Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kesehatan Jadi Pendorong Utama Tren Diet Berkelanjutan Global

Kompas.com, 27 Maret 2026, 15:04 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber trellis

KOMPAS.com-Hasil riset dari GlobeScan dan EAT menunjukkan bahwa orang-orang lebih mau beralih ke pola makan ramah lingkungan jika alasannya adalah demi kesehatan.

Melansir Trellis, Jumat (20/3/2026) hampir setengah responden yang survei setuju untuk mengurangi makanan olahan seperti sosis atau mi instan.

Selain itu, hampir semua orang yang disurvei merasa penting untuk punya pola makan yang tidak hanya sehat buat badan, tapi juga baik buat bumi.

Namun, dukungan orang-orang terhadap pola makan ramah lingkungan mulai agak berkurang ketika diminta melakukan perubahan yang lebih spesifik.

Hanya sekitar sepertiga (33 persen) responden yang benar-benar mantap untuk memperbanyak makan sayur atau mengubah pola makan demi mendukung kesejahteraan petani.

Baca juga: Pola Makan Termasuk Kunci untuk Cegah Pemanasan Global

Temuan ini menunjukkan bahwa orang sebenarnya terbuka untuk berubah, tapi mereka masih terhambat oleh beberapa hal, seperti harga yang mungkin mahal, ketersediaan produk yang sulit dicari, dan kebiasaan lama yang sulit diubah.

Menariknya, responden masih ragu-ragu apakah pilihan pola makan mereka berdampak pada lingkungan.

Meskipun mayoritas orang (72 persen) setuju bahwa pilihan makanan mereka berdampak pada planet ini, hanya 28 persen yang benar-benar yakin. Bahkan, hampir 3 dari 10 orang menyatakan tidak setuju.

Pemahaman Belum Mendalam

Kesenjangan ini menunjukkan bahwa banyak orang tahu ada hubungan antara makanan dan iklim, tapi pemahaman mereka mungkin belum mendalam.

Riset ini menunjukkan bahwa sebagian besar orang sebenarnya ingin punya pola makan yang sehat sekaligus ramah lingkungan. Mereka juga sadar bahwa apa yang mereka makan berpengaruh terhadap kondisi bumi.

Namun, alasan atau motivasi mereka tidak sama kuatnya.

Baca juga: Penyakit Kronis Meningkat, Makanan UPF hingga Bahan Bakar Fosil Jadi Pemicu

Kesehatan pribadi tetap menjadi pintu masuk utama yang paling ampuh bagi seseorang untuk mengubah pola makannya.

Sementara itu, alasan lingkungan cenderung hanya menjadi alasan tambahan atau bonus saja, bukan pemicu utama yang membuat orang mau bertindak.

Hal ini memberikan pelajaran penting tentang cara kita mempromosikan pola makan ramah lingkungan. Agar orang-orang mau berubah lebih cepat, kita harus menghubungkan isu kelestarian lingkungan dengan hal-hal yang paling mereka pedulikan, yaitu kesehatan, keluarga, dan kualitas hidup mereka sendiri.

Kunci untuk mengubah kesadaran menjadi tindakan nyata adalah dengan membuat manfaat lingkungan dari pilihan makanan kita terasa lebih nyata dan berhubungan langsung dengan keuntungan pribadi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Balai Besar TNBTS Identifikasi Temuan 2 Spesies Anggrek Baru
Balai Besar TNBTS Identifikasi Temuan 2 Spesies Anggrek Baru
Pemerintah
Lowongan Kerja Analis Lingkungan Senior untuk Perusahaan di Qatar, Cek Syaratnya
Lowongan Kerja Analis Lingkungan Senior untuk Perusahaan di Qatar, Cek Syaratnya
Swasta
Ruang Kerja Terbuka Bikin Otak Karyawan Bekerja Lebih Keras
Ruang Kerja Terbuka Bikin Otak Karyawan Bekerja Lebih Keras
LSM/Figur
Kesehatan Jadi Pendorong Utama Tren Diet Berkelanjutan Global
Kesehatan Jadi Pendorong Utama Tren Diet Berkelanjutan Global
LSM/Figur
Air Purifier Disebut Bantu Serap Mikroplastik di Dalam Ruangan
Air Purifier Disebut Bantu Serap Mikroplastik di Dalam Ruangan
Swasta
Indonesia Bisa Andalkan EV untuk Ganti BBM, Apa Industrinya Sudah Siap?
Indonesia Bisa Andalkan EV untuk Ganti BBM, Apa Industrinya Sudah Siap?
Pemerintah
Waspada Keberagaman Semu, Ini Alasan Representasi Minoritas Sering Disalahartikan dalam Dunia Kerja
Waspada Keberagaman Semu, Ini Alasan Representasi Minoritas Sering Disalahartikan dalam Dunia Kerja
LSM/Figur
Orangutan Sumatera Bernama Pesek Melahirkan Anak Ke-7 di TN Gunung Leuser
Orangutan Sumatera Bernama Pesek Melahirkan Anak Ke-7 di TN Gunung Leuser
Pemerintah
Tertarik Kerja di Qatar untuk Spesialis Laporan Keberlanjutan? Cek Lowongan Berikut
Tertarik Kerja di Qatar untuk Spesialis Laporan Keberlanjutan? Cek Lowongan Berikut
Swasta
Harga CPO di Indonesia Bisa Naik Jika Konflik AS-Israel Vs Iran Tetap Lanjut
Harga CPO di Indonesia Bisa Naik Jika Konflik AS-Israel Vs Iran Tetap Lanjut
LSM/Figur
Oxford Policy Management Buka Lowongan Kerja terkait Konservasi di Indonesia, Ini Syaratnya
Oxford Policy Management Buka Lowongan Kerja terkait Konservasi di Indonesia, Ini Syaratnya
Swasta
Emisi AS Picu Kerugian Global hingga Rp 155.000 Triliun dalam 30 Tahun Terakhir
Emisi AS Picu Kerugian Global hingga Rp 155.000 Triliun dalam 30 Tahun Terakhir
LSM/Figur
Bisakah Biodiesel dan Bioetanol Indonesia Jadi Solusi Harga BBM Mahal, Imbas Konflik AS-Israel Vs Iran?
Bisakah Biodiesel dan Bioetanol Indonesia Jadi Solusi Harga BBM Mahal, Imbas Konflik AS-Israel Vs Iran?
LSM/Figur
Ketergantungan Gas Impor ASEAN Bisa Ditanggulangi dengan Tenaga Surya
Ketergantungan Gas Impor ASEAN Bisa Ditanggulangi dengan Tenaga Surya
Pemerintah
Meski Potensial Ganti Minyak Bumi, Sejumlah Bahan Baku Produksi Biodiesel Masih Impor
Meski Potensial Ganti Minyak Bumi, Sejumlah Bahan Baku Produksi Biodiesel Masih Impor
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau