Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konflik AS-Israel Vs Iran, FAO Ingatkan Petani dan Pekerja Migran Bisa Terdampak Parah

Kompas.com, 27 Maret 2026, 19:11 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Organisasi Pangan PBB, FAO, menyampaikan, konflik yang memanas antara Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran menyebabkan gangguan tercepat dan terparah pada arus komoditas global dalam sejarah baru-baru ini.

Kepala Ekonom FAO, Máximo Torero mengatakan, krisis ini berdampak terhadap produksi pertanian dan ketahanan pangan di seluruh dunia. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para petani, tapi juga para pekerja migran.

Baca juga:

“Waktu sangatlah krusial saat ini dan kita sedang berkejaran dengan waktu. Menurut saya, kita harus menemukan solusi secepat mungkin,” kata Torero, dilansir dari laman resmi PBB, Jumat (27/3/2026).

Konflik AS-Israel vs Iran bisa berdampak ke petani

Guncangan ganda akibat pupuk dan bahan bakar

Sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026 lalu, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz anjlok lebih dari 90 persen.

Padahal biasanya jalur laut yang sangat penting ini dilewati setiap harinya dan membawa 35 persen pasokan minyak mentah dunia (sekitar 20 juta barel), 30 persen perdagangan pupuk dunia, 20 persen pasokan gas alam cair (LNG) dunia.

Akibatnya, para petani menghadapi hantaman ganda. Mereka kesulitan karena harga pupuk dan bahan bakar melonjak naik, padahal keduanya adalah kebutuhan paling penting untuk bertani.

Sebagai gambaran, jika harga pupuk naik, hasil panen biasanya akan berkurang atau jadi lebih mahal.

Jika harga bahan bakar (Solar/BBM) naik, biaya traktor dan angkutan hasil panen pun ikut meroket. Inilah yang dimaksud dengan hantaman ganda bagi petani.

Baca juga:

Bagaimana bila konflik berkepanjangan?

FAO menyebut konflik AS-Israel vs Iran memicu gangguan arus komoditas global tercepat. Dampaknya bisa dialami petani dan pekerja migran.PIXABAY/MARTIN FUHRMANN FAO menyebut konflik AS-Israel vs Iran memicu gangguan arus komoditas global tercepat. Dampaknya bisa dialami petani dan pekerja migran.

Jika solusi segera ditemukan, pasar bisa kembali stabil dalam waktu sekitar tiga bulan. Namun, ceritanya akan berbeda jika gangguan ini terus berlanjut.

Untuk skenario jangka menengah, bila jalur laut tertutup selama tiga bulan, dampaknya diprediksi melanda seluruh petani di dunia.

Hal ini akan memicu berbagai masalah yang efeknya paling terasa pada musim tanam berikutnya.

Situasi ini juga bisa memicu persaingan dengan sektor bahan bakar nabati (biofuel), terutama jika harga minyak dunia naik di atas Rp 1,696 juta atau 100 dollar Amerika Serikat (AS) per barel.

Saat harga minyak sangat mahal, bahan bakar dari tanaman seperti jagung atau sawit jadi lebih menguntungkan daripada menjualnya sebagai makanan.

Meskipun ini menguntungkan bagi petani, hal tersebut akan berdampak buruk bagi konsumen karena harga-harga pangan akan melonjak karena stok makanan di pasar berkurang.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Konflik AS-Israel Vs Iran, FAO Ingatkan Petani dan Pekerja Migran Bisa Terdampak Parah
Konflik AS-Israel Vs Iran, FAO Ingatkan Petani dan Pekerja Migran Bisa Terdampak Parah
Pemerintah
Kedokteran Hewan IPB University Tembus Top 100 Dunia
Kedokteran Hewan IPB University Tembus Top 100 Dunia
Pemerintah
CFO Prediksi Dampak AI Terhadap Tenaga Kerja Masih Minim Tahun Ini
CFO Prediksi Dampak AI Terhadap Tenaga Kerja Masih Minim Tahun Ini
LSM/Figur
Bahan Bakar Nabati di Indonesia Terhambat Lahan, Ini Solusi Lain Kurangi Impor BBM
Bahan Bakar Nabati di Indonesia Terhambat Lahan, Ini Solusi Lain Kurangi Impor BBM
LSM/Figur
Balai Besar TNBTS Identifikasi Temuan 2 Spesies Anggrek Baru
Balai Besar TNBTS Identifikasi Temuan 2 Spesies Anggrek Baru
Pemerintah
Lowongan Kerja Analis Lingkungan Senior untuk Perusahaan di Qatar, Cek Syaratnya
Lowongan Kerja Analis Lingkungan Senior untuk Perusahaan di Qatar, Cek Syaratnya
Swasta
Ruang Kerja Terbuka Bikin Otak Karyawan Bekerja Lebih Keras
Ruang Kerja Terbuka Bikin Otak Karyawan Bekerja Lebih Keras
LSM/Figur
Kesehatan Jadi Pendorong Utama Tren Diet Berkelanjutan Global
Kesehatan Jadi Pendorong Utama Tren Diet Berkelanjutan Global
LSM/Figur
Air Purifier Disebut Bantu Serap Mikroplastik di Dalam Ruangan
Air Purifier Disebut Bantu Serap Mikroplastik di Dalam Ruangan
Swasta
Indonesia Bisa Andalkan EV untuk Ganti BBM, Apa Industrinya Sudah Siap?
Indonesia Bisa Andalkan EV untuk Ganti BBM, Apa Industrinya Sudah Siap?
Pemerintah
Waspada Keberagaman Semu, Ini Alasan Representasi Minoritas Sering Disalahartikan dalam Dunia Kerja
Waspada Keberagaman Semu, Ini Alasan Representasi Minoritas Sering Disalahartikan dalam Dunia Kerja
LSM/Figur
Orangutan Sumatera Bernama Pesek Melahirkan Anak Ke-7 di TN Gunung Leuser
Orangutan Sumatera Bernama Pesek Melahirkan Anak Ke-7 di TN Gunung Leuser
Pemerintah
Tertarik Kerja di Qatar untuk Spesialis Laporan Keberlanjutan? Cek Lowongan Berikut
Tertarik Kerja di Qatar untuk Spesialis Laporan Keberlanjutan? Cek Lowongan Berikut
Swasta
Harga CPO di Indonesia Bisa Naik Jika Konflik AS-Israel Vs Iran Tetap Lanjut
Harga CPO di Indonesia Bisa Naik Jika Konflik AS-Israel Vs Iran Tetap Lanjut
LSM/Figur
Oxford Policy Management Buka Lowongan Kerja terkait Konservasi di Indonesia, Ini Syaratnya
Oxford Policy Management Buka Lowongan Kerja terkait Konservasi di Indonesia, Ini Syaratnya
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau