneliti.

Hasilnya menunjukkan, sebagai negara dengan emisi karbon terbesar dalam sejarah, AS menyebabkan kerugian terhadap pertumbuhan ekonomi global yang lebih besar dibandingkan negara lain.

China, misalnya, yang merupakan penghasil emisi terbesar tercatat bertanggung jawab atas kerugian PDB sebesar sembilan triliun dollar AS (sekitar Rp 139.500 triliun) sejak tahun 1990.

Sekitar 25 persen dari penurunan PDB akibat perubahan iklim terjadi di AS. Namun, dampak juga dirasakan secara signifikan negara lain, terutama negara berkembang yang menanggung beban secara tidak proporsional.

Sejak tahun 1990, emisi AS diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi sekitar 500 miliar dollar AS (sekitar Rp 7.750 triliun) bagi India dan 330 miliar dollar AS (sekitar Rp 5.115 triliun) untuk Brasil.

Baca juga:

Didesak biayai kerusakan iklim

Menurut studi, emisi karbon Amerika Serikat sejak 1990 lalu menyebabkan kerugian di berbagai negara, termasuk India dan Brasil. SHUTTERSTOCK/DIANA PARKHOUSE Menurut studi, emisi karbon Amerika Serikat sejak 1990 lalu menyebabkan kerugian di berbagai negara, termasuk India dan Brasil.

Selama ini, negara-negara berkembang mendesak negara kaya yang secara historis menghasilkan emisi terbesar memberikan dukungan finansial agar mereka bisa menghadapi dampak perubahan iklim, seperti gelombang panas ekstrem, banjir, kekeringan, dan gagal panen.

Studi ini menunjukkan bagaimana suhu yang meningkat dapat melemahkan produktivitas pekerja dan membebani sistem kesehatan.

“Jika suhu meningkat sedikit saja, kita melihat bukti historis bahwa pertumbuhan ekonomi melambat,. Apabila efek ini terakumulasi selama 30 tahun, dampaknya menjadi sangat besar. Ini seperti kematian akibat seribu luka kecil. Banyak pihak yang dirugikan padahal mereka tidak menyebabkan masalah," tutur Burke. 

Sementara itu, Gernot Wagner, ekonom iklim dari Columbia Business School, menuturkan emisi masa lalu menumpuk dengan cepat dengan kerusakan yang ditimbulkan terjadi lebih cepat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
LSM/Figur
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Swasta
Prakiraan Cuaca  yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Prakiraan Cuaca yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau