Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah

Kompas.com, 1 April 2026, 12:08 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) global diproyeksikan menguat pada triwulan kedua (Q2) 2026 seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Dalam situasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran, pasar CPO turut terdampak karena biodiesel menjadi lebih kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil.

Berdasarkan laporan Outlook Industri Sawit Indonesia Q2 2026 dari Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), harga rata-rata CPO global pada Maret 2026 tercatat sekitar 1.165 dollar AS atau Rp 19,7 juta per ton.

Harga tersebut diperkirakan terus meningkat pada bulan-bulan berikutnya. Pada April 2026, harga CPO diproyeksikan mencapai sekitar 1.440 dollar AS per ton, kemudian naik menjadi 1.701 dollar AS per ton pada Mei, dan menyentuh 1.783 dollar AS per ton pada Juni 2026.

Kenaikan ini mencerminkan dampak lanjutan dari penguatan harga minyak mentah terhadap pasar minyak nabati global. Selain faktor geopolitik, peningkatan harga juga dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap pasokan minyak nabati yang semakin ketat di tengah naiknya permintaan biodiesel.

Harga Domestik Ikut Terdorong

Di dalam negeri, harga CPO juga diperkirakan mengalami kenaikan, meski tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor kebijakan, seperti harga referensi, pungutan ekspor, dan bea keluar.

Pada Maret 2026, harga CPO domestik tercatat sekitar Rp15.065 per kilogram. Harga ini diproyeksikan naik menjadi Rp18.776 per kg pada April, kemudian meningkat ke Rp21.182 per kg pada Mei, dan berada di kisaran Rp21.392 per kg pada Juni 2026.

Kepala Divisi Riset IPOSS, Dimas H. Pamungkas, mengatakan kenaikan harga ini berpotensi berlanjut jika konflik geopolitik tidak mereda.

“Kalau perang berkepanjangan sampai Juni belum berakhir, harga minyak bisa naik signifikan dan berdampak sistemik pada harga CPO domestik,” ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (26/3/2026).

Pasokan Ketat dan Permintaan Biodiesel

Selain faktor global, harga CPO domestik juga dipengaruhi kondisi pasokan dan permintaan di dalam negeri. Produksi CPO nasional pada Q2 2026 diperkirakan sedikit menurun dibandingkan periode sebelumnya.

Di sisi lain, konsumsi domestik, terutama untuk kebutuhan biodiesel, tetap tinggi. Kondisi ini membuat keseimbangan pasar menjadi lebih ketat.

Dengan demikian, pergerakan harga CPO tidak hanya ditentukan oleh dinamika global, tetapi juga interaksi antara kebijakan ekspor, struktur biaya, serta kondisi supply-demand domestik.

Dalam situasi tersebut, harga CPO menjadi lebih sensitif terhadap perubahan di pasar energi global. Bahkan, tanpa adanya perubahan besar dalam kebijakan seperti mandatori biodiesel B50, tekanan harga tetap berpotensi meningkat.

Ke depan, kebijakan biodiesel yang lebih agresif diperkirakan dapat menjadi faktor tambahan yang memperkuat kenaikan harga, terutama jika penyerapan domestik terus meningkat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Pemerintah
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
LSM/Figur
Narasi Gaya Hidup Hijau Dinilai Berisiko Alihkan Tanggung Jawab Korporasi atas Krisis Iklim
Narasi Gaya Hidup Hijau Dinilai Berisiko Alihkan Tanggung Jawab Korporasi atas Krisis Iklim
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau