Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan

Kompas.com, 1 April 2026, 11:14 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Auriga Nusantara mengungkapkan, angka deforestasi Indonesia naik 66 persen dari 261.575 hektar pada 2024 menjadi 433.751 hektar di 2025.

Dalam laporan Status Deforestasi Indonesia 2025 (STADI 2025), selama periode 2021–2025 Kalimantan tercatat sebagai wilayah dengan tingkat deforestasi terbesar. Di tahun 2025, luasannya mencapai 158.283 hektar.

"Pada tahun 2025, semua pulau besar di Indonesia mengalami perluasan deforestasi, dengan Papua mengalami peningkatan terbesar sebesar 60.337 hektar dibandingkan tahun 2024," kata Auriga dalam keterangannya, Rabu (1/4/2026).

Peningkatan persentase terbesar terjadi di Jawa yang angka deforestasinya melonjak 440 persen dari 411 hektare pada 2024 menjadi 2.221 hektare di 2025.

Baca juga: Tanaman Pangan Pokok Sumbang 11 Persen Deforestasi Global

Menurut Auriga, deforestasi bulanan di Indonesia 2025 rata-rata 36.146 hektar, dengan periode puncak terjadi pada April dan Oktober, tingkat tertinggi tercatat pada Mei.

Deforestasi tertinggi selama 2025 terjadi di provinsi

  1. Kalimantan Tengah (56.900 hektar)
  2. Kalimantan Timur (47.135 hektar)
  3. Aceh (38.157 hektar)
  4. Kalimantan Barat (31.876 hektar)
  5. Papua Tengah (26.978 hektar)
  6. Sumatera Barat (26.940 hektar)
  7. Sumatera Utara (20.512 hektar)
  8. Kalimantan Utara (19.716 hektar)
  9. Riau (17.812 hektar)
  10. Papua Pegunungan (16.468 hektar)

"Tiga provinsi yang mengalami longsor dan banjir besar di Sumatera bagian utara pada akhir tahun 2025 mencatat peningkatan deforestasi yang drastis yakni Aceh (426 persen), Sumatera Utara (281 persen), dan Sumatera Barat (1.034 persen)," papar laporan Auriga.

Adapun penghitungan dihasilkan melalui kombinasi pemodelan spasial menggunakan citra satelit Sentinel-2 resolusi 10 meter, inspeksi visual, dan verifikasi lapangan.

Baca juga: Akademisi IPB: Deforestasi Picu Ledakan Populasi Nyamuk

Area yang mengalami penggundulan dideteksi menggunakan peringatan deforestasi bulanan Universitas Maryland, kemudian diproses lebih lanjut untuk mencakup wilayah lebih luas. Auriga menggunakan peta tutupan hutan alami milik MapBiomas Indonesia, Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Pusat Penelitian Gabungan Komisi Eropa, dan dataset Ketahanan Hutan Google sebagai referensi.

Selain itu, mengunjungi 49.321 hektar lokasi deforestasi di 38 desa, 28 kabupaten, 16 provinsi Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, serta Papua.

Temuan lainnya menunjukkan lokasi deforestasi menurun dari 2024 sebesar 514 kabupaten/kota menjadi 383 pada 2025. Kabupaten dengan deforestasi tertinggi berada di Kalimantan (Berau, Kutai Timur, Kapuas, Kapuas Hulu, Katingan, Murung Raya, Gunung Mas, dan Bulungan) serta Papua (Sorong dan Merauke), yang mencakup 95.733 hektar atau 22% dari total deforestasi nasional.

"Terkait status penguasaan lahan, 307.861 hektar deforestasi terjadi di dalam kawasan hutan yang dikelola oleh Kementerian Kehutanan, sementara 125.890 hektar terjadi di area penggunaan lain (APL) yang dikelola oleh pemerintah daerah atau pemegang lahan atau konsesi," beber Auriga.

Program ketahanan pangan yang mengalokasikan 20,6 juta hektar kawasan hutan untuk pangan, energi, dan cadangan air disebut menyumbang 18 persen deforestasi nasional. Artinya 78.123 hektar terjadi dalam area yang ditetapkan tersebut.

Penjelasan Kemenhut

Dihubungi secara terpisah, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi menyampaikan Kemenhut menghargai perhatian serta kajian yang dilakukan oleh berbagai pihak termasuk Auriga Nusantara.

”Kami memandang bahwa berbagai data dan analisis tersebut merupakan masukan penting dalam memperkaya perspektif serta memperkuat upaya bersama dalam pengendalian deforestasi,” ungkap Ristianto.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Swasta
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Pemerintah
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Pemerintah
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Pemerintah
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Pemerintah
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Pemerintah
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Pemerintah
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
LSM/Figur
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Pemerintah
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pemerintah
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
LSM/Figur
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Pemerintah
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau